#Article

#

Environmental Leadership

Oleh

Hidayat Tri Sutardjo *)

 

Analogi yang paling mudah ketika kita membahas soal kepemimpinan adalah dengan mencermati ketika kita salat berjamaah, bagaimana imam sebelum melaksanakan mengatur shof sebagai bagian dari kesempurnaan salat dan memulainya dengan khusuk dan tumakninah. Apabila imam salah dalam bacaan atau gerakan salat maka makmum akan melakukan “koreksi” sesuai aturan yang berlaku dan seterusnya, apabila imam tidak dapat “dikoreksi” dan sudah melanggar ketentuan sesuai tuntunan, maka makmum bisa menggantikannya. 

Model kepemimpinan nabi Muhammad SAW (prophetic leader) merupakan kepemimpinan profetik yang dijalankan ketika beliau membangun dan membawa masyarakat kepada peradaban baru. Karakter/ahlak beliau hanya mungkin dijalankan oleh pribadi yang meneladani sifat-sifat nabi, yakni shiddiq (jujur), amanah (terpercaya, dapat dipercaya), fathanah (cerdas), dan tabligh (menyampaikan).

Kualitas pribadi sorang pemimpin dan karakter kepemimpinan, yang dilengkapi dengan ahlak yang luhur, dalam hal ini senantiasa mengkaji, mengamalkan dan mengajarkan Al-Qur’an, tentu akan melahirkan suatu bentuk kepemimpinan ideal.

Kini, di tahun menjelang 2024, kita sedang menunggu calon-calon pemimpin baik di legislatif maupun eksekutif untuk melanjutkan perjalanan bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik, adil makmur, sejahtera lahir batin untuk seluruh rakyat Indonesia.

Oleh karena itu, aktivis lingkungan terpanggil dan tergerak untuk turut serta mencari, merencanakan dan melahirkan calon-calon pemimpin yang mujahid, mujtahid, mujadid, negarawan, berjiwa relawan, mengabdi dengan ihsan (tanpa pamrih), melayani dan mengayomi semua orang, baik yang menyukai maupun yang menentangnya, tidak transaksional, berani mengambil keputusan yang tegas, tidak mengumbar janji dan senantiasa menepati janji-janjinya.

Pemimpin seperti ini tentu bukan orang yang memiliki kecerdasan intelektual saja, tetapi tentunya orang tersebut dekat dan patuh kepada ajaran agama (al-Qur’an dan Sunah Rasul). Dengan menggunakan kemampuan profesional dan spiritualitasnya, seorang prophetic leader insya Allah akan mempersembahkan kepemimpinan efektif yang diberkahi Allah SWT.

Menurut Kuntowidjojo (2004) dalam bukunya Islam sebagai Ilmu, mengungkap bagi umat Islam sifat prophetic itu berdasarkan perintah Allah dalam surat Ali Imran ayat 110, yang terjemahannya “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makrif, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah” .

Ada empat hal yang tersirat dalam ayat tersebut, yakni (1) konsep tentang umat terbaik (2) aktivisme sejarah (3) pentingnya kesadaran dan (4) etika prophetic.

Umat Islam menjadi umat terbaik dengan syarat mengerjakan tiga hal, adalah amar makruf, nahi munkar dan beriman kepada Allah. Aktivisme sejarah, maksudnya bekerja di tengah-tengah manusia, bukan mengasingkan diri, meninggalkan kehidupan duniawi. Pentingnya kessdaran bahwa nilai-nilai ilahiah (makruf, munkar, dan iman) menjadi tumpuan Islam. Etika prophetic itu berlaku untuk siapa saja, pribadi, kelompok, dan lembaga/organisasi agar melakukan ketiga hal sebelumnya.

Secara singkat Kuntowidjojo menyebutnya dengan laku humanisasi (memanusiakan manusia), liberasi (membebaskan) dan transendensi atau laku spiritual.

Masalah Lingkungan Hidup

Berbagai permasalahan lingkungan hidup apabila tidak dicari solusinya, maka keberlanjutan kehidupan manusia di bumi akan mengkhawatirkan. Hal ini dikarenakan alam menjadi sumber pemenuhan segala kebutuhan hidup manusia, yaitu penyedia udara, air, makanan, obat-obatan, estetika, dan lainnya.

Secara rinci permasalahan lingkungan hidup menurut Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng (2019) adalah sebagai berikut polusi, perubahan iklim, populasi, penipisan sumber daya alam, pembuangan limbah, kepunahan keanekaragaman hayati, deforetasi, fenomena pengasaman laut, penipisan lapisan ozon, hujan asam, dan rekayasa genetika.

Masalah lingkungan hidup yang pertama adalah polusi atau pencemaran lingkungan hidup. Polusi udara, air dan tanah memerlukan waktu jutaan tahun agar dapat normal kembali. Sektor Industri dan asap kendaraan bermotor adalah sumber pencemaran utama. Logam berat, nitrat dan plastik beracun bertanggung jawab atas berbagai pencemaran yang ada.

Polusi air disebabkan oleh tumpahan minyak, hujan asam, limpasan perkotaan. Di lain pihak, pencemaran udara disebabkan oleh berbagai gas dan racun yang dikeluarkan oleh industri dan pabrik-pabrik serta sisa pembakaran bahan bakar fosil; pencemaran tanah terutama disebabkan oleh limbah industri yang merusak unsur hara dan zat nutrisi di tanah yang penting bagi tumbuhan.

Perubahan iklim seperti pemanasan global adalah hasil dari praktik manusia seperti emisi gas rumah kaca. Pemanasan global menyebabkan meningkatnya suhu lautan dan permukaan bumi sehingga menyebabkan mencairnya es di kutub dan kenaikan permukaan air laut. Ia juga mengubah pola alami musim dan curah hujan seperti banjir bandang, salju berlebihan atau penggurunan. Akibat perubahan cuaca tersebut, produksi pertanian sering mengalami gagal panen dan memperbesar peluang terjadinya kebakaran hutan akibat terjadinya musim kering berkepanjangan.

Populasi manusia di planet ini mencapai tingkat yang tidak berkelanjutan karena menghadapi kekurangan sumber daya seperti air, bahan bakar dan makanan. Ledakan populasi di negara-negara maju dan berkembang yang terus menyebabkan semakin langkanya sumber daya.

Pertanian intensif yang bertujuan untuk meningkatkan produksi makanan dengan menggunakan pestisida justru pada akhirnya menimbulkan masalah baru. Kerusakan itu berupa menurunnya kualitas tanah dan kesehatan manusia.

Penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak bumi bertanggung jawab menciptakan pemanasan global dan perubahan iklim. Secara global, mulai banyak pihak yang mulai beralih menggunakan sumber daya terbarukan, seperti listrik tenaga surya, biogas, mobil tenaga matahari, yang diterapkan oleh negara maju. Walaupun dalam jangka pendek, instalasi peralatan fasilitas teknologi ramah lingkungan ini akan terlihat cukup mahal, tetapi dalam jangka panjang akan sangat murah dibandingkan penggunaan energi fosil dan tidak terbarukan.

Permasalahan lingkungan hidup selanjutnya adalah pembuangan limbah. Hal ini terutama limbah plastik dan sampah perkotaan seperti di Kali Ciliwung di Jakarta atau kota-kota di Indonesia. Selain limbah rumah tangga, limbah dari sektor industri yang sering dibuang ke sungai juga menyebabkan ikan-ikan mati dan hancurnya ekosistem sungai. Padahal sungai-sungai ini penting bagi ekonomi masyarakat dan penting untuk memasok sumber makanan bagi masyarakat. Pembuangan limbah ini akhirnya akan menyebabkan pencemaran laut di indonesia dan merusak ekosistem laut, sumber perikanan. Tidak kalah penting adalah pembuangan limbah nuklir. Pembuangan limbah nuklir memiliki bahaya kesehatan yang luar biasa, terutama akibat radiasi. Plastik, makanan cepat saji, kemasan dan limbah elektronik murah mengancam kesejahteraan manusia. Pembuangan limbah merupakan salah satu masalah lingkungan hidup yang mendesak untuk segera dicarikan jalan keluar

Aktivitas manusia yang menyebabkan kepunahan spesies dan habitat serta hilangnya keanekaragaman hayati. Aktifitas perburuan satwa yang tidak berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan protein manusia, seperti perburuan telur penyu atau kura-kura indonesia yang menyebabkan kura-kura sungai punah. Punahnya spesies berarti punahnya sumber pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Ekosistem, yang menempuh waktu jutaan tahun untuk stabil dan mendukung kehidupan manusia, kini berada dalam bahaya bila ada populasi spesies yang punah atau hilang. Keseimbangan ekosistem terganggu. Kerusakan terumbu karang di berbagai lautan, yang mendukung kehidupan laut yang kaya, menyebabkan ketersediaan ikan di lautan berkurang. Padahal populasi manusia semakin bertambah.

Persoalan lingkungan yang tidak kalah penting adalah deforestasi. Pembukaan hutan untuk pengembangan sektor perkebunan, terutama sawit, menyebabkan pelepasan karbon ke bumi sehingga meningkatkan perubahan suhu bumi. Hutan yang sesungguhnya berperan menyerap racun karbon dioksida hasil pencemaran, kemudian mengubahnya menjadi oksigen, membantu menciptakan hujan, menjadi habitat bagi berbagai jenis satwa yang penting untuk mendukung bagi kehidupan manudia, hancur digantikan tanaman monokulutur. Padahal tanaman monokultur tidak akan mampu berperan seperti hutan di dalam mendukung pemenuhan kebutuhan hidup manusia.

Fenomena pengasaman laut adalah dampak langsung dari produksi berlebihan gas Karbon Dioksida (CO2). Dua puluh lima persen gas CO2 yang dihasilkan oleh manusia. Keasaman laut telah meningkat dalam 250 tahun terakhir. Pada tahun 2100, mungkin meningkat sekitar 150%. Demikian menurut situs global change. Dampak utama adalah pada punahnya kerang dan plankton, sumber makanan ikan. Jika ikan kehilangan makanan, apa yang akan terjadi pada manusia?

Lapisan ozon merupakan lapisan perlindungan yang tak terlihat yang menutupi planet bumi, melindungi kita dari radiasi sinar matahari yang berbahaya. Penipisan lapisan Ozon diperkirakan disebabkan oleh polusi yang disebabkan oleh gas Klorin dan Bromida yang ditemukan di Chloro-floro karbon (CFC). Setelah gas beracun mencapai atmosfer bagian atas, mereka menyebabkan lubang di lapisan ozon, yang terbesar berada di atas Antartika. CFC kini dilarang di banyak industri dan produk konsumen. Lapisan ozon penting bagi manusia karena mencegah radiasi Ultraviolet (UV) yang berbahaya jika mencapai bumi. Ini wajib menjadi perhatian.

Hujan asam terjadi karena adanya polutan tertentu di atmosfer. Hujan asam dapat disebabkan karena pembakaran bahan bakar fosil atau akibat meletusnya gunung berapi atau membusuknya vegetasi yang melepaskan sulfur dioksida dan nitrogen oksida ke atmosfer. Hujan asam merupakan permasalahan lingkungan yang dapat memiliki efek serius pada kesehatan manusia, satwa liar dan spesies air.

Produk makanan, peternakan, pertanian saat ini benyak dihasilkan oleh teknologi rekayasa genetika atau modifikasi genetik. Modifikasi genetik makanan menggunakan bioteknologi disebut rekayasa genetika. Modifikasi genetik dari hasil makanan, secara umum, akan meningkatkan racun dan resiko penyakit bagi menusia. Genetika tanaman atau satwa yang dimodifikasi dapat menyebabkan masalah serius bagi kesehatan manusia serta keseimbangan ekosistem.

Kelemahan lain adalah bahwa peningkatan penggunaan racun untuk membuat tanaman tahan terhadap gangguan serangga atau hama dapat menyebabkan organisme yang dihasilkan menjadi resisten (kebal) terhadap antibiotik. Dengan semakin banyaknya penggunaan teknologi rekayasa genetik maka ini menjadi masalah penting. Cara terbaik dan murah adalah kembali ke teknologi atau produk organik yaitu tidak menggunakan racun kimia dalam produksi pertanian atau peternakan sehingga manusia memiliki asupan makanan dan zat gizi yang sehat.

Ikhtiar Melahirkan Green Leaders

Permasalahan lingkungan hidup di Indonesia, seperti diurai di atas, sangatlah kompleks dan memerlukan perhatian semua elemen bangsa, termasuk generasi muda. Indonesia membutuhkan generasi penerus sebagai pengelola lingkungan hidup ke depan, yang dibekali dengan pengetahuan, Pendidikan/pelatihan, keterampilan dan sikap/perilaku yang baik dan leadership.

Pengetahuan yang dimiliki, teknologi, perilaku serta komitmen juga menjadi faktor penting dalam keberlanjutan dan kualitas interaksi dengan lingkungan hidup dan sumber daya alam. Oleh karena itu, seorang yang menjadi Green Leaders harus memiliki kemampuan dalam menentukan kebijakan yang pro lingkungan dan dapat mempengaruhi serta memobilisasi individu lain dalam organisasi untuk mendukung kebijakan pro lingkungan tersebut. Kualitas lingkungan akan menentukan masa depan, karena akan berdampak terhadap kualitas hidup manusia, seperti ekonomi, ketahanan pangan, energi dan air.

Program-program yang diinisiasi dan dikembangkan Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah dalam dekade akhir ini, senantiasa memiliki sasaran kepada generasi muda baik melalui Ortom-ortom Muhammadiyah maupun Infrastuktur Muhammadiyah yang lain.

Pelibatan infrastuktur Muhammadiyah dirasa sangat penting dan perlu senantiasa dikembangkan secara sisrematis, terencana dan berkelanjutan. Hal ini sesuai Motto MLH yakni “Sejuk bumiku, nyaman hidupku, aman dan tenteram masa depan anak cucuku”.

Sekolah Kader Lingkungan misalnya, program ini  memfasilitasi anak muda (HW/IMM/NA/IPM) sebagai generasi penerus bangsa agar memiliki perspektif keadilan sosial dan lingkungan hidup serta keberpihakan kepada lingkungan hidup dan sumber daya alam.

Program ini ingin menjaring calon pemimpin yang berasal dari beragam latar belakang agar semua segmen dalam masyarakat memiliki calon pemimpin yang punya prespektif green dan keberpihakan nyata bagi penyelamatan dan pelestarian lingkungan hidup dan sumber daya alam.

Sebagai generasi penentu, generasi muda dapat terlibat langsung dalam aksi nyata upaya pelestarian lingkungan. Misalnya, peran dalam Gerakan Shadaqoh Sampah (GSS), generasi muda dapat bergerak bersama-sama menjadi ecopreneur, menerapkan konsep sirkular ekonomi, serta dapat mendorong upaya pengelolaan sampah dan limbah yang berkelanjutan.

Selain itu, generasi muda juga dapat berpartisipasi dengan terus melakukan Gerakan Menanam dan Memelihara Pohon. Tak kalah pentingnya seorang Green Leaders dapat berperan sebagai agent of change. Mereka dapat berperan aktif dalam diskusi terbuka, kampanye melalui media sosial, pengawasan sosial, serta penyampaian informasi dalam pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam.

 

*) Divisi Humas dan Kerjasama MLH PP Muhammadiyah

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018