#

Ahmad Sarwadi

Anggota Majelis Lingkungan Hidup  PP Muhammadiyah

Staf Pengajar Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan FT UGM

 

Sudah menjadi pengetahuan kita semua bahwa kerusakan lingkungan masih terus terjadi bahkan pada beberapa wilayah belum menunjukkan tanda-tanda makin berkurang. Upaya pembangunan atau penataan lingkungkan harus benar-benar diorientasikan untuk kesehatan lingkungan termasuk manusia yang ada di dalamnya. Prinsip harmoni antara aktifitas manusia dalam arti seluas-luasnya dengan lingkungan harus terus diupayakan. Tulisan ini mencoba meilhat peran belajar dari Sunatullah untuk pengelolaan/ penataan lingkungan. 

Belajar dari alam maksudnya adalah kita mempelajari apa-apa yang ada di alam sesmesta ini. Dalam bahasa yang sering kita jumpai kita kenal istilah Sunatullah. Istilah ini sering dimaknai sebagai hukum Allah yang berlaku pada segenap alam dan berjalan secara tetap dan teratur. Sunatulllah juga diartikan sebagai kebiasaan atau cara Allah dalam menyelenggarakan alam. Contoh sunatullah adalah benda kalau jatuh selalu ke arah bawah atau lebih tepatnya ke arah bumi. Hal ini terjadi karena ada gaya gravitasi bumi. Air selalu mengalir dari dari daerah yang lebih tinggi ke daerah yang lebih tingi. Sehingga kita jumpai air sungai mengalir dari pengunngan kemudian ke lembah dan mengalir ke laut atau daerah yang lebih rendah lainnya. Makin besar besar beda ketinggian antar daerah akan terjadi aliran air yang lebih cepat. Sunatullah yang lain adalah tumbuh-tumbuhan mengeluarkan oksigen ketika melalukan proses fotosintesis. Sehingga kita dapat menghirup oksigen dengan lebih leluasa di bawah pohon pada siang hari.  

Fenomena siang dan malam adalah juga merupakan sunatullah tentang keteraturan bumi melakukan rotasi pada sumbunya.  Itulah contoh-contoh sunatullah atau hukum alam. Sunatullah ini juga diterangkan di Al Qur’an, sebagai contohnya adalah sbb.

“Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS Yasiin ayat 39-40).

Para ilmuwan dan pakar-pakar teknologi banyak belajar tentang sunatullah ini. Banyak hikmah dari pentingnya kita mempelajari sunatullah ini yang pertama tentu saja adalah lebih mengenal kekuasaan Allah melalui pemahamaan atas ciptaanNya. Kalau ciptaanNya saja begitu rapi, sempurna, dan bahkan  mengandung kompleksitas yang tinggi maka kita mengerti pastilah yang menciptakan adalah Dzat yang Maha Sempurna yaitu Allah SWT.

Hikmah yang lain dari mempelajari sunatullah adalah dapat sebagai dasar dalam pengembangan  teknologi dan juga teori-teori dalam ilmu pengetahuuan dan juga sebagai dasar dalam upaya penataan lingkungan di bumi ini. Kita mengenal hukun gravitasi, hukum bejana berhubungan, teori fotosintesis semuanya itu adalah karya para ilmuan yang sesunguhnya merupakan penjelasan dari sunatullah-sunatullah di alam semesta ini. Berdasar teori-teori tersebutlah ilmuan atau para pakar teknologi bisa menemukan mesin, peralatan dan juga mempunya konsep-konsep dalam menata lingkungan ini.

Salah satu tugas ibadah kita sebagai manusia kepada Allah disamping melakukan ibadah-ibadah khusus seperti sholat, puasa, zakat dsbnya kita juga ditugaskan oleh Allah SWT sebagai pengelola alam semesta  yaitu sebagai Khalifatullah fil ardh (Srt Baqarah 30). Ini adalah salah satu tugas manusia di bumi ini. Tugas ini diberikan kepada manusia bukan hewan atau malaikat. Dalam melakukan tugas ini manusia membutuhkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan lebih lagi manusia dalam menata lingkungannya atau mengelola alam ini perlu dengan pendekatan yang tidak menimbulkan kerusakan pada bumi ini. Konsep mengelola bumi ini dengan tidak merusak lingkungan merupakan salah prinsip dalam konsep Pembangunan Berkelanjutan. Di dalam konsep desain/ perancangan yang ramah lingkungan juga dikenal dengan pendekatan Eco Design yaitu sebuah desain yang diupayakan meminimalisasi dampaknya pada kerusakan lingkungan yaitu dilakukan salah satunya dengan cara mengintegrasikan proses desain dengan sistem yang terjadi pada alam.

Allah SWT sudah mensinyalir tentang kemungkinan manusia mempunya potensi untuk merusak alam baik sengaja atau tidak sengaja/ bermaksud seperti tercantum dalam ayat berikut:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Rum [30]: 41).

Kondisi saat ini sering kita jumpai persoalan banjir, menurunnya air permukaan, suhu bumi yang makin panas yang diakibatkan pengelolaan lingkunan kita yang kurang baik/ tepat. Penggundulan hutan di area yang terjal seperti di pegunungan jelas ini menyebabkan banjir di musim hujan. Lahan-lahan di perkotaan, permukiman dan juga di pekarangan yang habis untuk bangunan atau perkerasan menyebabkan air hujan tidak lagi masuk ke dalam tanah sehingga menyebabkan air permukaan (sumur-sumur) makin dalam. Adanya polusi utamanya karbon dioksida menyebabkan suhu lingkungan kota menjadi panas apalagi ketika tumbuh-tumbuhan makin berkurang. Tumbuhan-tumbuhan yang menghasilkan oksigen berfungsi juga sebagai pendingin (cooling) lingkungan kita sehingga tercipta iklim mikro yang lebih nyaman.

Kembali kepada pendekatan perancangan yang ramah lingkungan sudah selayaknya kita menata lingkungan baik lingkungan kota, permukiman, rumah dan pekerangannya dengan pendekatan yang ramah pada lingkungan. Sunatullah dari air hujan yang jatuh ke tanah itu masuk ke dalam tanah untuk mengisi cadangan air tanah maka upayakanlah air hujan masuk ke dalam tanah melalui penyediaan ruang terbuka hijau, sumur peresapan air hujan, biopori, juga penyediaan taman dengn  konsep rain gardens dan juga penyediaan kolam-kolam penampung air hujan (retention pools). Kita harus upayakan mengalirnya air hujan yang dipermukaan tanah lebih sedikit (atau sesedikit mungkin) dibandingkan yang masuk ke dalam tanah. Makin banyak air hujan yang masuk ke dalam tanah maka cadangan air tanah akan makin besar. Demikian juga agar lingkungan kita lebih nyaman dari segi iklm mikro perbanyaklah tanaman. Tanaman memberi kita oksigen pada kita, mengkonsumsi karbondioksida dan menurunkan suhu lingkungan. Hal ini terbukti dari upaya kota Tokyo yang memperbanyak ruang hijau melalui roof gardens yang memberi dampak pada menurunnya suhu kota Tokyo.  

Upaya-upaya untuk menata lingkungan yang baik membutuhkan pengetahuan tentang bagimana alam itu bekerja yaitu Sunatullah agar kita dapat melakukan penataan dengan baik, ramah lingkungan. Bila lingkungan rusak pada akhirnya akan merugikan manusia itu sendiri. Ketika kita merawat lingkungan/ alam artinya kita merawat diri kita. Wallahu a’lam.

Yogyakarta, 4 Mei 2020.

Related Article

View More

Comment

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018