#

Oleh:

Hidayat Tri Sutardjo

(Dosen Institut Bisnis Muhammadiyah Bekasi)

 

Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCH) semula merupakan usulan Ideologi Muhammadiyah, tetapi karena dikhawatirkan ada tuduhan sebagai ideologi tandingan negara maka dicarikanlah padanan dari kata tersebut. Kemudian dipilihlah kata Keyakinan dan Cita-cita untuk menggantikan kata Ideologi. Meskipun demikian, keputusan ini tercatat sebagai ijtihad di bidang ideologi dan kemudian disempurnakan di Tanwir Ponorogo tahun 1969. Keyakinan dan cita-cita hidup ini diputuskan, karena sebetulnya setiap yang hidup pasti memiliki sebuah cita-cita, bahkan kita hidup ini harus memiliki sebuah cita-cita, dengan cita-cita kita hidup, dengan cita-cita pula kita berambisi. Tetapi cita-cita tanpa sebuah keyakinan adalah sebuah mimpi belaka. Cita-cita diiringi dengan keyakinan akan memberikan kita ghirah (semangat) dalam mengejar cita-cita kita itu.

Adalah HM Muchlas Rowi, Bendahara BPH IBM Bekasi yang mengungkapkan bahwa Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCH) merupakan rumusan ideologi Muhammadiyah yang menggambarkan tentang hakikat Muhammadiyah, faham agama menurut Muhammadiyah dan misi Muhammadiyah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

MKCH tersebut dirumuskan menjadi 3 kelompok, pertama, mengandung pokok-pokok persoalaan yang bersifat ideologis, yaitu diantaranya Muhammadiyah adalah gerakan Islam dan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, berakidah Islam, bersumber Al-Qur’an dan Sunnah, bercita-cita dan bekerja untuk terwujudnya masyarakat yang utama, adil makmur diridhai Allah SWT.

Kelompok kedua mengandung persoalan mengenai faham agama menurut Muhammadiyah, yaitu Muhammadiyah mengamalkan Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, serta bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam.

“Kemudian, kelompok ketiga yaitu mengandung persoalaan mengenai fungsi dan misi Muhammadiyah dalam masyarakat Negara RI, yaitu Muhammadiyah mengajak seluruh masyarakat untuk berusaha bersama-sama menjadikan suatu Negara yang adil makmur dan diridhai Allah SWT,” tegas Kang Rowi, Ahad (17/5) dalam Baitul Arqom Online IBM Bekasi.

Sementara itu, Muhammad Edward Lukman, mantan Ketua PCIM Australia dalam kesempatan yang sama menegaskan bahwa Surat An Nahl ayat 125 dinyatakan bahwa “Ajaklah -wahai Rasul- kepada agama Islam, kamu dan orang-orang beriman yang mengikutimu dengan cara yang sesuai dengan keadaan objek dakwah, pemahaman dan ketundukannya, melalui nasihat yang mengandung motivasi dan peringatan, debatlah mereka dengan cara yang lebih baik dari sisi perkataan, pemikiran dan pengkondisian. Kamu tidak bertugas memberi manusia hidayah, akan tetapi tugasmu hanya menyampaikan kepada mereka. Sesungguhnya Rabbmu lebih mengetahui siapa yang tersesat dari agama Islam dan Dia lebih mengetahui siapa yang mendapatkan petunjuk, karena itu jangan sia-siakan dirimu dengan kesedihan mendalam atas mereka. Oleh karena itu, dalam berdakwah itu tidak hanya konten/isinya saja tetapi penyampaian agar bisa diterima oleh subyek/obyek dakwah harus mendapat perhatian khusus”.

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu) Jalan Allah yakni agama Islam. بِالْحِكْمَةِ(dengan hikmah) Yakni dengan ucapan yang benar dan mengandung hikmah. Pendapat yang lain mengatakan dengan bukti-bukti yang menimbulkan keyakinan. وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ(dan pelajaran yang baik) Yakni ucapan yang baik dan indah bagi pendengarnya yang meresap ke dalam hati sehingga dapat meyakinkannya dan menjadikannya mau untuk mengamalkannya. وَجٰدِلْهُم بِالَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ( dan bantahlah mereka dengan cara yang baik) Yakni dengan cara terbaik dalam berdebat. إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ(Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya) Allah menjelaskan dalam ayat ini bahwa petunjuk dan hidayah bukan urusan Nabi namun urusan Allah semata. وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ(dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk) Yakni orang-orang yang mencari kebenaran kemudian menerimanya tanpa keras kepala.

Hal inilah yang kemudian dicoba dijalankan di Australia, di negara yang minoritas, walau dengan tantangan yang tidak ringan tetapi dilakukan secara sabra, ikhlas dan syukur. Terutama konsen utama adalah pengajaran “metode berpikir”. Peserta diajari langsung pegamatan di lapangan, misalnya dengan melaksanakan beternak kambing, dari mulai pemberian makan, pembersihan kendang, sampai kepada bagaimana memasarkan dagingnya, tandas Edward.

“Berikan pseserta didik sedikit tetapi mendalam dalam menyelesaikan kasus-kasus dalam kehidupan, berikan mereka itu pendalaman terhadap kasus-kasus dimaksud dan selesaikan dengan tuntas. Sehingga peserta didik itu siap untuk berfikir dan siap  menganbil risiko”, ujar mantan Ketua PCIM Australia.

Materi berikutnya adalah Dr. Fetrimen Zubir, M.Pd, Sekretaris BPH IBM Bekasi, Metodologi pemikiran Islam dalam Perspektif Muhammadiyah, materi ini menarik dan sangat filosofis. Dengan kata lain, dapat dipahami bahwa dalam pemikiran-pemikiran Islam itu adalah bagaimana mencari atau menggali atau menemukan atau melakukan pendekatan, merumuskan langkah-langkah, mekanisme dan prosedur dalam persepektif Muhammadiyah. Kehadiran Muhammadiyah bukanlah membentuk ajaran dan peradaban baru tetapi memurnikan ajaran Islam atau Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Langkah-langkah KH A. Dahlan melalui perbaikan-perbaikan dalam bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam yang meliputi bidang-bidang:

  1. Aqidah

Muhammadiyah bekerja untuk tegakanya aqidah Islam yang murni bersih dari gejala-gejala syirik, bid’ah dan khurafat tanpa mengabaikan toleransi menurut ajaran Islam.

  1. Akhlaq

Muhamamdiyah bekerja untuk tegaknya akhlaq mulia, berpedoman AlQuran dan Sunnah tidak bersendi kepada nilai-nilai ciptaan manusia.

  1. Ibadah

Muhamamdiyah bekerja untuk tegaknya ibadah yang dituntunkan Nabi Muhammad SAW tanpa tambahan dan perubahan dari manusia.

  1. Muamalah Duniawiyah

Muhamamdiyah bekerja untuk terlaksananya mu’amalat duniawiyah (pengolahan dunia dan pembinaan masyarakat) berdasarkan ajaran agama serta menjadi semua kegiatan dalam bidang ini sebagai ibadah kepada Allah SWT.

Cita-cita ideal yang ingin diwujudkan Muhammadiyah terkandung dalam rumusan maksud dan tujuan, yakni “menegakan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”. Sering muncul pertanyaan seputar makna atau kandungan isi dari maksud dan tujuan Muhammadiyah tersebut. Apakah yang dimaksudkan dengan kalimat “menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam” itu? Apa pula, dan ini lebih sering dipertanyakan, yang dimaksud dengan “masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” itu? Dua pertanyaaan yang elementer, tetapi memang sangat penting untuk diketahui dan dipahami khususnya oleh anggota Muhammadiyah. Guna menjawab pertanyaan tersebut, pertama-tama perlu diketahui konteks lahirnya perumusan maksud dan tujuan Muhammadiyah tersebut dan yang kedua substansi atau isinya dengan merujuk pada pemikiran-pemikiran yang berkembang dalam Muhammadiyah.

 

*) tulisan ini adalah catatan penulis dalam mengikuti Baitul Arqom IBM Bekasi.

Related Article

View More

Comment

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018