#

Oleh

Muhjiddin Mawardi

 

Tanah gambut mempunyai sifat fisika yang khas yaitu berat isi (bulk density) yang rendah sehingga kapasitas simpan air dan udaranya sangat tinggi, akan tetapi kemampuan lahan menyimpan atau menahan air sangat rendah. Tanah gambut bersifat layaknya busa. Tanah gambut dengan demikian merupakan tanah yang cepat mengalami pengeringan, akan tetapi, laju pembasahan dan pengeringannya tidak sama, bahkan bersifat tidak dapat balik (irreversible drying). Bahan penyusun utama lahan gambut adalah sisa tanaman yang sedang mengalami proses dekomposisi lanjut, sehingga dalam keadaan kering lahan gambut merupakan bahan yang sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan. Jika lahan gambut terbakar, maka api akan merambat meluas ke bagian-bagian yang kering seperti api dalam sekam, yang ditandai dengan adanya asap yang mengepul.

Tanah gambut mempunyai kemampuan  rendah dalam menahan beban, sehingga  laju subsiden (penurunan permukaan tanah) cepat jika kehilangan air (lengas) dan sifat mengering tidak dapat balik. Oleh karena itu jika air yang dikandung oleh lahan gambut teratus dan gambut mengering, maka lahan gambut akan sulit untuk dibasahi kembali . Lahan gambut dalam keadaan kering sangat mudah terbakar karena kandungan karbonnya yang sangat tinggi. Karbon disamping oksigen merupakan bahan utama terjadinya proses pembakaran.  

Karakteristik kimia tanah gambut di Indonesia sangat beragam dan ditentukan oleh kandungan mineral, ketebalan, jenis tanaman penyusun gambut, jenis mineral pada substratum (di dasar gambut), dan tingkat dekomposisi gambut. Gambut yang ada di Sumatera dan Kalimantan pada umumnya didominasi oleh bahan kayu-kayuan. Oleh karena itu komposisi bahan organiknya sebagian besar adalah lignin yang umumnya melebihi 60% dari bahan kering, sedangkan kandungan komponen lainnya seperti selulosa, hemiselulosa, dan protein umumnya tidak melebihi 11%. Tanah gambut bereaksi masam (pH rendah) karena kandungan asam alifatik dan fenolat yang tinggi. Sebagian besar asam ini bersifat racun bagi sebagian besar tanaman, sehingga hanya beberapa macam tanaman saja yang mampu tumbuh di lahan gambut.

Cara pengendalian kebakaran konvensional dengan menyiramkan air di permukaan lahan dan menebah api dengan ranting-ranting pohon hanya efektif untuk kebakaran hutan dan lahan gambut skala kecil dan meliputi areal yang tak terlalu luas. Cara demikian tidak akan berhasil untuk kebakaran lahan hutan dan lahan gambut yang sudah meluas. Demikian pula cara lain dengan membuat kanal-kanal dan kolam air (embung) dengan tujuan untuk membasahi lahan gambut. Cara demikian justru sebaliknya akan memperbesar potensi kebakaran lahan gambut,  karena beberapa sebab berikut : 1) kanal dan embung yang dibuat tidak akan terisi air karena elevasi muka air lebih rendah daripada elevasi muka tanah, kecuali untuk daerah yang berdekatan dengan sungai atau kanal yang terpengaruh oleh gerakan air pasang-surut laut. 2) kanal-kanal dan embung yang tak ada airnya ini justru akan berperan sebagai kanal drainasi (pengatusan) yang akan mengatus air yang dikandung oleh lahan gambut di sekitarnya. Akibatnya lahan gambut akan kehilangan air bahkan akan mengalami keadaan lewat kering (over drained). Gambut yang sudah mengalami pengeringan ini akan sulit untuk dibasahi kembali karena bersifat irreversible,  walaupun disiram air atau terjadi hujan. Tanah gambut yang kering ini disamping akan  mengalami subsiden juga sangat mudah terbakar, sehingga dikawatirkan akan memperluas lahan gambut yang terbakar dan akan lebih sulit lagi untuk dipadamkan. 3) kanalisasi dan pembuatan embung di samping membutuhkan biaya yang sangat besar dan waktu yang lama, juga bertentangan dengan kaidah pengelolaan ekosistem lahan (gambut) yang benar.  Disamping itu cara tersebut melanggar/ bertentangan dengan PP No.71 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Ekosistem Lahan Gambut.

Related Article

View More

Comment

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018