#

Oleh

Dr. M. Nurcholis

Tema yang diangkat dalam Rakorwil MLH PWM Jawa Timur, Bali, NTT dan NTB yang berlangsung di Lombok Timur (4-5 Mei 2019) adalah Gerakan Muhammadiyah Berkemajuan Mengelola lingkungan Hidup.  Tema ini sangat berat tetapi sangat aktual bagaimana mengelola lingkungan hidup dengan permasalahan yang semakin besar dan berat. 

Istilah “Berkemajuan” jika dikaitkan dengan gerakan, mengandung arti lebih dari sekedar maju. Kata Maju sendiri sudah mengandung konotasi dinamis, lalu ditambah imbuhan ber- dan akhiran –an maka “Berkemajuan” bukan lagi sekedar maju, namun disertai dengan proses, Jika dibuat garis dia tidak rata, namun mendaki ke atas. 

Menurut M. Nurcholis, Wakil Ketua MLH PP Muhammadiyah menegaskan bahwa “Permasalahan lingkungan hidup semakin kompleks dan memunculkan berbagai macam bencana yang berbasis lingkungan, dan penyebabnya yang utama adalah kita semua, baik kita sadari atau tidak, atau bahkan yang lebih parah adalah sadar tetapi terus mengulangi perbuatan yang salah dan munkar”.

Lebih lanjut, dosen UPN Yogyakarta ini menandaskan bahwa “Bumi yang merupakan salah satu planet yang dapat dihuni oleh makhluq yang namanya manusia ini sedang sakit, hal ini diakibatkan oleh terjadinya berbagai kerusakan lingkungan yang sangat luas dan massive.  Sebagai akibatnya adalah munculnya perubahan iklim dan bencana yang membahayakan bagi kehidupan  makhluq yang tinggal di dalamnya, termasuk manusia”. 

Bencana dapat dikategorikan menjadi dua, berdasarkan penyebabnya, yaitu: bencana alam, dan bencana yang disebabkan (natural disaster), oleh aktivitas manusia (anthropogenic disaster). Bencana yang diakibatkan oleh manusia (anthropogenic disaster) ini sangat kompleks dan secara kuantitas semakin bertambah. 

Sebagai indikator yang dapat kita lihat dan rasakan bersama adalah bencana banjir yang semakin besar dan meluas di berbagai wilayah, baik yang berupa genangan maupun banjir bandang yang sangat membahayakan.  Erosi terjadi karena semakin redahnya persentase tanah yang berfungsi sebagai material di permukaan bumi yang mampu menginfiltrasikan air; dan semakin rendahnya tutupan lahan untuk mengerem laju run offTanah longsor yang semakin luas dan mengancam jutaan manusia yang tinggal dan mengusahakan lahan untuk penghidupan. Kekeringan yang semakin meluas dan durasinya yang semakin panjang.  Sungguh aneh, kita hidup di negeri yang dengan curah hujan rata-rata tahunan yang cukup, namun air yang datang diusir. Krisis pangan karena alih fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian yang massive dan sulit dibendung. Krisis energi yang diakibatkan oleh pesta penggunaan energi dari fosil yang terus berlangsung untuk memenuhi keinginan manusia untuk meningkatkan kenyamanan, dan juga populasinya semakin bertambah.  Kerusakan tanah yang diakibatkan oleh perilaku manusia yang dengan sengaja atau tidak telah menyebabkan perusakan tanah sehingga menurunkan ke lima (5) fungsi tanah, yaitu: sebagai pendukung kegiatan biologi, fungsi sanitasi, fungsi pengaturan air, pendaur unsur hara, dan sosial ekonomi. Kerusakan dan kepunahan spesies tumbuhan dan hewan tertentu karena tidak adanya ruang dan bahkan pemusnahan biota karena keserakahan manusia lewat pembakaran lahan dan pembukaan hutan dengan alasan kepentingan pembangunan. Ledakan hama dan penyakit tanaman dan hewan akibat perubahan ekosistem yang harmoni dengan keanekaragaman hayati tinggi dengan ekosistem yang serba mono spesies bahkan mono varietas untuk mengejar keuntungan semata. Ledakan sampah di seluruh wilayah, di halaman rumah, jalan kampung, perkampungan, arena pesta, perhelatan bernuansa politik yang kurang bermartabat, dan masih banyak lagi kegiatan yang sepertinya manusia hidup berdampingan dan berharmoni dengan sampah.  Sungguh sangat memalukan, sebagai bangsa yang bermartabat dan menjunjung tinggi Pancasila khususnya sila kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab.   

Perubahan iklim merupakan permasalahan lingkungan yang mengglobal karena ulah manusia yang semakin jauh dari keimanan dan ketaqwaan kepada Allah dan diganti dengan kekufuran dan ketamakan dalam mengeksploitasi alam.  Hasilnya adalah emisi gas rumah kaca yang semakin tidak terkendali dalam hal laju dan total besarannya.  Perubahan iklim yang terjadi telah terasa oleh kita dalam berbagai aspek, kearifan lokal dalam hal pranata mangsa sudah sulit berlaku, juga terjadinya hujan ekstrim deras dan suhu udara yang tinggi di kawasan tropika.  Mencairnya es kutub menghantui dunia, namun ada kalangan yang memanfaatkan untuk kajian dan mengarah pada eksplorai sumberdaya alam di kawasan yang tadinya merupakan es, kemudian menjadi cair sehingga mempermudah untuk kegiatan tersebut.  Inikah yang kemudian salah satu ciri ketamakan?  Allahu a’lam bisshawab.

Dengan demikian, lengkaplah bentuk-bentuk kerusakan bumi ini sebagai habitat bagi kehidupan makhluk hidup ini.  Belum lagi dengan permasalahan yang muncul akibat dari bencana alam yang memang disebabkan oleh dinamika yang terjadi dari planet bumi, ini seperti bencana geologi berupa gempa bumi, volkanisme, dan tsunami. 

Pada saat gempa dihubungkan dengan potensi tsunami, setelah itu gempa dengan likuifaksi, namun kemudian volkanisme ternyata juga berhubungnan dengan tsunami. Sebagai makhluk Allah yang dikaruniai kekuatan fikir, namun tumpul di hati.  Kita sudah tahu dahsyat nya dan bahayanya dari bencana geologi tersebut, namun sudah ikhlas kah kita untuk secara suka rela menghindar?

Sering kali yang disalahkan adalah Tata Ruang, mestinya yang paling penting adalah Tata  Hati, menata hati kita masing-masing.  Kita perlu menyadari bahwa secara geografis Negara Kesatuan Republik Indonesia berada pada kawasan rawan bencana sehingga diperlukan penataan ruang yang berbasis mitigasi bencana sebagai upaya meningkatkan keselamatan dan kenyamanan kehidupan dan penghidupan.  Inilah yang merupakan salah satu poin yang dipakai sebagai pertimbangan dalam menyusun UU Nomor 26 tahun 2007 tentang Tata Ruang.

Penanganan masalah lingkungan tidak dapat selesai hanya dengan seminar atau diskusi yang lebih ke ranah teoritis. Karena sudah banyak kegiatan semacam itu dilakukan di lingkungan akademisi dengan mencurahkan serangkaian teori.  Namun pembahasan banyak ditujukan pada aspek teori yang sudah berkembang selama beberapa dekade.  Sehingga apa yang harus dilakukan?

Peran Muhammadiyah

Secara instansional, Muhammadiyah mempunyai kelembagaan yang sudah berumur satu abad, jauh sebelum negeri kita tercinta ini berdiri.  Berbagai pengalaman manis pahit, suka duka, dan dukungan-hambatan, dan lain sebagainya telah dilalui dengan prinsip tawa shoubil haq tawa shoubisshobr. Pengembangan organisasi Muhammadiyah sudah menyeluruh terlayani sampai pelosok negeri, dan bahkan sudah banyak Cabang Luar Negeri.  Aspek sumberdaya manusia, Muhammadiyah didirikan Kyai Dahlan dengan mementingkan dan mengedepankan pendidikan dan kesehatan.  Sehingga sudah dapat diperoleh slogan di dalam tubuh yang sehat dapat diperoeh akal yang sehat.  Sekolah dan PKO sudah dikembangkan sehingga merupakan yayasan terbesar di dunia yang mengurusi pendidikan dan kesehatan.  Dalam struktural hirarki pusat sampai ranting, terbangun hubungan yang hirarki dan harmoni, sehingga segala keputusan pusat dapat diakses dan dilaksanakan secara berjenjang sampai ranting.  Sumberdaya lahan yang dimiliki Muhammadiyah berasal dari sumbangan dan wakaf yang terdokumentasikan secara legal, dapat dimanfaatkan untuk berkiprah sebagai organisasi gerakan.  Sumberdaya finansial diperoleh dari keaktifan Organisasi dalam penggalangan dana untuk bergeraknya organisasi. Kemudian yang sangat penting adalah jati diri Muhammadiyah yang tidak berafiliasi dengan salah satu kelompok atau partisan politik, sehingga pergerakan Muhammadiyah lebih leluasa di semua golongan.

Dengan berbekal enam aspek atau modal tersebut maka Muhammadiyah mampu berkiprah dalam amar ma’ruf nahi munkar.  Termasuk mengajak kebaikan dalam mengelola lingkungan di seluruh pelosok negeri.  Mencegah kemungkaran yang berakibat kerusakan dan degradasi kualitas lingkungan.  Dengan koordinasi yang bersifat hirarkis ini, MLH PP Muhammadiyah mengajak peran aktif untuk regional Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur dan Bali untuk memotret permasalahn lingkungan di regional ini.  Kemudian dilakukan screening yang mengarah pada skala prioritas yang didasarkan urgensi permasalahan dan kemampuan dari masing-masing wilayah.  Dengan berbekal pada kekuatan yang dimiliki Muhammadiyah, maka kita harus melakukan gerakan pencerahan dan penyadaran.  Dengan gerakan yang berbasis pendidikan dari PAUD sampai Perguruan Tinggi, gerakan di setiap ranting, yang terkoordinir, terstruktur, dan massive akan menghasilkan perubahan dalam pola fikir untuk generasi yang akan datang.  Pengalaman negeri Norwegia yang mampu mengubah perilaku masing-masing individu dari tukang penebar sampah menjadi pengelola sampah memerlukan perubahan satu generasi.  Kita tidak boleh pesimis, dan merasa terlambat...  Hanya kemuauan untuk memulai dan bergerak dilandasi dengan kesabaran akan menuai keberhasilan.  Sungguh dalam kesulitan ada kemudahan (Innama’al ‘usri yusraa) dan Innallaaha ma’asshoobiriin.

Memahami bencana geologis dengan posisi negeri ini ada di dalam lingkungan berpotensi bencana geologis maka diperlukan keimanan kita kepada Allah SWT.  Sifat yang harus kita bangun adalah wajib mendasarkan kepada aspek: (1) Teologis, QS 6: 54 dan QS 16: 30, (2) Sosiologis, manusia sebagai khalifah dan diberikan kemampuan untuk tolong menolong sesama, (3) Etis: hati, lisan, dan perbuatan, (4) Antisipatif: QS Yusuf: 47-49 dan QS AlMaidah: 32, (5) Teknis: tolong menolong (Almaidah: 2 dan 32).

Related Article

View More

Comment

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018