#

Muhjidin Mawardi

Ketua MLH PP Muhammadiyah

           

 

Lembaga The United Nations Conference for Environment and Development (UNCED) mempunyai alasan kuat dalam mendeklarasikan Hari Air Dunia pada tanggal 22 Maret. Air diyakini sebagai asal dan sekaligus sumber kehidupan. Air dan bumi merupakan dua syarat dan komponen utama untuk terjadinya kehidupan. Hal ini seperti yang telah ditegaskan oleh Tuhan Allah swt Yang Maha  Menciptakan dan Mengatur alam dan kehidupan di bumi. Peringatan hari air seduania  pada dasarnya bertujuan untuk mengingatkan kepada masyarakat dunia bahwa daya dukung bumi ada batasnya.  Demikian juga halnya air yang tersedia di muka bumi yang bisa dimanfaatkan secara langsung untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, hewan dan tumbuhan juga ada batasnya, dan saat ini sedang mengalami perubahan ke arah penurunan, baik volume maupun mutunya. Bahkan beberapa bulan yang lalu telah terjadi  kelangkaan  air di beberapa wilayah negara kita. Sementara itu pada bulan-bulan tertentu di beberapa wilayah lain, mengalami kondisi kelebihan air yang ditandai oleh luapan air, banjir dan tanah longsor.

Manusia, hewan dan tumbuhan sangat tergantung hidupnya kepada air. Akan tetapi ironisnya, masih banyak orang yang berperilaku buruk terhadap air dan sumber-sumber air.  Sumber-sumber air terutama sungai, danau dan laut dijadikan sebagai tempat buangan berbagai macam limbah, mulai dari limbah organik, anorganik terutama plastik hingga limbah beracun dan berbahaya (B3). Akibatnya, air dan sumber air yang bersangkutan menjadi tercemar,  tak bisa dimanfaatkan dan berbahaya bagi kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya.  Disamping itu masih sangat banyak pula orang yang berlaku boros dalam menggunakan air, tidak tahu atau tidak mau melakukan pemanenan air (hujan) yang berlimpah ketika musim hujan dan tidak tahu atau tidak mau melakukan upaya penghematan dalam pemakaian air serta tidak ada upaya-upaya untuk melakukan konservasi air.

Kerusakan lingkungan terutama kerusakan lahan dan krisis air yang terjadi di negara kita akahir-akhir ini sudah sampai pada tahap yang mengkhawatirkan, sehingga perlu dilakukan upaya penyelamatan yang serius, konsisten dan berkesinambungan. Jika tidak, maka kehidupan  manusia, hewan dan tumbuhan di muka bumi akan terancam. Banjir besar, erosi, tanah longsor, kekeringan, pencemaran air, dan udara sudah terjadi di mana-mana. Faktor utama penyebab terjadinya bencana lingkungan tersebut adalah perilaku buruk masyarakat terhadap alam lingkungannya. Sayangnya, perhatian dan program pemerintah untuk mengatasi krisis air dan lingkungan ini juga masih sepotong-sepotong dan belum memihak kepada kepentingan masyarakat sebagaimana diamanhkan oleh UUD 1945.

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa ketersediaan air tawar siap pakai di bumi selalu mengalami perubahan, dan cenderung terus menurun akibat terjadinya perubahan iklim, perubahan lingkungan, deforestasi dan degradasi lahan. Oleh karena itu upaya perlindungan dan konservasi air sangat penting, agar fungsi dan manfaat air tetap terjaga dan berkelanjutan. Melakukan perlindungan dan pemeliharaan terhadap air dan sumber air hukumnya wajib, sama dengan kewajiban memelihara kehidupan di muka bumi. Sebaliknya, setiap tindakan yang menganggu atau merusak fungsi biologis dan sosial air, baik yang berupa perusakan atau pencemaran air dan sumber air sehingga mengakibatkan air tidak bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup, atau fungsi dasar air sebagai sumber kehidupan menjadi terganggu atau rusak, maka siapapun pelakunya berarti yang bersangkutan telah melakukan perusakan terhadap kehidupan dimuka bumi, atau sama halnya melakukan “pembunuhan” di muka bumi.

Tentang penguasaan air dan sumber-sumber air serta pemanfaatannya, Tuhan Allah Yang Menciptakan air telah mengamanatkan melalui UUD 1945, sebagaimana tercantum dalam pasal 33. Bumi, air dan kekayaan alam yang dikandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Pasal ini sekaligus menyiratkan bahwa monopoli sumber air oleh seseorang atau sekelompok orang (lembaga atau perusahaan) untuk kepentingan tertentu, atau monopoli pemanfaatan air untuk penggunaan tertentu dan menutup hak pemanfaatan lainnya adalah melanggar amanah Tuhan dan amanah konstitusi. Dalam konteks ini, pemborosan penggunaan air juga termasuk perbuatan yang melanggar amanah dan asas keadilan, karena akan menghilangkan hak orang atau pengguna air lainnya untuk ikut memanfaatkan air dan sumberdaya air.

Upaya merawat  air melaui konservasi dan penghematan air dengan demikian  wajib pula dilakukan oleh siapa saja baik perorangan, lembaga masyarakat maupun pemerintah. Yang lebih penting dalam hal ini adalah kesadaran masyarakat dan pemerintah akan nilai dan fungsi air bagi kehidupan serta kesadaran bahwa konservasi air merupakan salah satu cara untuk menyelamatkan kehidupan di muka bumi yang sekaligus menyelamatkan bumi dari kehancuran.

Related Article

View More

Comment

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018