#

Oleh

Hidayat Tri Sutardjo

 

Allah SWT telah menurunkan dan menetapkan peraturan dan hukum Islam yang mencakup semua aspek kehidupan yang dibutuhkan manusia secara rinci, sistematis dan rapi.

Bila kita perhatikan proses kejadian manusia misalnya, Allah SWT menerangkan bahwa penciptaan manusia itu atas dasar fitrah dan bahkan Allah menyuruh roh mereka untuk bersaksi ketika masih di Rahim ibu. ALASTU BIRABBIKUM? (“Bukankah Aku ini Tuhanmu?”) Kemudian kita bersaksi bahwa QOLU BALA SYAHIDNA “Benar (Engkaulah Tuhan kami), kami telah menyaksikan.”. Jawaban inilah yang menjadi pengakuan roh pribadi manusia sejak awal kejadiannya akan adanya Allah Yang Maha Esa, yang tiada Tuhan lain yang patut disembah kecuali Dia.

Dari ayat ini, maka setiap manusia dalam menempuh hidupnya mengemban 2 (dua) amanah sekaligus. Amanah yang pertama yakni AMANAH RISALAH (Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-KU (QS 51:56) atau Katakanlah (Muhammad) Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam (QS 6:162). Amanah yang kedua adalah AMANAH KHILAFAH (Aku hendak menjadi khalifah di muka bumi (2:30).

Untuk mengemban kedua amanah inilah, maka Allah juga telah membekali manusia dengan FUADA yang saya terjemahkan menjadi KESATUAN KERJA YANG SISTEMIK ANTARA AKAL DAN HATI (QS AN NAHLI 16:78) di mana di akhir ayat ini ditegaskan agar manusia itu bersyukur.

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati Nurani, agar kamu bersyukur” (QS 16:78)

Dengan mensyukuri nikmat Allah SWT seorang manusia dapat mengenali dirinya dengan baik dan mengenal Allah SWT. Seseorang yang mensyukuri nikmat Allah tentunya akan senantiasa menyadari bahwa dirinya tidak memiliki apa-apa dan segala yang ia miliki adalah milik Allah SWT. Perintah untuk mensyukuri nikmat Allah tersebut dijelaskan dalam ayat Al-Qur’an berikut

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim 14:7).

Oleh karena itu, jangan sampai kita melupakan tugas utama sebagai hamba (Abdullah) karena dibutakan oleh hal-hal sepele untuk menuruti keinginan dan nafsu yang tidak ada faedahnya. Jika manusia tidak bersyukur, di ayat yang lain disebutkan sebagai manusia yang lalai dan diibaratkan sebagai binatang liar.

Dalam masalah memelihara, menjaga alam dan lingkungan hidup dengan tegas dan jelas Islam mengaturnya. Sikap dan perilaku terhadap lingkungan sesungguhnya menunjukkan kualitas iman seseorang, oleh karena itu memelihara lingkungan hidup merupakan bagian dari iman.

Betapa besarnya peran yang dimainkan manusia terhadap lingkungan dalam menjaga keseimbangan kehidupan ini. Wajar manakala Islam memberikan perhatian serius terhadap lingkungan dan menganjurkan serta menyeru umatnya untuk bersikap baik terhadap lingkungan.

Alam ini merupakan sarana bagi manusia untuk merealiasikan Amanah Risalah dan Amanah Khilafah sebagaimana diterangkan dalam surat Ali Imran ayat 191 Alllah berfirman:

“(Yaitu) Orang-orang yang mengingat Allâh sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS Ali-Imran 3:191).

Alam memberikan berjuta-juta manfaat kepada manusia, jika manusia itu memperhatikan alam dengan mata akal dan budinya. Pohon misalnya dalam kehidupan sehari-hari punya makna filosofi sendiri.

akar selain tempat duduk bersila bagi manusia, akar yang menancap kebawah tanah juga sebagai lambang kekokohan dan kekuatan. Akar yang teguh menghujam ke bumi bagi pohon, memiliki fungsi menghisap air dan unsur hara dari dalam tanah dan menopang tegaknya pohon. Apabila akar tidak dapat lagi mengambil unsur-unsur hara dari dalam tanah maka lambat laun pohon akan mati. Sedangkan akar pohon yang berfungsi dengan baik akan dapat menyalurkan unsur-unsur hara dari dalam tanah ke bagian atas pohon sehingga pertumbuhan dan perkembangan pohon akan berjalan dengan baik. Batang tempat bersandar, Ranting tempat bergantung, dan Daun tempat berteduh dari teriknya matahari.

Pohon yang baik itu selalu memberikan buahnya pada setiap manusia dengan seizin Tuhannya. Adapun proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman diperlukan berbagai unsur hara yang cukup banyak macamnya. Oleh karena itu, manusia harus bisa mengambil manfaat dari kehidupan pohon, karena pada hakikatnya ilmu pengetahuan yang telah diperolehnya melalui seseorang adalah karunia dan rahmat dari Allah SWT.

Ad-dienul Islam yang kaffah, telah melarang segala bentuk pengerusakan terhadap lingkungan sekitar, baik pengerusakan secara langsung maupun tidak langsung.  Karena pelestarian lingkungan hidup merupakan tanggung jawab semua umat manusia sebagai pemikul amanah untuk menghuni bumi ini.

Allah SWT telah melarang perbuatan merusak lingkungan hidup karena bisa membahayakan kehidupan manusia di muka bumi. Karena bumi yang kita tempati ini adalah milik Allâh Azza wa Jalla dan kita hanya diamanahkan untuk menempatinya sampai pada batas waktu yang telah Allah tetapkan. Oleh karena itu, manusia tidak boleh semena-mena mengeksplorasi alam tanpa memikirkan akibat yang muncul.

Kaum Muslimin tidak diperbolehkan membakar dan menebangi pohon tanpa alasan dan keperluan yang jelas. Kerusakan alam dan lingkungan hidup yang kita saksikan sampai saat ini merupakan akibat dari perbuatan/ulah umat manusia.

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum 30: Ayat 41)

Ada 5 hal yang perlu mendapat perhatian kita bersama terkait dengan menjaga alam dan pelestariian lingkungan

  1. Melestarikan Lingkungan Hidup Merupakan Manifestasi Keimanan

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya, yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman" (QS. Al-A’raf [7]: 85)

  1. Merusak Lingkungan Adalah Sifat Orang Munafik dan Pelaku Kejahatan

“Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk Mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan” (QS. Al-Baqarah [2]: 205)

  1. Alam semesta merupakan anugerah Allah untuk manusia

“Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin” (QS. Luqman [31]: 20)

“Dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang” (QS. Ibrahim [14]: 32-33)

  1. Manusia adalah khalifah untuk menjaga kemakmuran lingkungan hidup

“Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-An’am [6]: 165)

  1. Kerusakan yang terjadi di muka bumi oleh karena ulah tangan manusia

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS. As-Syuura [42]: 30)

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan).Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-A’raf [7]: 56)

Anjuran Badan Restorasi Gambut untuk memotivasi masyarakat agar memulihkan dan melindungi ekosistem gambut dan gemar menanam pohon, adalah sebagai upaya nyata dalam menjaga keseimbangan alam dan lingkungan hidup agar lestari dan dapat diwariskan ke anak cucu kita. Sedangkan menebang pohon, menggunduli hutan, membuang limbah ke sungai, membakar areal pesawahan dan lain-lainnya sudah jelas termasuk perbuatan merusak alam yang bisa mendatangkan bencana bagi umat manusia.

Bencana yang datangnya terkadang beruntun seringkali dipahami dengan salah oleh manusia atau pemahamannya belum sampai kepada pemahaman bahwa semua itu merupakan peringatan dari Allah SWT tetapi dipahami sebagai ujian yang seolah-olah perbuatan kita sebagai manusia di dunia ini sudah baik dan benar.

Bencana yang datang silih berganti itu karena ketidakseimbangan alam. Bisakah kita berkontribusi nyata, seminimal apa pun yang kita mampu, untuk menghijaukan bumi kembali, menanam pohon, memulihkan dan melindungi lahan gambut adalah merupakan upaya nyata dalam upaya menciptakan Kawasan Penyejuk Bumi.

Munculnya kerusakan lingkungan hidup, pada hakikatnya adanya krisis moral manusia. Untuk menghindari bencana yang bakal terjadi, sebenarnya manusia dianjurkan kembali kepada metode al-Qur’an dan sekaligus mengadakan penelitian terhadap ekosistem lingkungan hidupnya, sambil membandingkan dengan peristiwa kehancuran lingkungan hidup yang pernah terjadi pada bangsa-bangsa terdahulu.

Mengelola lingkungan, memulihkan dan melindungi ekosistem gambut adalah bagian dari ibadah dan memenuhi tugas dan fungsi sebagai khalifah di muka bumi. Akhirnya, marilah kita rawat, kita lestarikan dan kita jaga keseimbang alam dan lingkungan hidup kita Bersama sebagai penunaian amanah Allah di muka bumi ini.

Wallahu’alam bishshawab

 

Bekasi, Ramadhan 1441 H

Related Article

View More

Comment