#

Oleh :

Hery Setiyawan, M.Si

 Majelis Lingkungan Hidup

PDM Kota Yogyakarta

 

Ini adalah salah satu contoh pada perhelatan Pemilihan  Umum Legislatif 2014  sampah visual berupa papan reklame, spanduk, baliho, banner, poster   kandidat caleg  semakin tak terkendali.Dalam tahapan Pemilu Legislatif sekarang telah memasuki ditetapkannya Daftar Calon Tetap (DCT) caleg anggota DPRD kota Yogyakarta  ada sekitar 363 caleg. Artinya  nanti pasti dari masing-masing caleg yg berjumlah 363 ini pasti melakukan sosialisasi baik dengan spanduk, banner, baliho, poster dsbnya. Hal ini nantinya akan menumpuk masalah, terutama sampah visual . Sampah visual  adalah dari dua kata sampah yang artinya barang yang tidak terpakai lagi dan visual artinya pandangan atau penglihatan. Jadi sampah visual merupakan barang yang tidak terpakai lagi yang mengganggu pandangan atau estetika kota. Contoh sampah visual seperti iklan-iklan yang ditempel didinding-dinding pinggir jalan, papan reklame, atau media kampanye serta coretan-coretan memakai pilok yang biasanya ada di dinding-dinding rumah yang dekat dengan jalan raya. Sampah visual ini biasanya ada diruang-ruang publik atau tempat yang banyak dikunjungi/dilewati masyarakat.

Sampah jenis ini semakin hari semakin banyak dan mengganggu apalagi menjelang masa-masa kampanye kandidat caleg Pemilu legislatif 2014 bisa disebut sebagai ajang untuk pamer  sampah visual. Kenapa seperti itu? Coba jalan-jalan berputar-putar keliling kota Jogja. Kalian akan lihat betapa kota ini sangat penuh dengan sampah visual jenis baliho, spanduk, umbul-umbul  dll dari masing-masing kandidat caleg.  Menurut Perwal No. 21 Tahun 2013 BAB IV pasal 8 pemasangan alat peraga kampanye seperti baliho, spanduk, rontek dll adalah harus berdiri sendiri, tidak menempel pada fasilitas umum, lampu trafig light , tiang listrik, telepon, halte, tanaman dalam pot, tempat sampah, bis surat, box peta, tugu jam, tidak boleh dipaku /diikat pada pohon, tidak melintang diatas badan jalan. Melihat fakta-fakta seperti itu, kita sebagai masyarakat yang peduli terhadap lingkungan yang katanya agent of change seharusnya mulai memberikan sosialisasi kepada masyarakat. Jika ada acara atau even seperti Pemilu janganlah menempel poster disembarang tempat Seperti yang disebutkan didalam Perwal No. 21 Tahun 2013 BAB IV Pasal 7 larangan pemasangan alat-alat peraga kampanye. Kegiatan nyata yang telah dilakukan Pemerintah Kota Yogyakarta dalam rangka untuk mewujudkan kebersihan dan keindahan kota di berbagai sektor adalah "Jogjaku Bersih". Dalam perwakl tersebut  telah dicanangkan kawasan Jalan Solo, JL.Sudirman, Jl.Diponegoro, jl. Malioboro, Jl. Trikora, Jembatan layang, sekolah, tempat ibadah, taman Makam pahlawan, bangunan cagar budaya dll  sebagai kawasan bebas sampah visual. Namun, fakta di lapangan sampah visual berupa umbul-umbul, poster, reklame, banner, baliho, dan billboard tetap marak terpasang. Sebagian besar memang telah memenuhi izin pemasangan reklame / media luar ruang. Namun, ada juga yang terpasang di tempat yang tidak semestinya seperti di jalur hijau, tiang lampu Penerangan Jalan Umum, tiang lampu Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL) bahkan rambu lalu lintas. Itulah sampah visual yang sangat tidak beraturan dan dapat mengurangi nilai Keistimewaan Daerah Yogyakarta.

Kepedulian dari warga Yogyakarta dalam menanggulangi sampah visual perlu digerakkan secara berkelanjutan agar keistimewan tetap terjaga dengan kondisi lingkungan yang enak dipandang. Dalam kesempatan tersebut kita  berharap  mulai peduli pada sampah visual. Kepedulian terhadap lingkungan akan berdampak pada pengurangan timbulnya sampah visual.Sedikit langkah nyata kita tidak akan berakhir sia-sia. Langkah ini walau kecil tapi kalau bisa kontinyu akan menjadi sebuah langkah besar. Mari sadar lingkungan. Berjuang bersama mengawal untuk membuat kota ini kembali berhati nyaman.Selain kesadaran dari individu untuk mewujudkan kota yang ramah lingkungan, pemerintah kota juga harus lebih tegas dalam hal ini. Sungguh memilukan jika para aktivis lingkunganlah yang harus selalu melakukan aksi tanpa adanya dukungan dari pemerintah dan masyarakat umum. Sebagian masyarakat Yogyakarta belum menyadari keberadaan sampah visual yang mencemari lingkungan. Sampah visual merupakan suatu bentuk kerusakan yang berakibat mengurangi keindahan ruang publik dan hanya mengotori lingkungan.

Menjelang pileg di tahun  2019, Sejumlah Alat Peraga Kampanye (APK) spanduk dan baliho dari Calon Legislatif (Caleg) nantinya  akan banyak terpajang dan berhamburan di beberapa titik di  jalan – jalan, Ini merupakan sampah visual yang mengganggu tata kota.. KPU akan mengatur penempatan alat peraga kampanye yang berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Kendati demikian, guna mewujudkan “Kota Yogyakarta” yang bersih dari sampah visual diperlukan juga  peran serta masyarakat.

Related Article

View More

Comment

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018