#

Oleh

Hidayat Tri Sutardjo

 

Restorasi Gambut dapat diartikan sebagai upaya-upaya untuk mengembalikan fungsi ekosistem lahan gambut dan mensejahterakan masyarakat yang dilakukan melalui tiga pendekatan, yaitu pembasahan, penanaman ulang, dan merevitalisasi sumber mata pencaharian masyarakat yang terkena dampak dari lahan gambut yang terdegradasi. Oleh karena itu, Badan Restorasi Gambut Republik Indonesia (BRG) mengupayakan restorasi melalui pendekatan 3R, yakni rewetting atau pembasahan gambut, revegetasi atau penanaman ulang, serta revitalisasi sumber mata pencaharian.

Dalam restorasi gambutpun diperlukan pendekatan saintifik dan teologi Islam sebagai ruh yang akan menjadi pondasi sehingga mampu memberikan dorongan kepada semua pihak yang berusaha dan berproduksi di lahan gambut menjadi amal ibadah, bukan lagi mengusahakan lahan gambut yang berpandangan eksploitatif dan hanya mementingkan keuntungan sesaat dan tidak memperhitungkan penurunan kualitas lingkungan.

BRG yang bertugas antara lain mengedukasi masyarakat terkait pemulihan dan perlindungan gambut, sehingga program BRG dalam peningkatan kapasitas kepada ustad/da’i di wilayah/daerah. Mereka diberikan pengayaan materi tentang bagaimana pesan pemulihan dan perlindungan gambut dapat disampaikan dalam taklim/khotbah. Selain itu diharapkan di wilayah/desa dapat menerapkan prinsip ecomasjid/ecopesantren. Secara rutin BRG juga menyelenggarakan roadshow ke beberapa pesantren terutama di Sumatera dan Kalimantan untuk memperkenalkan pertanian di lahan gambut yang ramah lingkungan dan tidak membakar. Semua ini dilakukan sebagai upaya edukasi/penyadaran kepada masyarakat.

Di sisi lain, BRG juga melatih petani dalam kegiatan sekolah lapang dan sudah banyak kader yang dihasilkan dari sekolah lapang ini bahkan sudah menjelajah hampir di semua Provinsi yang memiliki lahan gambut. Dalam sekolah lapang ini mereka diajarkan cara membuka lahan tanpa membakar dengan tidak menggunakan bahan kimia, sehingga mengarah ke pertanian organic.

Upaya restorasi ekosistem gambut di Indonesia adalah tanggung jawab berbagai pihak, sehingga BRG memerlukan dukungan dari berbagai mitra seperti Muhammadiyah guna mensosialisasikan, mengedukasi dan mengadvokasi masyarakat/umat dalam upaya restorasi di ekosistem gambut yang berkelanjutan. Muhammadiyah sebagai organisasi massa sosial keagamaan melalui Gerakan Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar akan dapat berperan untuk melakukan mediasi dan advokasi terhadap permasalahan restorasi gambut yang timbul di masyarakat dengan mengedepankan prinsip Saling Mengingatkan untuk kebaikan “tawwa shaubil haq wa tawwa shaubis shabr wa tawwa shaubil marhamah” kepada siapa pun, baik masyarakat maupun pemerintah dan juga swasta.

Muhammadiyah melalui Majelis Lingkungan Hidup (MLH) dengan 4 (empat) Divisi nya, yakni Divisi Pendidikan Lingkungan, Penyadaran dan Pemberdayaan Masyarakat, Kajian dan Konsultasi Lingkungan serta Humas dan Kerjasama sangat banyak memiliki singgungan dengan tupoksi BRG. Untuk itulah, BRG akan bekerjasama dengan Muhammadiyah dalam upaya-upaya sosialisasi, edukasi dan advokasi masyarakat/umat dalam pemulihan dan perlindungan gambut. Upaya-upaya sosialisasi seperti pembuatan video dakwah Ramadhan dengan muatan terkait perlindungan gambut dan pelestarian lingkungan yang kemudian disebarluaskan kepada masyarakat melalui berbagai media cetak dan elektronik serta penyusunan Buku Saku Dakwah Pemulihan dan Perlindungan Gambut serta Pelestarian Lingkungan, yang di dalamnya memuat materi-materi dakwah/khutbah Jum’at terkait dengan pemulihan dan perlindungan gambut.

Pemulihan dan perlindungan gambut memerlukan langkah-langkah yang tepat untuk sampai pada kondisi lahan gambut yang baik. Langkah-langkah tersebut di antaranya adalah pemetaan, penentuan jenis restorasi, pelaku restorasi, pelaksanaan, dan pendekatan khusus untuk meningkatkan fungsi gambut bagi masyarakat dengan memperhatikan kearifan lokal. Sehingga diperlukan langkah-langkah yang tepat untuk sampai pada kondisi lahan gambut yang baik, mulai dari wilayah mana saja yang akan direstorasi, siapa yang akan melakukan restorasi, hingga tahap pencapaian tujuan dari restorasi. Pemetaan merupakan langkah awal yang krusial karena tipe gambut yang berbeda memerlukan jenis restorasi yang berbeda pula. Selain itu, metodologi yang seragam, akurat, dan murah pada saat mengukur kedalaman gambut juga penting untuk menentukan upaya pemulihan yang tepat.

Penentuan jenis restorasi yang sesuai dengan kondisi gambut perlu mendapat perhatian karena ada gambut yang perlu melewati siklus pembasahan terlebih dahulu, dan ada pula yang dapat langsung ditanam ulang (revegetasi). Pembasahan (rewetting) gambut diperlukan untuk mengembalikan kelembabannya. Penataan air pada tahap ini dapat dilakukan dengan membangun sekat kanal (canal blocking), penimbunan saluran (back filling), sumur bor, dan/atau penahan air yang berfungsi menyimpan air di sungai atau kanal. Pembasahan lahan gambut yang layak bukanlah menaikkan muka air setinggi mungkin, melainkan menaikkan muka air tanah sedemikian rupa sehingga dapat meningkatkan kelembaban gambut (terutama di musim kemarau) agar tidak mudah teroksidasi dan/atau terbakar.

Ketika sudah kembali lembab, lahan gambut dapat kembali ditanami (revegetasi) dengan tanaman yang tidak mengganggu siklus air dalam ekosistem gambut. Proses vegetasi akan menjaga keberlangsungan ekosistem gambut dan juga memperkokoh sekat kanal, serta melindungi lahan gambut agar tidak terkikis aliran air kanal. Beberapa jenis tanaman asli ekosistem gambut adalah jelutung, ramin, pulau rawa, gaharu, dan meranti. Selain itu, beberapa tanaman seperti kopi, nanas, dan kelapa juga merupakan tanaman yang ramah gambut dan mempunyai nilai ekonomi bagi masyarakat lokal.

Restorasi lahan gambut tidak hanya berhenti pada pemulihan ekologi dan revegetasi, tetapi juga harus memikirkan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal (revitalisasi). Jika masyarakat setempat tidak mempunyai alternatif penghidupan, mereka akan menggunakan cara mudah untuk mengeringkan lahan gambut dan menanam tumbuhan yang kaya akan nilai ekonomi, tetapi tidak ramah dengan gambut. Pelaku restorasi harus senantiasa berdiskusi dengan warga untuk mencari cara dalam meningkatkan taraf kehidupan melalui pengolahan lahan gambut, seperti penanaman sagu, karet, kopi, dan kelapa atau menggalakan perikanan dan pariwisata alam.

Melihat langkah-langkah dalam pemulihan dan perilindungan gambut di atas, maka sangatlah tepat apabila BRG bersinergi dengan Muhammadiyah yang dimulai dengan:

  1. Perumusan dan pembuatan video dakwah Ramadhan yang berisikan tentang pemulihan dan perlindungan gambut dalam perspektif Islam.
  2. Pemanfaatan medsos baik yang dimiliki Muhammadiyah maupun BRG.
  3. Pengayaan materi bagi Ustadz/da’i dengan bahan-bahan bacaan yang memang sangat diperlukan terkait dengan pemulihan dan perlindungan gambut.
  4. Penulisan buku saku dakwah  bagi petani dan Ustadz/da’i pemulihan dan perlindungan gambut.
  5. Penyusunan Buku Pedoman Sekolah Lapang Restorasi Gambut.
  6. Penyusunan Materi Sekolah Lapang Restorasi Gambut.
  7. Kuliah umum dengan mendatangkan petani lahan gambut di kampus-kampus, sehingga Mahasiswa bisa belajar dari petani dan petani juga bisa belajar dari mahasiswa atau melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik Restorasi Gambut.

Wallahu a’lam bishshawab

 

Jakarta, 9 April 2020

Related Article

View More

Comment

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018