#

Muhjidin Mawardi

Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah

 

Kehidupan manusia tak bisa dilepaskan dari air. Namun demikian, masih banyak orang yang belum memahami makna dan fungsi air bagi kehidupan. Pemahaman ini menjadi sangat penting karena sikap dan perilalu seseorang merupakan cerminan dari pola pikir (mind set) orang yang bersangkutan termasuk perilakunya terhadap air. Dalam masa pandemi Covid-19 saat ini, air menjadi salah satu sarana yang sangat vital dalam upaya pencegahan penularan penyakit yang disebabkan oleh virus corona tersebut. Kesadaran ini tidak semata tentang aspek fisik teknis pemakaian air, tak kalah pentingnya adalah kesadaran teologis masyarakat tentang air. Kesadaran teologis inilah yang akan mewarnai sikap dan perilaku seseorang terhadap air.

Tuhan Allah swt telah menciptakan air dan menjadikannya sebagai asal muasal kehidupan. Segala sesuatu yang hidup termasuk manusia, hewan dan tumbuhan, semuanya sangat tergantung pada keberadaan air. Lebih dari 75 % zat penyusun tubuh manusia terdiri dari air, bahkan lebih dari 75 % planet bumi kita juga berisi air. Selain mempunyai fungsi biologis, air juga mempunyai fungsi religius yakni untuk membersihkan dan mensucikan tubuh dan pakaian dari kotoran, penyakit dan najis baik secara harfiah maupun ma’nawi. Dalam berhubungan seseorang orang atau sekelompok orang dengan lainnya atau dalam berhubungan dengan Allah swt melalui ibadah, manusia harus terlebih dahulu berada dalam keadaan bersih dan suci tubuh (fisik) dan batinnya. 

Hampir semua ajaran agama-agama samawi selalu ada pembahasan tentang air dan peran air bagi penyucian diri dan sarana ibadah. Demikian pula dalam pembahasan tentang ibadah, selalu didahului dengan penyucia diri, dan alat bersuci yang utama adalah air. Jika tidak ada air baru bisa menggunakan tanah, debu atau batu. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peran air dalam kehidupan manusia, baik secara fisik-biologis maupun spiritual.

Menyadari pentingnya air, maka kegiatan penghematan dan konservasi air, merupakan kewajiban fundamental (asasi) bagi keberlangsungan kehidupan di rmuka bumi. Kewajiban penghematan dan konservasi air  mempunyai nilai yang sama dengan kewajiban menjaga  kehidupan itu sendiri. Menjaga kehidupan adalah wajib hukumnya karena merupakan suatu keniscayaan. Oleh karena itu merawat air dan sumber-sumber air serta konservasi air agar nilai dan manfaatnya tetap berkelanjutan,  wajib pula hukumnya bagi setiap orang. Setiap tindakan yang mengganggu atau merusak fungsi-fungsi air (fungsi biologis, ekonomi, sosial, budaya dan spiritual) baik yang berupa perusakan atau pencemaran air dan sumber air dengan tindakan atau  unsur tertentu sehingga mengakibatkan air tidak bisa dimanfaatkan untuk kehidupan, atau fungsi dasar air sebagai sumber kehidupan menjadi terganggu atau rusak, maka hal ini berarti sama dengan merusak kehidupan atau sama dengan melakukan “pembunuhan”.

Tuhan Allah swt telah menetapkan hak-hak pemanfaatan air (common right) bagi semua makhluk hidup. Semua makhluk hidup di alam ini mempunyai hak yang sama untuk memanfaatkan air. Monopoli pemanfaatan air atau sumber air oleh seseorang atau sekelompok orang (lembaga atau perusahaan) untuk kepentingan apapun, atau monopoli pemanfaatan air atau sumber air untuk penggunaan tertentu dan menutup hak pemanfaatan untuk penggunaan lainnya, sangat dilarang oleh konstitusi. Penyalah gunaan peran dan fungsi air serta pemborosan dalam penggunaan air juga dilarang. Pelarangan berlaku boros dalam penggunaan air ini berlaku baik untuk pemakaian perorangan maupun publik (umum) baik air dalam keadaan banyak maupun dalam keadaan kurang (langka).

Pengalaman panjang bangsa –bangsa yang hidup di daerah yang kering dengan sumber air yang sangat terbatas, telah mengajarkan mereka untuk menghargai air dan menggunakan air secara sangat hemat. Pelajaran ini kemudian dituangkan dalam berbagai produk juresprudensi fiqih Islam antara lain:

Upaya konservasi dan penghematan penggunaan air dengan demikian secara teologis menjadi wajib  dilakukan oleh siapa saja baik perorangan, lembaga masyarakat maupun pemerintah. Upaya ini bisa dilakukan dengan merubah sikap dan perilaku terhadap air dengan bantuan teknologi atau dengan melakukan rekayasa lingkungan yang tidak mengakibatkan terjadinya kerusakan di muka bumi.

 

 

Yogjakarta, Romadhan 1441 H

Related Article

View More

Comment