#

Jakarta—lingkunganmu.com—Bencana lingkungan akibat kebakaran hutan dan lahan terus terjadi sekitar 20 tahun terakhir, puncaknya terjadi pada tahun 1997 dan 2015. Pada tahun 2015 kerugian ekonomi akibat kebakaran hutan dan lahan mencapai 220 T, sebagai dampak dari pembatalan penerbangan, perkantoran libur, sekolah libur, gangguan kesahatan masyarakat dan kerugian keragaman hayati, tak kalah pentingnya lahan gambut yang terbakar pada kurun waktu 2015 – 2019 mencapai 1,6 juta Hektar.

Bencana kebakaran yang hampir menjadi rutinitas bencana di Indonesia ini mendapat perhatian serius Pimpinan Pusat Muhammadiyah, melalui Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PP Muhammadiyah yang bekerjasama dengan Badan Restorasi Gambut (BRG) Republik Indonesia menyelenggarakan Talkshow di tvMu (11/6) dengan melibatkan Budi S. Wardhana, Deputi Bidang Perencanaan dan Kerjasama BRG Republik Indonesia dan Johny Sumbung, Direktur Migitasi Bencana BNPB dan Abdul Mu’ti, Sekum PP Muhammadiyah.

Menurut Abdul Mu’ti, Sekum PP Muhammadiyah “Kalau kita kaitkan dengan berbagai aspek memang tidak sederhana bahkan menjadi masalah yang sangat kompleks mulai dari masalah ekonomi, sosial bahkan mungkin sebagian ada dari aspek politiknya. Tapi Muhammadiyah melihat pada beberapa aspek yang berkaitan dengan agama.”

“Kalau melihat dari sudut pandang teologi Al-Qur’an menyebutkan, zhaharal fasadu fil barri wal bahri bima kasabat aidin nass (QS. Ar-Rum ayat 41). Jadi, nampak sekali ada kerusakan di muka bumi  (daratan dan lautan) sebagian besarnya adalah karena perbuatan manusia, Perbuatan manusia di ayat tersebut digunakan kasabat (berbuat), sehingga penyebutannya punya makna kinayah dan sharih. Ada yang menafsirkan misalnya Qurthubi menafsirkan kerusakan di daratan itu adalah kerusakan lisan manusia dan kerusakan di lautan itu adalah kerusakan hati manusia”, jelas Mu’ti.

Mu’ti juga menegaskan bahwa “Hal ini berkait langsung dengan perilaku manusia, di sinilah peran agama tidak dapat dipisahkan dalam menangani kerusakan lingkungan. Jadi ada aapek yang berkaitan dengan aspek perilaku manusia dan perilaku manusia sebagian muncul karena hal-hal yang ada dalam hati manusia, misalnya rakus atau persoalan lain yang berkaitan dengan keinginan manusia yang terlalu berlebihan”.

“Di sinilah peran agama juga tidak dapat dipisahkan. Karena itu Muhammadiyah misalnya sejak tahun 2016 sudah ada MoU PP Muhammadiyah dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yaitu melakukan upaya-upaya edukasi kepada masyarakat dengan pendekatan agama melalui para mubaligh Muhammadiyah. Mereka ini memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bagaimana agama mengajarkan kelestarian lingkungan dan mengajarkan tentang tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi untuk melestarikan alam semesta dan bagaimana peran manusia yang merusak alam semesta.” kata Mu’ti.

Lebih lanjut, Sekum PP Muhammadiyah ini menguraikan bahwa “Muhammadiyah tidak berhenti hanya menyalah-nyalahkan pihak lain dan tidak ada solusi. Ciri Muhammadiyah itu dari dulu adalah ketika ada masalah, berusaha menyelesaikan masalah itu dengan segala kemampuan yang dimiliki. Melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Muhammadiyah juga telah melakukan berbagai aksi kemanusiaan kaitanya dalam bencana kebakaran. Misalnya mendirikan rumah oksigen, membantu memadamkan api dan menyediakan masker bagi warga yang terdampak asap kebakaran. Melalaui Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) pun juga telah melakukan beberapa langkah-langkah yang dikaitkan langsung dengan petani-petani yang memang mereka termasuk salah satu korban kebakaran”.

Oleh karena itu, Mu’ti juga menegaskan “Muhammadiyah melihat masalah ini dari beberapa sudut pandang dan tentunya juga pendekatan relijius, khususnya pendekatan keislaman bahkan karena melihat betapa pentingnya mitigasi bencana itu maka PP Muhammadiyah sampai menerbitkan buku Fikih Bencana sebagai bagian upaya kita memahami berbagai bencana itu dan kemudian bagaimana sebab musababnya seperti apa dan bagaimana mengatasinya dari sudut pandang agama. Termasuk di dalamnya bagaimana kita membangun mindset ) atau word view dari masyarakat mengenai alam itu seperti apa kemudian membangun kesadaran perilaku mereka dan kemudian berbagai gerakan berbasis pendidikan dan pemberdayaan termasuk mitigasi dan program-program lain agar persoalan yang hampir terjadi setiap tahun ini tidak kemudian seperti orang yang melaksanakan reuni tahunan atau semacam ada annual disaster tahunan yang kemudian menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa”.

“Kita tidak boleh menganggapnya ini sebagai sesuatu yang normal, ini adalah situasi yang extra ordinary, sesuatu yang darurat dan harus diselesaikan secara bersama-sama dengan segala pendekatan dan kerjasama yang melibatkan berbagai pihak. Untuk itu, Muhammadiyah mendorong pemerintah sedini mungkin melakukan pencegahan kebakaran melalui komunikasi dengan masyarakat , bagaimana melakukan edukasi agar persoalan ini ada jalan keluar terbaik sehingga persoalan kebakaran gambut bisa terselesaikan secara komprehensif,” kata Mu’ti mengakhiri Dialognya.(ddp)

Related Article

View More

Comment

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018