#

Yogyakarta—lingkunganmu.com--Demi mewujudkan bumi yang sehat dan nyaman dengan kelestarian airnya, UGM bersama dengan para komunitas, kampung-desa/kelurahan, pemerintah, akademisi, praktisi, dan dunia usaha, menyatukan visi dalam upaya meminimalisir terjadinya banjir dan kekeringan dengan cara memanen, menampung, dan memanfaatkan air hujan dengan sebaik-baiknya.

 

Menurut Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono, salah satu Dosen Departemen Teknik Sipil Sekolah Vokasi UGM mengatakan bahwa wilayah Indonesia memiliki curah hujan yang cukup tinggi, yaitu kisaran 2.000-4.000 mm/tahun. Dengan curah hujan sebesar itu seharusnya Indonesia tidak perlu mengkhawatirkan perihal ketersediaan air. Namun yang menjadi masalah adalah belum adanya pengelolaan air hujan yang memadai, sehingga curah hujan yang cukup tinggi tersebut menyebabkan banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Oleh karena itulah perlu adanya wadah untuk menyosialisasikan kepada masyarakat tentang pentingnya memanen dan mengelola air hujan, yaitu dengan diadakannya Kongres Memanen Air Hujan Indonesia II. Kongres yang akan dilaksanakan pada tanggal 28-29 November 2019 di University Club UGM ini akan mempertemukan semua golongan masyarakat, mulai dari komunitas-komunitas, kampung-desa/kelurahan, pemerintah, akademisi, praktisi, dan dunia usaha untuk menggemakan Gerakan Memanen Hujan Indonesia.

 

Dr. Ir. Darhamsyah, M.Si., Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sulawesi dan Maluku ini mengajak masyarakat “untuk terbiasa memanen air hujan di kala musim penghujan berlangsung. Kegiatan memanen air hujan sangat diperlukan untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang terjadi saat musim kemarau berkepanjangan.

 

Lebih lanjut Sekretaris MLH PWM Sulsel ini menegaskan bahwa “Kongres Memanen Air Hujan II ini sebagai upaya nyata untuk meraih keberkahan. Air hujan adalah berkah dari Allah SWT. Menyia-nyiakannya, berarti menyia-nyiakan berkah. Memanen air hujan, berarti memanen berkah”, tandasnya.

 

Komunitas-komunitas yang hadir dalam Kongres ini diantaranya adalah Komunitas Banyu Bening, Komunitas Hidroponik Klaten, Kandangudan Klaten, Gemma Camtara Ternate, dan masih banyak lagi. Untuk instansi pemerintahannya sendiri, Kongres Memanen Air Hujan Indonesia II akan dihadiri oleh diantaranya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BBWS Serayu Opak, BBWS Bengawan Solo, dan BWS Maluku Utara.

 

Gerakan Memanen Air Hujan diharapkan akan semakin menggema dan menjadi gerakan yang massif. Karena selain menyelamatkan dari banjir dan kekeringan, air hujan juga dapat dijadikan sebagai sumber air bersih, untuk mengisi sumur dan air tanah, sebagai air untuk kesehatan, untuk perikanan, untuk peternakan, dan masih banyak manfaat yang dapat diambil dari air hujan. Mencintai air hujan, berarti mencintai kehidupan (ddp).

Related Article

View More

Comment

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018