#

Baubau –lingkunganmu.com-- Dari beberapa kajian menunjukkan bahwa perubahan iklim memberi dampak terhadap multisektor. Proyeksi iklim selalu mengandung ketidakpastian. Mengapa? Karena tantangan terbesar adalah melakukan kuantifikasi terhadap ketidakpastian tersebut untuk meningkatkan daya gunanya dalam mengambil keputusan. Demikian dikatakan Ir. Hidayat Tri Sutardjo, MM.,CHRM. Ketika memberi Kuliah Tamu di Universitas Muhammadiyah Buton (UMB) pada Sabtu (16 Maret 2019).

Lebih lanjut, Hidayat yang juga menjadi anggota Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah ini menegaskan bahwa “pengelolaan alam yang antroposentris dan arogansi manusia menyebabkan ketidakadilan dan akselerasi kerusakan di bumi sehingga terjadi krisis ekologi. Masalah lingkungan, perubahan iklim, dan pemanasan global tidak hanya terbatas menjadi pembahasan di kalangan elit, atau kegiatan teknis akademis saja. Sehingga Muhammadiyah sebagai organisasi gerakan harus ikut berperan aktif mencerahkan manusia dalam mengelola bumi berlandaskan Ilmu pengetahuan yang bersumber teologi yang benar”.

Beberapa kajian dan proyeksi iklim dari lembaga dalam maupun luar negeri menunjukkan bahwa iklim di Indonesia telah mengalami perubahan, meskipun analisis ilmiah maupun data-datanya masih terbatas.

Memahami perubahan iklim akhirnya merupakan masalah bagi beberapa generasi. Sebuah generasi ilmuwan harus berkarya untuk kebutuhan generasi penerus, tidak berfokus hanya pada produktivitas ilmiah sesaat. Model iklim saat ini mungkin akan terbukti dalam 100 tahun mendatang. Untuk itulah mari kita jaga alam ini, kita kelola lingkungan sekitar melalui gerakan apapun dan sekecil apapun. Oleh karenanya MLH PP Muhammadiyah pun telah mengambil motto “Sejuk bumiku, nyaman hidup, aman dan tentram masa depan anak cucuku”.

Perubahan iklim diartikan sebagai iklim yang berubah diakibatkan oleh suhu rata-rata yang meningkat. Fenomena ini terjadi setelah rentang yang sangat panjang, ditandai dengan perubahan pola cuaca dalam data statistiknya sepanjang periode waktu. Saat ini, dunia telah satu derajat Celcius lebih hangat dibandingkan pada masa pra-industri. Hal ini diakibatkan oleh rentang pemanasan tadi lebih cepat daripada sebelumnya, yang tentu disebabkan oleh peningkatan emisi buatan manusia.

Secara umum, perubahan iklim disebut sebagai fenomena pemanasan global, di mana terjadi peningkatan gas rumah kaca pada lapisan atmosfer. Ciri-ciri terjadinya pemanasan global atau perubahan iklim adalah dilihat adanya distribusi cuaca yang tidak menentu, seperti curah hujan yang tinggi padahal masih musim kemarau, dan begitu pula pada kasus musim kemarau yang berkepanjangan. Selain itu, terjadi peningkatan volume air akibatnya mencairnya es di kutub dan menyebabkan bencana banjir. Sering terjadinya bencana alam angin puting beliung, El Nino, La Nina, termasuk ke dalamnya pada keseimbangan ekosistem.

Menanggapi hal tersebut, sebagai pelaku utama terjadinya perubahan iklim bumi, maka manusia lah satu-satunya yang harus bertanggungjawab dalam upaya menanggulangi pemanasan global. Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mengurangi dampak pemanasan global ini. Berikut upaya penanggulan perubahan iklim global yang dapat kita lakukan untuk menyelamatkan bumi ini: Pendidikan karakter dengan GERAKAN GENERASI CINTA LINGKUNGAN, Pengelolaan sampah dengan GERAKAN SHODAQOH SAMPAH (SEKOLAH SEDEKAH SAMPAH), Pengelolaan air dengan GERAKAN MEMANEN AIR HUJAN, Pengelolaan lingkungan sungai dengan SEKOLAH SUNGAI MUHAMMADIYAH, Pengelolaan Pesantren, Masjid, dan Sekolah dengan GERAKAN ECO PESANTREN, ECO MASJID & GREEN SCHOOL, Pengelolaan Hutan Pendidikan & Pusat Keanekaragaman Hayati, Sekolah Tangguh Bencana & Lingkungan, Kuliah Kerja Nyata Tematik Lingkungan Hidup, Pengawalan/Jihad KONSTITUSI melalui UU SDA, Mengembangkan Audit Lingkungan Mandiri Muhammadiyah (ALiMM), Pelatihan Kader Lingkungan Hidup, Penghijauan & Penanaman Pohon Produktif, Pembuatan Sumur Resapan, Kampanye Lingkungan Hidup.(ddp)

Related Article

View More

Comment

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018