#

Bantul—lingkunganmu.com—Eco Drainase merupakan konsep pengelolaan air hujan dan limpasannya pada sistem drainase perkotaan dan lebih baik diterapkan untuk perencanaan yang berkelanjutan yang sedang berjalan. Eco Drainase diartikan sebagai suatu usaha membuang/mengalirkan air kelebihan ke sungai dengan waktu seoptimal mungkin sehingga tidak menyebabkan terjadinya masalah kesehatan dan banjir di sungai terkait (akibat kenaikan debit puncak dan pemendekan waktu mencapai debit puncak). 

Drainase ramah lingkungan didefinisikan sebagai upaya mengelola air kelebihan dengan cara sebesar-besarnya diresapkan ke dalam tanah secara alamiah atau mengalirkan ke sungai dengan tanpa melampaui kapasitas sungai sebelumnya. Dalam drainase ramah lingkungan, justru air kelebihan pada musim hujan harus dikelola sedemikian sehingga tidak mengalir secepatnya ke sungai. Oleh karenanya, konsep Eco Drainase adalah konsep yang sangat revolusioner akan lingkungan karena dalam pembahasannya ditawarkan dapat menyadarkan masyarakat akan adanya konsep yang lebih memerhatikan lingkungan sekitar.

Sekolah Kader Lingkungan Muhammadiyah yang dilaksanakan oleh MLH PP Muhammadiyah di UM Yogyakarta pada 21-22 Desember 2019, salah satu materinya adalah Memanen Air Hujan. Menurut Hery Setiyawan, Pemateri  menyatakan bahwa “dalam memanen air hujan resepnya adalah TRAP (Tampung, Resapkan, Alirkan, Pelihara). Fungsi sistemik TRAP adalah tampungan air bersih, mengurangi banjir, mengurangi kekeringan, konservasi air tanah, menjaga kelembapan udara, persediaan air bersih untuk peningkatan kesehatan, dimensi sistem saluran drainase kecil-murah, masterplan mudah makin ramah lingkungan, memenuhi konservasi, pemanfaatan, pengendalian dan berkelanjutan”.

Tampung (Air Hujan untuk pemenuhan kebutuhan air domestik dan industri serta mengurangi banjir dan kekeringan, meningkatkan kualitas kesehatan dan lingkungan serta membangun budaya santun). Resapkan (Sumur respan, Areal atau taman resapan, Sumur penduduk untuk peresapan, Kolam , embung, danau peresapan, Lubang Biopori, dll). Alirkan (Setelah Ditampung, Diresapkan baru diatuskan, Hindari kering di Hulu, Hindari genangan/banjir di Hilir). Pelihara (Mendorong Terbentuknya MPAH atau Masyarakat Peduli Air Hujan).

Lebih lanjut Hery, yang juga Ketua MLH PDM Kota Yogyakarta ini menegaskan bahwa “Air Hujan adalah Rahmad Allah SWT yang diberikan secara cuma-cuma untuk dikelola dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk umat manusia, binatang, tumbuhan dan semua material non hayati yang membutuhkannya. Saat tidak turun hujan kita berduyun-duyung sholat istiqo ‘ mohon diturunkan hujan. Setelah hujan turun kita biarkan begitu saja kita semua lupa berterimakasih pada hujan dan syukur kepada  Sang Pencipta”.

Pemanenan air hujan (rains harvesting) adalah upaya perolehan, pengumpulan dan pemanfaatan air hujan dengan tujuan untuk penyediaan air minum, air bersih, pengairan, pengairan dan pertanian. Sehingga diperlukan adanya sosialisasi dalam arti sesungguhnya yang meliputi komunikasi, internalisasi dan implementasi dari seluruh stakeholders.

Dalam Eco drainase sudah ada beberapa konsep, yaitu metode kolam konservasi, metode sumur resapan, metode river side polder, dan metode pengembangan ereal perlindungan air tanah (ground water protection area). Konsep yang ditawarkan ramah lingkungan, lebih sedikit resiko banjir, longsor, kerusakan lingkungan, dll. Air yang mengalir tidak cepat-cepat di alirkan ke sungai, tetapi dengan cara diresapkan ke tanah/kolam/sumur alami ataupun buatan dengan maksud menjaga kualitas tanah sekitar tempat pengaliran air.

Penerapan beberapa tipe Eco Drainase sesuai dengan kondisi sub daerah tangkapan air diprediksi lebih efektif dalam menurunkan debit limpasan hujan. Adapun struktur yang digunakan yaitu sumur resapan, bioretensi dan perkerasan permeable (ddp).

Related Article

View More

Comment

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018