#

Oleh Gatot Supangkat

Manusia memanfaatkan atau mengambil apa saja yang tersedia di alam bukan lah suatu tindakan yang salah karena memang alam dicipta oleh Al Khaliq untuk kemakmuran manusia, sebagaimana tersurat dalam Al Qur’an surat (QS) Al Baqarah ayat 29: ” Dia lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu”. Dengan demikian, suatu hal yang wajar apabila manusia melakukan eksplorasi terhadap alam untuk memenuhi kebutuhannya. Awalnya, tindakan eksplorasi terhadap alam itu intensitasnya kecil dengan cara yang sederhana, tetapi kemudian dari waktu ke waktu meningkat intensitas dan cara eksplorasinya seiring dengan meningkatnya populasi manusia yang diikuti dengan semakin kompleksnya keinginan yang harus dipenuhi. Manusia mengambil secara berlebihan dari alam hanya untuk memenuhi keinginannya (baca nafsu) bukan didasarkan pada kebutuhannya sehingga tindakannya menjadi tidak terkendali. Padahal, alam memiliki keterbatasan dalam menopang kehidupan manusia dan Al Khaliq telah mengingatkan kepada manusia agar janganlah berlebihan dalam memenuhi kebutuhannya (QS Al An’aam: 141 dan Al A’raaf: 31).

Itulah yang menyebabkan timbulnya bencana alam akhir-akhir ini, seperti banjir, kekeringan, tanah longsor, wabah penyakit, ledakan jasad pengganggu tumbuhan, semakin menipisnya ketersediaan air, semakin menurunnya kualitas air dan yang terakhir terjadinya luapan lumpur. Akibat dari bencana itu, manusia juga yang merasakan dan menanggung risikonya sehingga lebih jauh dari itu akan berpengaruh terhadap keberlanjutan kehidupan manusia sendiri.

Fenomena bencana di atas sebagai bukti bahwa manusia tidak menghiraukan peringatan yang telah disampaikan oleh Allah jauh sebelum kehidupan manusia berkembang seperti sekarang ini, sebagaimana tersurat dalam QS Ar Ruum ayat 41: ”Telah nampak kerusakan di darat dan laut disebabkan oleh perbuatan manusia, supaya mereka merasakan sebagian dari perbuatannya, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” dan 46 ayat lainnya yang intinya juga memperingatkan manusia agar jangan berbuat kerusakan di bumi. Jelaslah bahwa Allah sebagai pencipta alam semesta tidak melarang manusia untuk memanfaatkan alam ini tetapi janganlah sampai merusaknya.  Terus, bagaimanakah seharusnya tindakan manusia terhadap alam ini?     

Sebagaimana telah banyak dituntunkan dalam Al Qur’an bahwa manusia dipersilahkan memanfaatkan alam tetapi juga harus sadar ketika memanfaatkan tidaklah berlebihan sehigga dapat menimbulkan kerusakan atau bencana bagi dirinya sendiri di kemudian hari. Untuk mencapai pemahaman imanensial (yang menempatkan manusia sebagai bagian alam yang tak terpisahkan) seperti itu tidaklah mudah tetapi itu harus diusahakan, dan Islam telah memberikan tuntunan metodenya. Yaitu melalui ibadah puasa wajib di bulan Ramadhan seperti yang kita jalani ini. Puasa bertujuan melatih manusia untuk mengendalikan diri dari segala keinginan baik lahiriah maupun batiniah dalam mencapai keselamatan dan keserasian kehidupannya (derajat muttaqin).

Dalam hal ini, terutama pengendalian diri dalam memanfaatkan alam agar fungsinya lestari karena kelestarian alam/lingkungan akan berdampak pada keselamatan dan keberlanjutan kehidupan manusia . Artinya, apabila manusia akan mengambil (mengeksplorasi) atau bertindak sesuatu terhadap alam maka ketika  itu harus terpikir pula dampak negatif apa yang akan muncul (misal ketika menebang pohon atau membangun bangunan di daerah hulu atau di bantaran sungai, atau membuang sampah, apalagi bahan berbahaya dan beracun di sungai atau selokan, dan lainnya). Seperti itulah Pemikiran dan Perilaku khalifatullah fil ard (QS Al Baqarah: 30) sebagaimana yang diharapkan oleh Allah terhadap manusia (sebagai wakil Allah dalam memimpin, memelihara, mengatur dan mengelola alam ini).

Muhammadiyah sangat perhatian dengan hal di atas, sebagaimana Falsafah Ajaran Hidup KH Ahmad Dahlan Butir 1 (pertama) yang menyebutkan bahwa ”Hidup hanya sekali maka haruslah berhati-hati”, tercantum pula dalam Pedoman Hidup Islami Muhammadiyah (PHIM) khususnya tentang Perilaku terhadap Lingkungan dan terakhir ditegaskan dalam Muktamar ke-47 di Makasar tentang Peran Aktif Muhammadiyah dalam penanganan Isu-isu Keumatan, Kebangsaan dan Kemanusiaan. Terkait dengan Penyelamatan dan Pengelolaan Lingkungan, Muhammadiyah melalui Majelis Lingkungan Hidup telah meneguhkan komitmen “Gerakan Muhammadiyah Menyejukkan Bumi”.

 

Motto MLH PP Muhammadiyah:

SEJUK BUMIKU NYAMAN HIDUPKU AMAN DAN TENTRAM

MASA DEPAN ANAK CUCUKU

                           

Sejak tahun 2003, Muhammadiyah telah menjadikan program lingkungan sebagai bagian tidak terpisahkan dari program organisasi. Pada tahun itu Muhammadiyah membentuk Lembaga Studi dan Pemberdayaan Lingkungan Hidup. Keberadaan lembaga ini difokuskan pada upaya mengidentifikasi dan membangun pijakan dasar mengenai corak dan pilihan kegiatan gerakan lingkungan yang akan dibangun oleh Muhammadiyah.

Pasca Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang PP Muhammadiyah membentuk Lembaga Lingkungan Hidup (LLH). Periode berhasil dirumuskan beberapa hal elementer terkait pilihan gerakan lingkungan yang dilakukan oleh Muhammadiyah, yaitu terkait konsep Teologi Lingkungan dan Pendidikan Lingkungan. Pilihan ini didasarkan pada pemikiran bahwa perubahan mindset dan perilaku manusia terhadap alam dan lingkungan merupakan hal mendasar yang harus dilakukan agar proses gerakan dan budaya ramah lingkungan dalam kehidupan masyarakat dapat terwujud. Selain itu, periode ini berhasil melakukan komunikasi lembaga dengan berbagai komponen penggerak lingkungan, baik nasional maupun internasional.

Selanjutnya, pasca Muktamar Muhammadiyah ke-46 (1 Abad) PP Muhammadiyah mengembangkan Lembaga Lingkungan Hidup (LLH) menjadi Majelis Lingkungan Hidup (MLH). Perubahan ini memiliki tanggung jawab agar Majelis dapat mempercepat transformasi gerakan lingkungan di dalam tubuh Muhammadiyah. Gerakan lingkungan Muhammadiyah bukanlah sebatas mengikuti trend global, tetapi harus menjadi trendsetter sesuai prinsip gerakan Muhammadiyah yang mengembangkan Islam berkemajuan. Peranan Muhammadiyah sebagai INTERMEDIARY (Amar ma’ruf nahi munkar-tawa shaubil haq wa tawa shaubish shabri). Artinya, Muhammadiyah melihat secara obyektif terhadap terjadinya kerusakan lingkungan yang dapat disebabkan oleh swasta (pengusaha), masyarakat dan pemerintah (produk kebijakan), maka WAJIB mengingatkan kepada siapa pun.

Partisipasi aktif Muhammadiyah dalam pengelolaan dan penyelamatan lingkungan ditegaskan lagi dalam Muktamar ke-47 di Makasar. Penegasan itu dituangkan dalam salah satu keputusan Muktamar ke-47 yang dimuat dalam Berita Resmi Muhammadiyah Nomor 1, Zulhijah 1436 H/September 2015, yang berbunyi “Muhammadiyah senantiasa bergerak dalam lingkungan umat,bangsa dan dunia kemanusiaan universal yang sarat dinamika, masalah dan tantangan aktual yang kompleks dengan keniscayaan melakukan ikhtiar. Pencermatan terhadap masalah dan tantangan, antisipasi dan memberikan solusi strategis dalam bingkai Islam berkemajuan menuju pencrahan peradaban. Isu-isu yang terkait dengan lingkungan, yaitu Keumatan (Membangun Budaya Hidup Bersih dan Sehat), Kebangsaan (Mengatasi Krisis Air dan Energi) dan Universal (Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim).

          Berbagai program telah disusun dan dilaksanakan oleh MLH Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PPM), baik yang sifatnya konseptual maupun praksis. Pada tingkatan konseptual telah disusun berupa buku-buku baik filosofis maupun praktis, diskusi lingkungan dan advokasi. Untuk program praksisnya telah dikembangkan aksi-aksi nyata, antara lain pembangunan Kawasan Penyejuk Bumi (KPB), Green School/Campus, Shadaqah Sampah (launching 2011) dan kampanye lingkungan.

MLH PP Muhammadiyah juga telah Menegaskan dan Menguatkan Program Utamanya, yaitu Pendidikan Lingkungan. Program ini perlu ditegaskan kembali, mengingat kerusakan lingkungan yang eskalasinya semakin meningkat hanya dapat dihambat atau bahkan dihentikan melalui Pendidikan. Indikator keberhasilan dalam implementasi program ini, yakni Terjadinya Perubahan Pola Pikir Manusia terhadap Lingkungan yang diujudkan dengan Perubahan Perilaku yang Ramah Lingkungan.

Kita patut bersyukur beberapa MLH Pimpinan Muhammadiyah Wilayah/Daerah/Cabang/Ranting telah merumuskan dan mengaplikasi program-program konkrit untuk penyelamatan lingkungan seperti Sekolah Sungai Muhammadiyah (SSM) yang diinisiasi PWM DIY, Sekolah Sedekah Sampah oleh PSLHK UMM, KKN Tematik Lingkungan Hidup oleh UMMI, Gerakan Shodaqoh Sampah berbasis Masjid oleh MLH PDM Kota Yogyakarta, Sekolah Tangguh Bencana oleh MLHPB PWM Jawa Timur, Pengelolaan Gedung Ramah Lingkungan oleh MLH PWM Sulsel,  Pengembangan Pengelolaan Hutan Pendidikan oleh UM Palangkaraya, Gerakan Menanam Pohon Produktif dan Pengolahan Plastik menjadi Cone Block, Kursi/Meja Taman  oleh MLH PDM Kota Bekasi, Gerakan Hijau Masjidku dan Bersih Udaraku oleh MLH PWM Sultra, Gerakan Memanen Air Hujan oleh MLH PDM Kota Yogyakarta, Sekolah Kader Lingkungan oleh MLH PWM Jawa Barat, Duta Lingkungan Hidup oleh MLH PWM Kalimantan Selatan  dan masih banyak gerakan-gerakan penyelamatan lingkungan yang dilakukan Muhammadiyah baik di wilayah/daerah/cabang/ranting.

Related Article

View More

Comment

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018