#

Jakarta—lingkunganmu.com--Aliansi internasional lintas agama yang akan membawa pengaruh moral dan kepemimpinan berbasis agama pada upaya untuk mengakhiri penggundulan hutan tropis yang bernama Interfaith Rainforest Initiaitive (IRI) Indonesia akan dideklarasikan pada 31 Januari 2020 di Jakarta. IRI berfungsi sebagai wadah bagi para pemimpin agama dan komunitas agama untuk bekerja bahu membahu dengan masyarakat adat, pemerintah, masyarakat sipil, dan dunia usaha dalam aksi-aksi yang melindungi hutan tropis dan melindungi mereka yang berperan sebagai penjaganya.

Mitra Interfaith Rainforest Initiative termasuk Religions for Peace, GreenFaith, Parliament of the World's Religions, the World Council of Churches, the Yale Forum on Religion and Ecology serta Norway's International Climate and Forest Initiative, Rainforest Foundation Norway, and UN Environment Programme. Prakarsa ini bergerak secara global untuk membawakan suara moral tentang perlindungan hutan ke forum pembuat kebijakan internasional tentang lingkungan, perubahan iklim, masalah masyarakat adat dan pembangunan berkelanjutan.

Ada tiga tujuan utama dari IRI Indonesia, yakni: (i) mendidik dan meningkatkan kesadaran tentang krisis penggundulan hutan dan membekali para pemimpin agama dengan pengetahuan, perangkat pendidikan, dan pelatihan yang diperlukan untuk menjadi pendukung efektif untuk perlindungan hutan tropis; (ii) menggerakkan aksi berbasis agama dengan menghubungkan para pemimpin agama dengan mitra dari berbagai sektor untuk meningkatkan dampak secara kolektif; dan (iii) mempengaruhi kebijakan dan mengadvokasi pemerintah dan perusahaan untuk mengadopsi, memenuhi dan memperluas komitmen mereka untuk melindungi hutan tropis dan hak-hak masyarakat adat yang berperan sebagai penjaganya.

Menurut Dr. Ir. Gatot Supangkat, MP, Sekretaris Majelis Lingkugan Hidup PP Muhammadiyah menyambut baik adanya Deklarasi IRI Indonesia ini, “Muhammadiyah menyambut ikhtiar nyata dari prakarsa lintas agama, LSM dan Masyarakat Adat ini untuk melindungi dan menyelamatkan hutan tropis. Kita ketahui bersama bahwa masalah perlindungan dan penyelamatan hutan tropis ini tidak bisa ditangani sendiri, tetapi harus diikhtiari secara bersama-sama stakeholders terkait, termasuk di dalamnya majelis-masjelis agama, LSM dan masyarakat adat”.

Lebih lanjut Kepala LP3M Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini menegaskan bahwa “ikhtiar nyata seperti peningkatan kesadaran publik tentang krisis perlindungan dan penyelanatan hutan tropis, promosi pengajaran tentang spiritual/moral, ilmiah, kemanusiaan dan hak asasi manusia untuk mengakhiri penggundulan hutan tropis, dan advokasi kebijakan pemerintah untuk melindungi hutan tropis serta hak-hak masyarakat adat perlu mendapat perhatian dan solusi bersama”.

Penghancuran hutan tropis akan menghambat upaya terhadap pengentasan kemiskinan, perubahan iklim, konservasi keanekaragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan. Hutan adalah satu-satunya solusi alami yang aman, terbukti, dan solusi alami untuk menangkap dan menyimpan karbon. Penggundulan hutan tropis merupakan sumber utama emisi gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim. Perlindungan, restorasi dan pengelolaan hutan yang berkelanjutan merupakan sepertiga solusi perubahan iklim. Meskipun sudah ada kerjasama masyarakat adat, pemerintah, masyarakat sipil dan mitra usaha yang bekerja untuk melindungi hutan tropis, namun masih diperlukan kepemimpinan dan momentum baru untuk mencapai kecepatan dan skala perubahan yang berarti. Kerjasama lintas agama sangat penting untuk menghentikan penggundulan dan mengembalikan hutan tropis. Sudah saatnya untuk membuat perlindungan hutan tropis dan hak-hak masyarakat adat menjadi perhatian moral bersama dan prioritas agama (ht).

Related Article

View More

Comment

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018