#

Pontianak—lingkuganmu.com—Badan Restorasi Gambut Republik Indonesia bermitra dengan Muhammadiyah menggelar “Sosialisasi Program Edukasi dan Pemberdayaan Masyarakat Muhammadiyah Peduli Gambut” pada  16 Oktober 2020 via Zoom Meeting.

Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG, Dr. Myrna A. Safitri dalam sambutannya mengatakan dari sisi luasan, belum ada negara mana pun yang menandingi lahan gambut Indonesia. Berdasarkan data Wetland Internasional (2008) bahwa luas lahan gambut global adalah 381,4 juta hektar yang terbesar dikawasan Eropa dan Rusia (44,08 %), Amerika (40,50 %), Afrika (3,41%) Indonesia (6,95%) Asia lainnya (2,74%), Australia dan Pasifik (1,91%) dan Antartika (0,41%). Sedangkan berdasarkan negara urutan terbesar adalah Rusia (137,5 juta Ha), Kanada (113,4 juta Ha), USA (22,4 juta Ha), dan Indonesia (18,5 juta Ha). Dengan demikian Indonesia bukan pemilik lahan gambut terbesar dunia namun termasuk dalam empat besar negara yang memiliki lahan gambut terluas.

Hal menarik lainnya bahwa restorasi lahan gambut yang ada di Indonesia tidak berada di ruang kosong. Ada jutaan orang yang hidup di lahan gambut dengan berbagai aktivitas yang dilakukan. Target restorasi dilakukan di lahan konvervasi, area konsesi dan Kawasan lain. BRG RI juga sudah membangun berbaga macam dalam jumlah besar infrastruktur pembasahan lahan, sekat kanal, sumur bor dan lai-lain. Melalui program Desa Peduli Gambut di 525 Desa dan Kelurahan yang didampingi khusus di Kalimantan Barat ada 90 Desa yang didampingi baik langsung oleh BRG RI ataupun Kerjasama dengan Ormas/LSM dan beberapa perusahaan.

Myrna menegaskan bahwa yang igin dicapai dari Desa Peduli Gambut bukan semata-mata mendukung kegiatan restorasi gambut, namun berharap pelaksanaan restorasi gambut yang ada di Desa tersebut, dapat mendukung upaya pemerintah Desa dan Pemerintah Daerah untuk meningkatkan status ekonominya. 

Sementara itu, Dr. Ir. Suwignya Utama, MBA., Kapokja Edukasi dan Sosialisasi BRG menyampaikan pendekatan yang dilakukan yakni dengan membangun kepedulian dan mendorong partisipasi masyarakat dalam restorasi gambut. Restorasi ini tidak bisa dilakukan secara parsial, tetapi memerlukan Kerjasama banyak pihak. “Yang kami lakukan adalah bagaimana mendorong kepedulian dan partisipasi masyarakat daam restorasi gambut”, ungkapnya.

Sampai dengan bulan Juli 2020, peran dan partisipasi masyarakat di Kalimantan Barat sudah 90 Guru yang dilatih dan pemberian alat peraga mengenai lahan gambut untuk proses pembelajaran. 76 Fasilitator Desa Peduli Gambut, 236 Petani Peduli Gambut dan 135 orang Paralegal. “Ke depan BRG RI berharap kepada Pemerintah Daerah untuk bisa menindaklanjuti upaya-upaya yang telah dilakukan melalui Sekolah Lapang Petani Gambut dengan 57 titi mini demplot”. Pangkasnya.

Narasumber lain adalah Denie Amiruddin, SH., MH., Dosen UM Pontianak mencoba mendefinisikan Paralegal adalah setiap orang yang sudah terlatih dan mempunyai pengetahuan dan keterampilan di bidang hukum  yang membantu penyelesaian masalah hukum yang dihadapi oleh orang lain atau komunitasnya. Paralegal ini memiliki peran membantu penanganan hukum kepada masyarakat secara cuma-cuma (Pro-bono) yang bersifat non-litigasi (di luar hukum acara dalam persidangan). Sedangkan Peran dan Fungsinya adalah  Edukasi (Melakukan Pelatihan dan Kampanye penyadaran kepada masyarakat tentang pentingnya peduli gambut), Sosialisasi (Melakukan sosialisasi terhadap peraturan perundangan dan informasi penting lainnya yang berkaitan dg gambut). Advokasi (Pendampingan kepada masyarakat yang berhadapan dg hukum, mediasi dan penanganan konflik),

Dr, Ir. Gatot Supangkat, MP., Sekretaris MLH PP Muhammadiyah dalam acara tersebut menegaskan bahwa Pendekatan Agama merupakan pilihan efektif karena berbasis pada kesadaran Teologis – Imanensial. Mengelola lingkungan adalah bagian dari ibadah dan memenuhi tugas dan fungsi sebagai khalifah (Al-Baqarah: 30). Oleh karena itu, “Sikap dan perilaku terhadap lingkungan sesungguhnya menunjukkan kualitas iman seseorang (memelihara lingkungan hidup merupakan bagian dari iman)”, tandasnya.

Lingkungan untuk kehidupan masa depan yang berkelanjutan sehingga diperlukan sikap rasa kepemilikan dan konsistensi (istiqomah) dalam pengelolaannya sedangkan Advokasi dengan semangat islah melalui pendampingan masyarakat dan musyawarah dengan stakeholder  menjadi penting sehingga dibutuhkan Pengorganisasian dan Kerjasama yang erat dan sinergi yang kuat (ddp).

Related Article

View More

Comment

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018