#

Hutan tropis adalah ekosistem berupa hutan yang selalu basah atau lembab, pohon-pohonnya tinggi, rapat dan berdaun lebat, memiliki kanopi, dasar hutan ditumbuhi rumput dan lumut sebagai penutup lahan, udara di sekitarnya sangat lembab, terjadi di daerah curah hujan tinggi, memiliki keanekaragaman biota yang tinggi, serta memiliki hubungan simbiotik antar spesies.

Fungsi hutan tropis adalah menyediakan rumah bagi banyak flora dan fauna, membantu menstabilkan iklim dunia, melindungi dari banjir, kekeringan dan erosi, sumber obat-obatan dan makanan, menyokong kehidupan manusia suku pedalaman, tempat menarik untuk dikunjungi, sumber plasma nutfah serta membantu menjaga peredaran air.

Kerusakan atau ancaman yang paling besar terhadap hutan tropis di Indonesia adalah penebangan liar, alih fungsi hutan menjadi perkebunan, kebakaran hutan dan eksploitasi hutan secara tidak lestari baik untuk pengembangan pemukiman, industri, maupun akibat perambahan. Kerusakan hutan yang semakin parah menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem hutan dan lingkungan di sekitarnya. 

Ancaman kerusakan hutan tropis ini harus diatasi secara terencana, sistematis, dan berkesinambungan agar tidak tergolong kepada orang yang membiarkan generasi masa depan hidup dalam kerusakan ekologi. Hutan tropis dengan cepat dirusak: dari Amazon kelembah Kongo dan Asia Tenggara. Penghancuran hutan tropis akan menghambat upaya internasional terhadap pengentasan kemiskinan, perubahan iklim, konservasi keanekaragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan.

Penyebab kerusakan hutan tropis secara umum bisa dikategorikan dalam dua faktor yaitu akibat peristiwa alam dan akibat ulah manusia. Letusan gunung berapi, banjir, abrasi, tanah longsor, angin puting beliung, gempa bumi, dan tsunami merupakan beberapa contoh bencana alam. Bencana-bencana tersebut menjadi penyebab rusaknya hutan tropis akibat peristiwa alam. Meskipun jika ditelaah lebih lanjut, bencana seperti banjir, abrasi, kebakaran hutan, dan tanah longsor bisa saja terjadi karena adanya campur tangan manusia juga.

Kerusakan yang disebabkan oleh manusia ini justru lebih besar dibanding kerusakan akibat bencana alam. Hal ini mengingat kerusakan yang dilakukan bisa terjadi secara terus menerus dan cenderung meningkat. Kerusakan ini umumnya disebabkan oleh aktivitas manusia yang tidak ramah lingkungan seperti perusakan hutan dan alih fungsi hutan, pertambangan, pencemaran udara, air, dan tanah dan lain sebagainya.

Beberapa fakta terkait tingginya kerusakan hutan tropis di Indonesia akibat kegiatan manusia antara lain laju deforestasi mencapai 1,8 juta hektar/tahun yang mengakibatkan 21% dari 133 juta hektar hutan Indonesia hilang. Hilangnya hutan menyebabkan penurunan kualitas lingkungan, meningkatkan peristiwa bencana alam, dan terancamnya kelestarian flora dan fauna. Ratusan flora dan fauna Indonesia yang langka dan terancam punah. Menurut catatan IUCN Redlist, sebanyak 76 spesies fauna Indonesia dan 127 flora berada dalam status keterancaman tertinggi yaitu status Critically Endangered (Kritis), serta 205 jenis fauna dan 88 jenis flora masuk kategori Endangered, serta 557 spesies fauna dan 256 flora berstatus Vulnerable.

Berbagai upaya mengatasi solusi kerusakan hutan tropis inilah sebagai umat beragama, LSM dan masyarakat adat harus memainkan peran terdepan dan strategis untuk secara maksimal melindungi hutan tropis, karena menjaga dan melindungi hutan tropis merupakan ikhtiar yang mulia. Ikhtiar nyata seperti meningkatkan kesadaran publik tentang krisis penggundulan hutan tropis, mempromosikan pengajaran tentang spiritual, moral, ilmiah, kemanusiaan dan hak asasi manusia untuk mengakhiri penggundulan hutan tropis, membantu tiap tempat ibadah, komunitas, dan organisasi untuk mengambiltindakan, mendorong gaya hidup dan praktik dunia usaha bebas penggundulan hutan, advokasi kebijakan pemerintah untuk melindungi hutan tropis dan hak-hak masyarakat adat, mendesak pemerintah dan komunitas internasional untuk menempatkan perlindungan hutan sebagai upaya inti untuk mencapai tujuan perjanjian iklim Paris perlu diikhtiari secara terus menerus oleh umat beragama, LSM dan masyarakat adat.

Prakarsa Lintas Agama Untuk Hutan Tropisatau Interfaith Rainforest Initiative (IRI) adalah aliansi internasional lintas agama yang berupaya memberikan urgensi moral dan kepemimpinan berbasis agama pada upaya global untuk mengakhiri penggundulan hutan tropis. IRI merupakan wadah bagi para pemimpin agama dan komunitas agama untuk bekerja bahu-membahu dengan masyarakat adat, pemerintah, LSM, dan pelaku bisnis terkait aksi-aksi untuk melindungi hutan tropis dan hak-hak mereka yang berperan sebagai pelindungnya. Prakarsa ini percaya bahwa sudah tiba saatnya bagi gerakan dunia untuk merawathutan tropis, yang didasarkan pada nilai yang melekat pada hutan, dan diilhami oleh nilai-nilai, etika, dan panduan moral keagamaan.

Mengingat posisi penting Indonesia sebagai salah satu dari lima negara yang memiliki lebih dari 70 persen hutan tropis dunia yang tersisa, United Nations Environment Programme (UNEP), organisasi lintas agama dunia dan mitra lintas agama Indonesia, merencanakan untuk melakukan lokakarya, dialog serta meluncurkan program IRI Indonesia pada 30 hingga 31 Januari 2020 di Jakarta. Acara ini akan dihadiri oleh 200 peserta dari 12 provinsi di Indonesia yang terdiri dari para pemrakarsa, pimpinan majelis keagamaan, masyarakat adat, para ahli, LSM, pemerintah, sertaorganisasi-organisasi internasional yang saat ini sudah bekerja bahu-membahu di negara Brasil, Kolombia, Kongo, dan Peru melalui Interfaith Rainforest Initiative, yaitu PBB, Religions for Peace, Rainforest Foundation Norway, dan Green Faith (ht).

 

Related Article

View More

Comment

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018