#

Jambi—lingkunganmu.com—Universitas Muhammadiyah Jambi menggelar webinar dengan mengambil tema “Sosialisasi Program Edukasi dan Pemberdayaan Masyarakat Muhammadiyah Peduli Gambut” pada Sabtu, 2 Oktober 2020 dengan narasumber Dr. Ir. Suwignya Utama, MBA (BRG RI), Eko Priyo Purnomo, Ph.D. (MLH PP Muhammadiyah), dan Ika Dwimaya Rosa, SH., MH (Dosen UM Jambi).

Myrna A. Safitri, Deputi Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG RI dalam sambutannya menyatakan bahwa "BRG RI telah mengintroduksi sebuah pertanian tanpa bakar. Jadi kegiatan-kegiatan pemanfaatan lahan pertanian dengan teknologi tanpa bakar telah disampaikan kepada masyarakat yang biasa bertani".

Metode pengolahan pertanian tanpa bakar ini sangat ramah lingkungan karena mempertahankan bahan organik tanah dan sejumlah hara tanah serta mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Selain itu, mekanisasi dan dekomposer, turut juga mempertahankan keanekaragaman hayati, menghindari masalah hukum yang merugikan dan akan membantu mengurangi polusi udara akibat kebakaran, kabut asap (haze) yang mengganggu kesehatan, transportasi dan berbagai aktivitas ekonomi.

Sementara itu, Kepala Kelompok Kerja bidang Edukasi dan Sosialisasi BRG RI, menyebutkan bahwa metode pengelolaan lahan tanpa bakar menjadi solusi kerusakan lahan gambut. "Salah satu yang penting dan harus dilakukan yaitu perilaku dalam mengelola gambut ini dengan cara yang baik dan ramah lingkungan," kata Dr. Ir. Suwignya Utama, MBA.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa “Pengolahan Lahan Tanpa Bakar dibuat dengan basis dari desa-desa di sekitar wilayah restorasi gambut. Saat ini, terdapat 256 Desa Peduli Gambut (DPG) yang dibuat BRG maupun bekerja sama dengan lembaga donor. Kegiatan Sekolah Lapang Petani Gambut adalah salah satu program untuk menjawab persoalan petani. Sebab, sebagian petani tergantung pada lahan, mau tidak mau memanfaatkan lahan untuk hidup. Larangan membakar diberikan karena sangat berbahaya. Sulit memadamkan api. Untuk itu petani gambut belajar mengelola dengan ramah lingungan dan menggunkan pupuk alami," tandas Suwignya.

Lahan gambut merupakan suatu ekosistem yang memiliki kekayaan vegetasi dan penyimpan karbon sebesar 3,5 persen yang terdapat di muka bumi. Luas lahan rawa gambut di Indonesia adalah  sekitar 20,6 juta hektar dan sebagian besar terdapat di empat pulau besar, yaitu Sumatera 35 persen, Kalimantan 32 persen, Sulawesi 3 persen dan Papua 30 persen. Saat ini kondisi lahan gambut di Indonesia mengalami penurunan yang sangat cepat yaitu selama kurun waktu 10 tahun jumlah total lahan gambut Indonesia yang terdegradasi adalah sebesar 2,2 juta hektar.

Salah satu penyebab kerusakan lahan gambut tersebut adalah kebakaran lahan dan berdampak pada kerugian lingkungan dan ekonomi yang besar. Bahkan, juga berdampak pada hilangnya biodiversitas ekosistem gambut dan meningkatnya emisi gas rumah kaca (GRK) .

Pengelolaan lahan gambut tanpa bakar sebagai salah satu opsi untuk mendukung revegetasi dan pertanian di lahan gambut.  Hal ini sebagai upaya untuk menjaga ekosistem gambut sebagai penyangga kehidupan dan pengelolaan ekosistem gambut secara berkelanjutan.

Untuk mendorong pengelolaan lahan gambut tanpa bakar ini menurutnya diperlukan peningkatan sosialisasi pengelolaan lahan gambut yang ramah lingkungan dan produktif agar masyarakat luas dapat memahami pentingnya menjaga kelestarian lahan gambut untuk kesehatan lingkungan di masa mendatang.

Perlu dibangun partisipasi masyarakat dalam restorasi gambut dan memberikan solusi pemanfaatan gambut yang ramah lingkungan melalui pengembangan pengetahuan dan inovasi local. Beberapa petani masih menggunakan praktik pembakaran dalam penyiapan lahannya. Oleh karena itu, meningkatkan edukasi dan kesadaran para petani dalam mengelola lahan gambut secara bijak dan ramah lingkungan perlu dilakukan.  Disamping itu, kegiatan inovatif penyiapan lahan tanpa bakar dan penggunaan pupuk organik diharapkan dapat meningkatkan produktivitas lahan gambut baik dalam bentuk agroforestry maupun aktivitas budidaya pertanian di lahan gambut.

Eko Priyo Purnomo, Ph.D., mengawali paparannya dengan menguraikan tentang Pandangan al-Qur’an terhadap Alam  dan Hubungannya dengan Manusia.

“Firman Allah dalam al-Qur’an lebih banyak ditujukan kepada manusia dan tingkah lakunya dan bukan ditujukan kepada Tuhan. Sudah sejak 14 abad yang lalu, al-Qur’an berbicara mengenai “daur ulang” lingkungan hidup yang sehat lewat angin, gumpalan awan, air, hewan, tumbuh-tumbuhan, proses penyerbukan bunga, dan buah-buahan yang saling terkait dalam satu kesatuan ekosistem (lihat QS. al-Baqarah: 22,164, ar-Rum: 48, al-Mu’minun: 18 dan al-Hijr: 22). Al-Qur’an juga menegaskan bahwa Tuhan tidak menciptakan segala sesuatu tidak sia-sia (QS. Ali Imran: 191) dan melarang manusia untuk berbuat kerusakan di bumi (QS. al-A’raf: 56 dan 85)”.

Sementara itu, perbuatan-perbuatan yang dilarang manusia dalam Al-Quran adalah:

Merusak alam yang telah Allah ciptakan dan pelihara bagi kepentingan manusia (QS Al-A’raf:56, 74 dan QS Al-Baqarah:60). Berbuat kecurangan (QS Hud:85 dan QS Asy-Syura:181-183). Pemanfaatan yang tidak seimbang, berlebihan (QS Al-Isra’:25-26          QS Al-An’am:141, QS Al-A’raf:31, QS Ar-Rahman:7-9 dan QS Al-Furqon:67). Mengurangi/mengubah ciptaan Allah di bumi (QS An-Nisa:118-119). Memperkuat dorongan hawa nafsu yang menyuruh untuk melanggar hak orang lain, hidup berlebihan, bermewah-mewahan, boros dan sebagainya (QS Muhammad:22, QS Al-An’am:123, QS Al-Isra’:16)”.

“Berkaitan dengan restorasi gambut kita dapat melihat seringkali praktik pemanfaatan lahan gambut dilakukan dengan tidak benar dan tidak bijak. Contohnya dalam pembukaan hutan di lahan gambut dilakukan dengan pembakaran.
Perilaku seperti ini tidaklah dibenarkan secara lingkungan, hukum dan agama. Oleh karena itu, BRG telah memberikan solusi yang tepat yakni Pembukaan Lahan Tanpa Bakar” ujar Dosen UM Yogyakarta.

Ika Dwimaya Roza, SH., MH., dalam paparannya menjelaskan tentang bahwa “BRG sebagai inisiator membangun komunitas paralegal peduli gambut berbasis komunitas (misal: keluarga sadar hukum) dapat mengoptimalkan peran Masyarakat Peduli Api (MPA) yang merupakan upaya penting dalam mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah-wilayah rawan karhutla. MPA ini dilakukan dengan konsep kesadaran hukum masyarakat yaitu didukung dan supervisi lapangan sehari-hari oleh Kepala Desa, Babinkamtibmas, Babinsa bersama-sama dengan tokoh masyarakat dan para pelaku lapangan bersama  menjaga alam untuk tidak terjadi karhutla. Jadi masyarakat memiliki dan beraktualisasi dengan kesadaran hukum serta menggunakan hak dan kewajibannya dalam mengelola sumber daya alam, pada konteks ini jangan sampai terjadi kebakaran”, kata Dosen UM Jambi ini

Acara webinar ini dihadiri 150 peserta yang terdiri atas Dosen dan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jambi, Ketua PWM/PDM/PRM se Propinsi Jambi dan Petani Gambut serta Masyarakat umum (ddp).

Related Article

View More

Comment

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018