#

Bekasi—lingkunganmu.com—Hasil penelitian menunjukan bahwa ada tujuh komponen masjid berkelanjutan yakni, komponen kebersihan dan kenyamanan dalam ruang (indoor health and comfort/ IHC), manajemen lingkungan bangunan (building environment management/ BEM), konservasi air (water conservation / WAC), efisiensi dan konservasi energi (efficiency and energy conservation/ EEC), tepat guna lahan (appropriate site development / ASD), sumber dan siklus material (material resource and cycle / MRC), dan karakteristik masjid. Ketujuh komponen ini dapat digunakan untuk menilai atau melihat apakah konsep eco-mosque sudah diimplementasikan atau belum.

Secara teknis penerapan ketujuh komponen tersebut secara sederhana dapat dirinci bahwa dalam konsep eco-mosque menurut Hidayat Tri, Anggota MLH PP Muhammadiyah bahwa masjid itu seharusnya memiliki “arsitektur bangunan yang ramah lingkungan (banyak jendela sehingga banyak cahaya dan udara yang masuk dan keluar), memiliki sumur resapan untuk air wudhu dan alat pemanen air hujan, menerapkan Gerakan Shodaqoh Sampah, memanfaatkan energi tenaga surya, ada penghijauan sekitar masjid untuk penyediaan oksigen, keindahan/perindang, dan harus ramah terhadap anak dan difabel”.

Konsep eco-mosque adalah tempat beribadah tetap yang mempunyai kepedulian terhadap hubungan timbal balik antar makhluk hidup dan lingkungannya. Keberhasilan menciptakan kehidupan yang ramah lingkungan merupakan penjelmaan dari hati bersih dan pikiran jernih umat beragama dan merupakan titik-tolak upaya menciptakan negeri yang asri, nyaman, aman Sentosa. Itulah kehidupan Islam yang sebenar-benarnya (baldatun thoyyibatun wa Robbun Ghafur).

Peran masjid sebagai basis pembangunan masyarakat madani, masjid bukan semata-mata dijadikan sarana ibadah ritual (mahdhah), melainkan juga menjadi sarana dan sekaligus kekuatan dalam membangun dan menanamkan nilai-nilai kebaikan dan pembaharuan kehidupan umat.

Memakmurkan masjid tidak bisa hanya dengan ceramah, perlu aksi-aksi nyata untuk membangun kemandirian umat dalam menghadapi ancaman kelangkaan air, pangan dan energi. Hal ini kita lakukan dengan orientasi pengelolaan masjid yang mandiri dan berkelanjutan pada aspek idarah (manajemen), imarah (kegiatan memakmurkan), dan riayah (pemeliharaan dan pengadaan fasilitas).

Masjid Al Jihad yang berlokasi di Kompleks Perguruan Muhammadiyah Kota Bekasi Jalan Mangunsarkoro 45 Kota Bekasi ini secara bertahap menerapkan ketujuh komponen masjid berkelanjutan di atas secara terencana, sistematis dan berkelanjutan. Sampai saat ini, masjid Al Jihad dilengkapi pagar dan dinding pembatas dan tempat sampah dengan bahan-bahan daur ulang sampah.

Menurut Dudi Setyabudi, Ketua MLH PDM Kota Bekasi juga menegaskan bahwa “Masjid Al Jihad ini secara bertahap akan menerapkan konsep eco-Mosque dengan memanfaat bahan-bahan yang ada seperti pagar ruang wudhu lantai atas masjid Al Jihad yang terbuat dari sampah styrofoam. Di sisi lain, bangunan masjid Al Jihad ini dilengkapi dengan sumur resapan untuk Air Hujan dan air bekas Wudhu setta Lobang Biopori. Penggunaan sampah untuk dinding, sekat dan tempat sampah, terakhir sedang direncanakan penggunaan panel tenaga surya sebagai sumber energi”.

Program eco-Mosque diharapkan dapat menjadikan masjid yang mempunyai kepedulian terhadap hubungan timbal balik antar makhluk hidup dan lingkungannya untuk Penghidupan Berkelanjutan, meningkatkan kesadaran bahwa ajaran Islam menjadi pedoman yang sangat penting dalam berperilaku yang ramah lingkungan dan meningkatkan nilai ibadah muamalah melalui penerapan ajaran Islam dalam kegiatan sehari-hari, khususnya dengan ecology sebagai amalan hablum minal alam (ddp).

Related Article

View More

Comment

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018