#

Yogyakarta—lingkunganmu.com--Tim Santri Ma’had Darul Arqam Muhammadiyah Daerah Garut sebagai salah satu finalis dalam National Science Innovation Expo (NSIE) mengunjungi MLH PPM di Yogyakarta, 15 Nopemer 2019 yang bertujuan melakukan studi dan kunjungan lapangan tentang Gerakan Shadaqoh Sampah.

 

Dalam kesempatan tersebut, Ananto Isworo (GSS Kampung Brajan) menegaskan bahwa “pemahaman yang salah terhadap sampah, sangat berdampak pada cara memperlakukan sampah. Anggapan bahwa sampah itu kotor, bau, mengancam kesehatan, dan lain sebagainya, menjadi ‘momok’ bagi sebagian orang, sehingga sampah cenderung menjadi ‘musuh’, maka harus dibuang sejauh-jauhnya. Sebaliknya, jika cara berpikirnya benar tentang apa itu sampah, maka seseorang atau masyarakat akan benar pula dalam memperlakukan sampah. Dengan mengetahui jenis dan manfaat dari mengelola sampah, akan menjadikan perilaku yang ‘bersahabat’ dengan sampah, hingga sampah berubah nilai dari ‘membebani’ menjadi memberkahi.

 

Permasalahan limbah plastik yang sudah begitu banyak di seluruh dunia apalagi banyak pabrik yang memproduksi plastik, karena begitu banyak sampah plastik yang susah terurai sehingga harus ada cara memecahkan masalah ini salah satunya merubah menjadi bahan bakar seperti solar kalau di suling lagi menaikan suhunya bisa menjadi bahan bakar lain seperti premium atau bisa menjadi aftur. Pemanfaatan plastik ini kita sebut kremasi dengan memasukan plastik ke alat tutup rapat dan dipanaskan sehingga akan keluar bahan bakar sisa dari kremasi itu bisa digunakan untuk pupuk. Kedepannya hal ini bisa meningkatkan pendapatan negara, menghasilkan bahan bakar dari limbah plastik, mengurangi limbah plastik. Selain itu juga kita kedepannya ingin membuat aplikasi penjemputan limbah plastik seperti aplikasi yang berkembang sekarang. Hery Setyawan, Anggota Pimpinan MLH PP Muhammadiyah menjelaskan bahwa  “Ada beberapa inovasi yang menjadi model dalam menarik minat masyarakat untuk mau mengelola sampah, menjadi lebih bermanfaat. Mulai dari bank sampah, yang mendapat keuntungan dari tabungan hasil penjualan sampah. Ada model berobat ke Poliklinik dengan menyetor sampah. Warung gratis bayar pakai sampah. Beli pulsa dengan setor sampah. Juga mereproduksi ulang sampah menjadi barang yang lebih bernilai. Semua inovasi tersebut, dikerjakan tidak lain dalam rangka mengurangi volume sampah ke pembuangan akhir, sekaligus meningkatkan nilai manfaat dari sampah. Urgensi gerakan penyadaran dan perilaku orang tersebut merupakan media dakwah bil hal, Penguat modal sosial (tali silaturahim dan kekerabatan), Penguatan kelembagaan persyarikatan (dapat dijadikan amal usaha “alternatif”), Sumber pendanaan dakwah, sosial, dan Pendidikan, Kontribusi real dalam penyelamatan lingkungan (tugas sebagai khalifatullah fil ardl)”.

 

Lebih lanjut Ananto Isworo menawarkan “solusi lain dalam pengelolaan sampah jangka pendek, yakni dengan istilah gerakan shadaqah sampah. Model ini dirancang lebih sederhana dan mengandung unsur ibadah, amal jariyah, saling tolong-menolong (ta’awun) dan saling menanggung (takaful) di dalamnya. Dalam pengelolaan shadaqah sampah, pengurus tidak terbebani oleh manajemen yang rumit. Pencatatan dilakukan secara global dari total pemasukan uang hasil penjualan sampah dan pengeluaran dana yang sudah ditasyarufkan. Paling tidak dalam model shadaqah sampah, tidak harus melakukan pencatatan sekaligus penjumlahan hasil pengumpulan sampah dari masing-masing warga. Karena setiap warga menyetorkan sampah sudah diniatkan sebagai shadaqah.

 

Shadaqah sampah pengelolaannya dikatakan lebih sederhana. Karena dalam konsep shadaqah sampah, warga cukup menyerahkan sampahnya kepada pengelola—baik disetorkan sendiri atau diambil—dengan niatan shadaqah. Ijab qabulnya adalah warga sudah dengan ikhlas hati memberikan kepercayaan untuk menyumbangkan sampahnya, yang selanjutnya akan dikelola sebagai donasi. Pengelola juga diuntungkan karena tidak terbebani oleh tuntutan pengembalian uang dari penjualan sampah, sebab sampah yang terjual telah dianggap sebagai shadaqah dan uang hasil penjualan tersebut disalurkan kepada anak-anak yatim piatu sebagai santunan beasiswa pendidikan anak yatim piatu dan dhuafa, pemberian paket santunan sembako untuk janda fakir miskin, santunan kesehatan bagi setiap warga kurang mampu dan santunan pembinaan Taman Pendidikan Al Qur’an juga Remaja Masjid.

 

Sehingga yang kaya juga tidak merasa sombong karena bisa shadaqah, sebaliknya warga miskin justru merasa bangga dan sederajat dengan yang kaya, karena telah bisa bershadaqah. Dalam konsep shadaqah sampah, yang dinilai bukan volume sampahnya seperti dalam model lain (ddp).

Related Article

View More

Comment

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018