#

Pekanbaru—lingkunganmu.com—Majelis Lingkungan Hidup PWM Riau bekerjasama dengan Badan Restorasi Gambut (BRG) RI selenggarakan Sosialisasi Tematik dengan tema “Pendidikan Edukasi dan Pemberdayaan Masyarakat Muhammadiyah Peduli Gambut” pada 7 Nopember 2020 dengan menampilkan Dr. Myrna A Safitri (Deputi 3 BRG RI), Dr. Ane Permatasari (MLH PP Muhammadiyah), Dr. Eviandri (Dosen UM Riau).

Dr. Myrna A Safitri, Deputi 3 BRG RI mengatakan bahwa “BRG telah melibatkan generasi muda dalam upaya restorasi gambut dengan merekrut mereka sebagai fasilitator Desa. Fasilitator Desa ini ditempatkan di lokasi restorasi atau Desa terdampak dan di beri kesempatan bekerja dengan warga”. 

Lebih lanjut beliau menegaskan bahwa “BRG juga memiliki sejumlah program untuk mendukung aktivitas generasi muda diantaranya pelatihan pengembangan dan peningkatan nilai produk dari industry rumah tangga di sekitar gambut. Ekonomi kreatif berupa produk fashion yang dihasilkan dari pewarna alami di Kalimantan Selatan, serta mendukung para peneliti muda untuk menggelar riset”.

Fasilitator desa memiliki tanggung jawab memasukkan program-program restorasi di perencanaan desa atau Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes). Hal itu bertujuan agar masyarakat betul-betul memahami pentingnya restorasi.

Sementara itu, Dr. Ir. Suwignya Utama, MBA., menguraikan “sebagai ujung tombak dari kegiatan pendampingan masyarakat dalam Desa Peduli Gambut (DPG), tenaga fasilitator diharapkan dapat menjalankan peran dan fungsinya antara lain untuk: memfasilitasi perencanaan desa dan kawasan perdesaan dalam konteks restorasi gambut; memfasilitasi pelatihan-pelatihan terkait dengan restorasi gambut yang melibatkan warga desa/kelurahan; memfasilitasi proses penyusunan peraturan desa yang diperlukan untuk mendukung restorasi gambut; mengidentifikasi kebutuhan pengembangan kapasitas warga desa dan potensi ekonomi desa dalam rangka restorasi gambut; membantu pemantauan pelaksanaan restorasi gambut; dan membantu memfasilitasi pelaksanaan Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan (Padiatapa) dalam pelaksanaan restorasi gambut”.

Kepala Kelompok Kerja, Edukasi, dan Sosialisasi BRG melanjutkan bahwa “fasilitator desa merupakan perpanjangan tangan BRG di daerah. Mereka memiliki tugas memfasilitasi, meningkatkan kapasitas masyarakat, membuat perencanaan, mengawal program BRG RI, dan memetakan konflik di desa. Restorasi bukan hanya tugas BRG, melainkan juga tugas bersama. BRG memiliki masa kerja lima tahun, tetapi program restorasi harus bisa dilaksanakan seterusnya,” ujar Suwignya.

Dr. Ane Permatasari dari Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah mengawali paparan dengan menyitir ungkapan Ir. Soekarno “Berikan aku sepuluh pemuda, maka aku akan mengguncang dunia” dan ungkapan Hasan Al Banna “Di setiap kebangkitan pemudalah pilarnya, di setiap pemikiran pemudalah pengibar panji-panjinya.”

Populasi generasi muda di Indonesia mendominasi setiap di momen-momen perjuangan bangsa. Generasi muda memegang kendali setiap kemajuan negeri ini: 1928, 1945, 1998. Buktinya Ahmad Dahlan mendobrak tradisi Kauman dengan merubah kiblat pada usia 21 tahun, Soekarno mendirikan PNI di usia 26 tahun. Bagaimana dengan Mahasiswa?

Menurut Dosen UM Yogyakarta ini, “mahasiswa sebagai agen perubahan diharapkan mampu berperan besar dalam menjaga kelestarian alam di tengah ancaman kerusakan lingkungan yang semakin nyata. Mahasiswa harus kritis mencari dan memiliki data-data yang berhubungan dengan perkembangan kerusakan lingkungan, termasuk sejauh mana sikap pemerintah dalam menanggulanginya. Langkah yang dilakukan oleh mahasiswa tersebut akan bermanfaat untuk pemerintah dalam menentukan arah kebijakan khususnya masalah lingkungan” katanya.

Bagaimana caranya? Banyak hal yang bisa dilakukan mahasiswa, melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik, Riset-riset, Program Pengabdian Masyarakat, Menganalisis dengan kritis terhadap regulasi yang ada seperti Omnibuslaw, dan lain-lain.

Di Riau sepanjang tahun 2019 terdapat sebanyak 74 kasus terdiri dari 72 kasus perorangan dan 2 korporasi (perusahaan). Jumlah pelaku yang ditetapkan tersangka sebanyak 81 orang. Tersangka terdiri dari 77 perorangan dan 4 orang dari perusahaan. Untuk luas hutan dan lahan yang dibakar sekitar 1.687,342 hektar.

Sehingga dibutuhkan paralegal. Paralegal ini bukan pengacara, bahkan bukan sarjana hukum, namun mereka memiliki kemampuan memberi konsultasi hukum dan mediasi kepada masyarakat yang menghadapi konflik antar warga, antar desa, antar masyarakat dan pemegang konsesi dan instansi pemerintah. Mereka adalah para legal di desa-desa di lahan gambut” tandas Dr. Eviandri (Dosen UM Riau).

Webinar ini dihadiri oleh 100 peserta yang berasal dari sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Riau, PWM/PDM/PCM se-Provinsi Riau (ddp).

Related Article

View More

Comment

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018