#

Jogyakarta—lingkunganmu.com— Ramadan tahun ini sungguhlah istimewa. Agenda Ramadan Hijau (Green Ramadan) betul-betul terasa. Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah bekerjasama dengan LLHPB PP Aisyiyah misalnya menggelar Tadarus Lingkungan dan Podcast Green Ramadhan, kemudian khutbah-khubah Jum'at, pengajian ramadan, dan tadarus Al-Qur'an diisi oleh tema-tema mengenai praktik dan refleksi lingkungan dan Islam.

Serial Webinar Tadarus Lingkungan yang diselenggarakan Majelis Lingkungan  Hidup PP Muhammadiyah dan LLHPB PP Aisyiyah kemarin (6/5/2021) mengambil tema yang menarik “Peran Milenial Menyelamatkan Lingkungan” dengan menampilkan Amelia Rezeki (Aktivis Konservasi Bekantan di Kalimantan Selatan), Fauzan Anwar Sandah (Pegiat Ekoliterasi), Kholida Annisa (Aktivis IPM yang mengembangkan kurikulum Cinta Bumi), dan Eka Imbia Agus D.(Aktivis IMM pengembang Donasi Sampah untuk Literasi) dengan moderator M Rifandi (MLH PP Muhammadiyah)

Amelia Rezeki, sebagai pembicara pertama memulai dengan sebuah kata-kata bijak “Hanya dalam lingkungan hidup yang optimal, manusia dapat berkembang dengan baik. Dan hanya dengan manusia yang baik, lingkungan hidup akan berkembang kea rah yang Optimal” dilanjutkan juga “Pemuda sebagai agent of change dan Moral Force”. Oleh karenanya Konservator Bekantan ini menegaskan “seorang Pemda itu harus berwawasan peka terhadap keadaan sekitar, membaca perkembangan berita baik media sosial, media cetak, maupun media lainnya. Sering berkomunikasi dengan ragam komunitas, atau komunitas sebidang sesuai focus yang diminati dan mencatat setiap hal penting untuk diulas”.

Dalam masalah lingkungan, dosen Unlam ini menguraikan bahwa kiat-kiat sederhana untuk menangani kerusakan lingkungan, yakni “Selalu menanam pohon, mengolah sisa sampah sayur dan buah jadi pupuk, mengurangi penggunaan plastic dan daur ulang sampah plastic di rumah, hemat air dan listrik, membuat/menyebarkan pesan lingkungan dan bergabung dengan komunitas pemuda da lingkungan”.

Amelia menutup paparan dengan sebuag statemen “Dedikasi bukanlah untuk sebuah apresiasi tetapi lebih kepada tanggungjawab kita sebagai warga negara, keilmuan dan sebagai Khalifah di muka bumi”, tandasnya.    

Sementara itu, Fauzan Anwar, merefleksikan terhadap acara ini “Saya menduga wacana keislaman di kaum muda sebetulnya sudah sangat maju. Mereka tidak ambil pusing dengan debat keagamaan yang abstrak. Di forum ini saya ketemu tiga orang milenial perempuan yang punya gerakan lingkungannya masing-masing. Ada Amelia Rezeki di Kalimantan yang bergelut di isu konservasi Bekantan. Kemudian Kholida Annisa yang paling muda usianya di antara kami berempat, bereksperimen dengan kurikulum cinta bumi untuk pelajar di seluruh Indonesia. Dan ada Eka Imbia yang mengembangkan donasi sampah untuk program literasi dan kewirausahaan sosial”.

Lebih lanjut Kandidat Doktor Lingkungan ini menegaskan bahwa “Mereka bertiga (pembicara) adalah representasi dari sekian banyak inisiasi serupa. Saya sudah pernah menyaksikan. Di seluruh nusantara. Dari Sabang sampai Merauke. Mereka bergerak melawan arus. Uniknya, mereka menemukan jati dirinya bukan dari program kepemudaan kucuran dana negara. Mereka adalah cermin dari pencarian jati diri kaum muda generasi baru. Mereka lahir dari krisis iklim. Ketika mereka tumbuh besar, pembakaran hutan marak disponsori korporasi. Begitu pula dengan ancaman dan petaka terhadap keanekaragaman ekologi serta pangan. Mungkin ini adalah contoh praktik kaidah antropik. Banyak orang bergerak menyelamatkan lingkungan karena mereka merasa akan mampu berbuat sesuatu”.

Dalam kesempatan ini Kholida Annisa, aktivis IPM menegaskan bahwa Gerakan IPM dalam menyelamatkan lingkungan dimulai tahun 2016 pada Muktamah XX di Samarinda dengan isu Konservasi Lingkungan kemudian dilanjutkan pada Muktamar XXI di Sidoarjo (2018) dengan isu utama Student Earth Generation dan pada Muktamar XXII di Purwokerta (2021) mengangkat isu Kembali Student Earth Generation.

Lebih lanjut, Kholida menguraikan bahwa “mengangkat isu lingkungan (sustainability) sebagai materi pembelajaran. Muatan materi dalam ekopedagogi meliputi Islam dan Lingkungan/Akhlak Lingkungan Muhammadiyah/teologi Lingkungan, Environmentalis untuk Pemula, Ekologi Politik (Tatakelola SDA di Daerah/Nasional, Perubahan Iklim dan Tugas Kekhalifahan dan Ekofeminisme”.

Eka Imbia Agus D., pembicara terakhir ini tidak kalah pentingnya membahas tentang Donasi Sampah untuk Literasi, “mengapa kegiatan ini gerakkan karena untuk menjawab problema utama yakni akses literasi yang belum memadai dan minimnya kepercayaan diri. Bentuk kegiatan yang digerakan di wilayah masyarakat adalah mendirikan perpusatakaan, mengembangkan kelas literasi, meningkatkan pendanaan dari donasi sampah dan mengembangkan lieterasi lingkungan. Di sisi lain, juga mengembangkan pembimbingan karya tulis dan pemberian motivasi untuk mengikuti kompetisi”.

Mencermati dari paparan para milenial ini terlihat bahwa mreka adalah pelaku utama menyelamatkan lingkungan hidup dan mereka melihat isu-isu penting lingkungan hidup sekaligus menjaga keadilan ekologis serta keadilan antar generasi dengan caranya masing-masing yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan secara serius (ddp).

Related Article

View More

Comment

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018