#

Yogyakarta –lingkunganmu.com. Kejadian bencana terus terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Dalam kurun waktu setahun (2018) Badan Nasional Penanggulangan  Bencana  (BNPB)  mencatat  lebih dari  300  kejadian  bencana,  atau  10  kali  kejadian setiap  hari.  Kejadian  bencana  tersebut mengakibatkan  lebih dari 200 jiwa meninggal atau hilang,  dan  kerugian  fisik  lain.  Bentuk  bencana yang   paling   sering   terjadi   (95%)   adalah   angin puting beliung, banjir dan tanah longsor. Pola kejadian  bencana sebagian besar diakibatkan oleh faktor hidrometeorologi yang cenderung meningkat dalam satu dekade terakhir. Dalam periode sepuluh tahun terakhir, sebagian besar (80%) kejadian bencana merupakan bencana hidrometeorologi. Fenomena peningkatan bentuk bencana   ini  sangat   dipengaruhi   oleh  perubahan iklim global dan perubahan penggunaan lahan. Dampak dari kondisi tersebut telah nampak bencana terjadi hampir di seluruh belahan bumi ini. Sebagaimana Allah telah tegaskan 13 abad yang lalu dalam Qur’an Surat Ar Ruum 41. 

Bencana hidrometeorologi merupakan manifestasi dari berbagai bentuk kerusakan, pencemaran,  dan   kepunahan   lingkungan   hidup, serta perubahan  iklim global. Merujuk pada Keraf (2010), kesemuanya bisa disebut sebagai bencana lingkungan hidup (bencana LH).  Beragam bentuk bencana LH yang terjadi di Indonesia bisa dikatakan bersumber dari perilaku manusia terhadap alam.  Pemakaian  bahan  bakar fosil yang terus meningkat untuk berbagai jenis produksi   barang  dan  konsumsi   telah  dibuktikan oleh para ahli sebagai penyebab  dari gejala pemanasan  global,  yang  pada  gilirannya menimbulkan gejala perubahan iklim. Selanjutnya perubahan iklim mempengaruhi peristiwa alam, seperti  perbedaan  suhu  yang  ekstrim  yang berakibat pada curah hujan yang sangat tinggi dan terjadinya angin topan, yang pada gilirannya menghasilkan bencana alam, seperti banjir, tanah longsor,   kekeringan   dan   badai.   Pada   titik   ini, bencana  alam tersebut  sebenarnya  merupakan bencana LH. Demikian pula dengan bencana alam berupa   banjir   dan   tanah   longsor   yang   terjadi sebagai   akibat   dari   akumulasi   kerusakan lingkungan   dan  sumberdaya   alam  di  area  hulu sungai dan daerah aliran sungai (DAS). Kerusakan lingkungan dan sumberdaya alam tersebut bermula dari perilaku manusia yang mengkonversi area hulu sungai dari area konservasi alam ke area budidaya tanaman (Suharko, 2009).

Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan melalui kegiatan penyadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan lingkungan berbasis agama. Ajaran agama tidaklah terbatas pada persoalan hubungan antara manusia dengan Tuhan, tetapi meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk persoalan hubungan manusia dengan alam dan makhluk lainnya. Ajaran agama dapat menjadi moral force bagi setiap manusia dalam mengerakkan diri untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengelolaan lingkungan. Pendekatan ini dapat disandingkan secara bersama dengan pendekatan teknis, sehingga proses penyelamatan lingkungan dapat berjalan dengan baik dan berhasilguna.

Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah Islam yang memiliki jaringan/infrastruktur persyarikatan di 33 Provinsi (sampai tingkat Ranting/Desa) dengan sekitar 16.800-an sekolah/madrasah dan 176 PT/Akademi merupakan kekuatan sosial masyarakat yang memiliki peran strategis dalam upaya pelaksanaan gerakan penyelamatan lingkungan. Berdasarkan hal itu, Muhammadiyah membentuk unsur pelaksana yang bekerja untuk melaksanakan kegiatan dan gerakan penyelamatan lingkungan, yaitu Majelis Lingkungan Hidup (MLH). Melalui majelis ini diharapkan Muhammadiyah dapat menghimpun seluruh kekuatan yang dimilikinya untuk bersinergi dengan berbagai elemen bangsa lainnya, baik pemerintah maupun LSM/NGO, guna membangun gerakan penyelamatan lingkungan.

Berdasarkan kajian ini, Muhammadiyah bekerjasama  dengan LLH-PB PP Aisyah akan menyelenggarakan Refleksi Akhir Tahun yang mengangkat tema Refleksi Dan Pernyataan Sikap: Dampak Bencana Lingkungan Hidup di Indonesia. Melalui kegiatan ini diharapkan MLH PP Muhammadiyah bisa memetakan kondisi terkini keadaan terkait bencana lingkungan yang terjadi dan mampu memberikan masukan dan pernyataan sikap terkait dengan bencana lingkungan  yang terjadi setahun terakhir.

Menurut Dina Wahyu Trisnawati, SP., M.Agr., Ph.D, Ketua Panitia Pelaksana menegaskan bahwa “tujuan digelarnya acara Refleksi dan Pernyataan Sikap adalah mendata dan memetakan bencana lingkungan hidup di tahun 2018, membangun kesadaran atas isu-isu kerusakan lingkungan yang menyebabkan bencana lingkungan, mewujudkan jaringan komunikasi dan kerjasama yang masif antar elemen Muhammadiyah dalam melakukan gerakan penyelamatan lingkungan, menguatkan jaringan serta kerjasama antar MLH PP Muhammadiyah dengan institusi lain.

Dr. Eko Priyo Purnomo, Ketua Steering Committee menguraikan bahwa “target acara ini adalah adanya pernyataan sikap dari MLH PP Muhammadiyah yang bisa menjadi masukan bagi pemerintah pusat dan daerah, adanya kegiatan baik secara individu, kelompok maupun massal dari warga Muhammadiyah dalam gerakan penyelamatan lingkungan dan bencana, dan adanya jaringan dan komunikasi serta bentuk kerjasama antara MLH PP Muhammadiyah dengan elemen masyarakat lain. Untuk kami mengundang para pemerhati lingkungan untuk bersama-sama memberikan kontribusi dan memberikan solusi perbaikan pebangunan lingkunan di negeri ini”. (ddp)

Related Article

View More

Comment

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018