#

Pangkal Pinang—lingkunganmu.com--Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) MLH Regional Sumatera yang berlangsung pada 13-15 Desember 2019 di STKIP Muhammadiyah Bangka Belitung menjadi ajang konsolidasi organisasi dan sosialisasi Program Kerja MLH PP Muhammadiyah, Sinkronisasi dan Pengembangan Program Kerja MLH pada semua level. Diharapkan melalui Rakorwil MLH Regional Sumatera ini program-program MLH “Gerakan Muhammadiyah Menyejukkan Bumi” dapat semakin masif dari tingkat pusat hingga cabang dan ranting.

Dr. Ir. Gatot Supangkat, MP, Sekretaris MLH PP Muhammadiyah mengajak seluruh peserta Rakorwil MLH Regional Sumatera untuk “menggali dan mrngeksplorasi problematika lingkungan spesifik di wilayah/daerah masing-masing dan mengembangkan program-program spesifik dari MLH PWM/PDM, khususnya di wilayah/kawasan Sumatera dengan terencana, sistematis dan berkelanjutan”.

Lebih lanjut Kepala LP3M UM Yogyakarta ini menguraikan bahwa “permasalahan lingkungan itu bermula dari permasalahan hutan. Hutan itu mestinya dikoordinir sebagai lingkungan tertutup dengan membiarkan seluruh pohon tumbuh, tanpa ada eksploitasi dan penebangan. Selain itu juga, lingkungan ini membutuhkan perhatian dari etika masyarakat untuk melakukan hal kecil yang tidak merusak lingkungan, sehingga etika masyarakat sangat dibutuhkan untuk memahami hak kewajiban dan peran dalam pengelolaan lingkungan, dan untuk perubahan mindset masyarakat memang perlu ada pergerakan rutin dan berkala". 

Sementara itu, Dr. Asyraf Suryadin, M.Pd. Ketua STKIP Muhammadiyah Babel menegaskan “jika salah satu bentuk terwujudkan penerapan lingkungan hidup sesuai yang diharapkan itu berasal dari sivitas akademika kampus sebagai penopang pendidik, untuk meneruskan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan, maka menjadi gerakan yang masif. Untuk itu, Asyraf mengajak kalangan akademis/perguruan tinggi khususnya sivitas akademika STKIP Muhammadiyah Babel untuk mewujudkan green campuss atau green office yang nantinya sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup ke depan.  Mulai dari perguruan tinggi kita berharap program-program pengabdian masyarakat seperti KKN tematik Lingkungan akan dapat menguatkan insiatif dan solusi-solusi terbaik dalam penelolaan lingkungan”. 

Hilmi Basalamah, yang mewakili Menteri KLHK menegaskan bahwa “Alam Indonesia itu sbuah ruang publik penjaga peradaban, tersusun dari berbagai keragaman yang mencerminkan keragama wilayah. Oleh karenanya, kecepatan pemanfaatan yang tinggi terhasap sumber daya alam perlu diimbangi dengan kecapatan dukungan penguasaan Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang ramah lingkungan serta ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang memadai”.

Upaya-upaya korektif seperti meningkatkan peran dan akses masyarakat dalam pengelolaan hutan (from corporate based to socual based forest management), memperbaiki, tata kelola air, water management dan pemulihan ekosistem gambut di areal konsesi, integrasi sosial dalam proses bisnis, sebagai kesatuan ekosistem, aktualisasi potensi hutan dan peningkatan produktivitas (kayu, HHBK dan jasa lingkungan) perlu diimplementasikan secara berkesinambungan.

Upaya-upaya Kementerian LHK yang meliputi pencegahan deforestasi dan degradasi hutan, penguatan karlahut, rehabilitasi hutan dan lahan, penegakan hukum, pengelolaan sampah, limbah dan B3, perhutanan sosial. Sistem pengelolaan hutan lestari yang dilaksanakan oleh kawasan hutan negara atau hutan hak/hutan adat yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat atau masyarakat hukum adat sebagai pelaku utama untuk meningkatkankesejahteraan, keseimbangan lingkungan dan dinamika sosial budaya (ddp).

Related Article

View More

Comment

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018