#

Banjarmasin—lingkunganmu.com—Majelis Lingkungan Hidup PWM Kalimantan Selatan bermitra dengan Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB) dan Badan Restorasi Gambut (BRG) RI gelar “Sosialisasi Program Edukasi dan Pemberdayaan Masyarakat Muhammadiyah Peduli Gambut di Kalimantan Selatan” pada Selasa, 3 Nopember 2020 dengan menampilkan Dr. Myrna A Safitri (BRG), Prof. Ir. Muhjidin Mawardi, M. Eng., Ph.D (MLH PPM), Dr. Ir. Suwignya Utama, MBA (BRG), Dr. Afiah Hayati, SP., MP. (MLH PWM Kalsel), Adriani Yunizar, MA (UMB) dan Moderator Elman Nafidzi, SEI., ME.

Indonesia mempunyai Gambut Tropika Basah yang merupakan makhluk ciptaan Allah yang berada di darat dengan lingkungan berair sebagai hasil peninggalan proses pada masa dulu (purba). Adanya topografi cekungan dengan lingkungan rawa yang ditumbuhi tumbuhan atau hutan alami maka sisa tumbuhan yang jatuh di permukaan rawa tersebut mengalami akumulasi dan berkembang menjadi gambut.

“Sekitar 2,67 juta Ha dari 14,9 juta Ha lahan gambut di Indonesia  merupakan lahan terdegradasi yang ditumbuhi semak belukar atau lahan terbuka dan lahan bekas tambang. Lahan tersebut selain tidak produktif juga merupakan sumber emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Untuk itu, perlu direhabilitasi menjadi lahan yang bernilai ekonomi tanpa meningkatkan masalah lingkungan, terutama emisi GRK”, ujar Zulfa Asma Vikra, Ketua MLH PWM Kalsel dalam sambutannya.

Manurut Dr. Ir. Suwignya Utama, MBA., menegaskan bahwa “dalam restorasi gambut, pertama, tidak dapat dilakukan secara parsial, namun harus dilaksanakan secara holistic berdasarkan satu kesatuan hidrologi gambut (KHG). Kedua, restorasi gambut harus melibatkan semua para pihak (pemerintah pusat, pemerintah daerah, pemegang konsesi, PT, LSM, NGO, perguruan tinggi, dan partisipasi). Ketiga, restorasi gambut tidak dapat dilakukan secara instan  akan tetapi memerlukan waktu yang lama dan biaya yang  sangat besar”.

Lebih lanjut Kapokja Edukasi dan Sosialisasi BRG RI ini menjelaskan “Lahan gambut yang masih utuh (intact) agar tetap dijaga, dipertahankan, dilindungi, dan dapat dimanfaatkan sesuai peruntukannya dengan kaidah restorasi, sedangkan lahan gambut yang rusak direstorasi dengan pembasahan kembali untuk mempertahankan tinggi muka air gambut”, tandasnya.

Dr. Afiah Hayati, SP. MP., Sekretaris MLH PWM Kalsel menguraikan tentang proses pembentukan gambut yang dimulai dari adanya danau dangkal yang secara perlahan ditumbuhi oleh tanaman air dan vegetasi lahan basah. Tanaman yang mati, kemudian melapuk secara bertahap membentuk lapisan yang kemudian menjadi lapisan transisi antara lapisan gambut dengan subtratum berupa tanah mineral. Tanaman berikutnya tumbuh pada bagian yang lebih tengah dari danau dangkal ini dan membentuk lapisan lapisan gambut dengan bantuan cahaya matahari akan tumbuh besar.

Sedangkan fungsi gambut di Indonesia adalah sebagai daerah tangkapan air, sumber utama karbon, hutan gambut menghasilkan produk-produk forestry, dan direklamasi sebagai daerah pertanian. Terdapat beberapa kendala pemanfaatan gambut menjadi lahan pertanian, seperti ketebalan gambut, kemasaman tinggi, kesuburan rendah, Sub stratum sub soil, lapisan pirit.

Hal yang perlu mendapat perhatian dalam pengelolaan lahan gambut untuk pertanian yang berkelanjutan. Pertama, mempertahankan nilai ekonomis dari system pertanian. Kedua, mempertahankan sumberdaya pertanian gambut dan Ketiga, mempertahankan ekosistem lain yang dipengaruhi oleh kegiatan pertanian di lahan gambut.

Narasumber terakhir adalah Adriani Yunizar, MA menguraikan bahwa “Agama Islam merupakan sumber nilai terhadap lingkungan  yang berisi pelestarian alam untuk kemanfaatan (Q.S. Al-’Araf: 58) dan Pencegahan kerusakan alam (madarat) (Al-Baqarah: 205). Islam dan pelestarian lingkungan menjadi kesatuan yang tak terpisahkan, untuk kemanfaatan hidup manusia, sementara merusak alam, akan berdampak kerusakan baik di laut maupun di darat. Islam mengatur manusia agar berperilaku terhadap lingkungannya sehingga mempengaruhi kelangsungan hidup dan kesejahteraan manusia itu sendiri serta makhluk lainnya”, tandas Wakil Rektor UMB.

Manusia mempunyai peran yang ideal yang harus dijalankan, yakni memakmurkan bumi, mendiami dan memelihara serta mengembangkannya demi keselamatan hidup mereka sendiri, bukan mengadakan pengrusakan di dalamnya. Sebagai khalifah (wakil) di muka bumi, manusia bertugas mengurus bumi dengan seluruh isinya, dan memakmurkannya sebagai amanah dari Allah. Konsekuensi kekhalifahan manusia di muka bumi adalah membangun, mengelola dan memakmurkan bumi ini dengan sebaik-baiknya. Manusia berkewajiban membudidayakan alam semesta ini guna menyiapkan kehidupan yang bahagia dan sejahtera (ddp).

Related Article

View More

Comment

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018