#

Surakarta—lingkunganmu.com--Arah kebijakan terkait pengelolaan sampah adalah pengelolaan sampah yang terintegrasi dari hulu ke hilir menuju ke arah ekonomi sirkular. Untuk mencapai target-target pengelolaan sampah perlu dilakukan reformasi diantaranya: penerapan pemilahan sampah dan pengangkutan terjadwal, restrukturisasi retribusi sampah dan pengelolaan nya harus ditinjau secara menyeluruh, pemilihan teknologi pengolahan akhir jangan sampai membebani masyarakat dan negara. Penguatan database pengelolaan sampah, penegakan hukum harus dimulai diiringi peningkatan kesadaran masyarakat.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyampaikan jumlah timbulan sampah secara nasional sebesar 175.000 ton per hari atau setara 64 juta ton per tahun jika menggunakan asumsi sampah yang dihasilkan setiap orang per hari sebesar 0,7 kg. Rata-rata timbulan sampah harian di kota metropolitan (jumlah penduduk lebih dari 1 juta jiwa) dan kota besar (jumlah penduduk 500 ribu-1 juta jiwa) masing-masing adalah 1.300 ton dan 480 ton. Di sisi lain hasil studi 2008 yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup di beberapa kota, pola pengelolaan sampah di Indonesia adalah : diangkut dan ditimbun di TPA (69%), dikubur (10%), dikompos dan daur ulang (7%), dibakar (5%), dibuang ke sungai (3%), dan sisanya tidak terkelola (7%). Bertolak dari hal ini, Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Kafilah Penuntun Moh. Djazman Universitas Muhammadiyah Surakarta menggelar Seminar Nasional dan Pameran Produk Olahan Limbah pada 22 Januari 2020.

Dr. Ane Permatasari, Wakil Sekretaris MLH PP Muhammadiyah dalam seminar tersebut menegaskan bahwa “perlindungan dan pengelolaan alam dan sumberdaya alam merupakan ketentuan (sunnatullah) sekaligus perintah Allah. Bahkan menjaga alam (lingkungan) untuk keberlanjutan fungsi lingkungan bagi kehidupan di bumi merupakan penunaian amanah Allah kepada manusia yakni sebagai wakil (khalifah) Allah di muka bumi. Oleh karena itu, permasalahan lingkungan tak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan teknis-ekonomis tetapi diperlukan pendekatan agama agar terjadi perubahan cara pandang dan perilaku (akhlaq) masyarakat/bangsa.  Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dengan misi al amr bil ma’ruf wa nahyi ‘anil munkar mempunyai tanggung jawab dan peran strategis dalam gerakan penyelamatan dan pemeliharaan lingkungan

Lebih lanjut, staf pengajar UM Yogyakarta menandaskan “upaya perlindungan dan pemeliharaan lingkungan  wajib hukumnya, sama dengan kewajiban menjaga kehidupan  manusia dan seluruh makhluk. Akhlaq seseorang  terhadap Allah SWT, manusia dan  alam  lingkungannya  merupakan cermin keimanan dan keberagamaan seseorang”, tandasnya.

Mengapa akhlaq  masyarakat dan bangsa perlu mendapat perhatian dalam konteks  pemeliharaan dan penyelamatan lingkungan termasuk di dalamnya pengelolaan sampah? Akhlaq adalah cara pandang, sikap dan perilaku manusia dalam berhubungan dengan manusia lainnya, berhubungan dengan alam lingkungannya, serta dalam berhubungan dengan Allah SWT. Cara pandang dan sikap seseorang atau sekelompok masyarakat sangat berpengaruh terhadap diri, masyarakat dan lingkungannya. Sementara itu, kajian empirik sosio-antropologis terhadap permasalahan dan krisis lingkungan yang terjadi di Negara kita dan juga beberapa Negara lain, menunjukkan bahwa krisis lingkungan bukanlah semata-mata permasalahan teknis. Akar permasalahan lingkungan ternyata ada pada cara pandang, sikap hidup, perilaku dan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan bangsa.  Permasalahan lingkungan adalah permasalahan akhlaq manusia.

Oleh karena itu krisis lingkungan yang terjadi dewasa ini hanya bisa diatasi dengan merubah secara fundamental cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam lingkungannya. Tindakan praktis dan teknis penyelamatan lingkungan dengan bantuan sain dan teknologi ternyata bukan merupakan solusi yang tepat. Yang dibutuhkan adalah perubahan perilaku dan gaya hidup yang bukan hanya orang perorang, akan tetapi harus menjadi sebuah gerakan masif dan budaya masyarakat secara luas (ddp).

Related Article

View More

Comment

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018