#

Sorong—lingkunganmu.com—Universitas Muhammadiyah Sorong (UMS) melalui Pusat Studi Lingkungan Hidup dan Kebencanaan (PSLHK) mengawali Tahun Ajaran 2020/2021 ini dengan menggelar webinar “Pola Pikir Ramah Lingkungan” dengan mendatang narasumber Dr. Ir. Darhamsyah, M.Si., Sekretaris Majelis Lingkungan Hidup PWM Sulawesi Selatan pada Senin (21/9/2020).

Dr. Ir. Darhamsyah, M.Si, yang juga menjabat Kapus P3E Sulawesi-Maluku Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ini memulai paparannya dengan mendefinisikan pola pikir. Menurutnya “Pola pikir (mindset) adalah sekumpulan yang menentukan, melihat sesuatu dan termasuk kita bertindak, itu terbentuk dari kebiasaan kita sejak kecil dari orang tua sampai pergaulan kita, kalau itu melekat agak sulit diubah, kabar baiknya kalau kita tau caranya kita bisa bentuk pola pikir baru yang lebih baik. Jadi pola pikir bisa di bentuk dan dibuat. Hal ini berbeda dengan anggapan beberapa waktu yan lalu bahwa otak dalam umur tertentu tidak berkembang lagi”.

Lebih lanjut, penulis buku “Enjoy Life With Eco-Life” ini menegaskan bahwa  “Neuro sains modern terbaru menyatakan bahwa otak itu tumbuh terus sepanjang hidup manusia, ada yang disebut neuroplastisin, neuroregenerasin dan sebagainya. Dan ketika kita mau membuat kebiasaan baru harus belajar pengetahuan baru, supaya terbentuk sinergi di otak kita sambungan-sambungan baru di otak kita, kalau kita lakukan berulang akan membuat sambungan semakin kuat dan bisa menutupi kekurangan-kekurangan yang kurang baik di dalam diri kita. Kita tidak bisa menghilangkan kebiasaan lama tetapi kita bisa membuat kebiasaan baru sehingga kebiasaan lama melemah”, tandasnya.

Seperti diketahui bahwa di dalam 24 jam otak kita terus bekerja, sebelum tidur kita mencoba mengulang-ulang materi yang didapat seharian, jangan kita melihat ke yang lain sehingga pelajaran itu akan terbawa ke dalam tidur. Hanya 10% dari pikiran sadar kita yang bekerja dan 90% dari bawah sadar kita, menganalisa berpikir dan ingatan jangka pendek itu pikiran sadar kita sedangkan bawah sadar ada ingatan jangka panjang, emosi, kebiasaan, dan kratifitas.

Lebih lanjut, Foubder of Sekolah Kehidupan ini memaparkan bahwa “orang yag berpikir eco berbeda dengan orang yang berpikir ego. Kalau berpikir ego, ingin menguasai sedangkan pikiran eco adalah menempatkan diri kita sebagai bagian dari semua mahluk sehingga kita sama-sama berhak untuk hidup. Bedanya ego life dan eco life, di mana kalau ego life akan ingin menguasai sedangkan yang berpikir eco life akan berfikir untuk berbagi bukan berarti makanan kita dibuang tapi ketika melihat ada kucing akan kita berikan Sebagian, seperti halya rumah panggung pasti di bawah rumah ada hewan dan biasanya akan kita berikan sebagian makanan yang kita makan bukan berarti makanan basi yang kita berikan.”, ujarnya

“Secara intektual orang yang ego akan akan lebih fokus pada satu ilmu sedangkan pada eco akan lebih menginginkan banyak ilmu. Secara emosional, ego lebih labil dan yang eco akan lebih stabil sedangkan secara spiritual yang ego kurang bermakna dan yang eco melihat yang lain lebih sarat makna. Setiap yang Allah SWT ciptakan pasti ada gunanya kalau ada yang menurut kita belum ada maknanya bisa jadi itu teknologi kita belum sampai ke kita”.

Setiap orang yang dilahirkan itu cerdas, jadi yang cerdas itu bukan hanya seperti Einstein tetapi bisa jadi orang diam juga cerdas. Kecerdasan lingkungan adalah kecerdasan kemampuan orang dalam mempersepsikan, menginterpretasikan alam, lingkungan dan dia membangun kemampuan dalam memanfaatkan untuk kemaslahatan.

Jika kita memperhatikan situasi dan kondisi saat ini, banyak sekali penemuan yang didapat dari lingkungan, seperti pesawat, suara dan lain-lain. Semua manusia punya kecenderung untuk berasumsiasi terhadap kehidupan yang lain. Saat ini telah disadari pebisnis bahwa orang menjual rumah, yang di jual tidak hanya rumah tetapi juga lingkungannya. Manusia saat ini mencari alam yang asri sehingga banyak gedung yang dibuat pasti ada taman yang asri.

Menutup paparannya Dr. Ir. Darhamsyah, M.Si. dengan menjelaskan “ciri pokok ECO LIFE ada 4 (empat) yakni ada inter dependence (segala sesuatu saling terhubung saling tergantung), contoh sepatu dosen di sembunyikan anak kecil efeknya kuliah kosong kemudian Rektor marah. Meaningful (segala sesuatu punya makna tujuan penciptaan). Beautiful (segala sesuatu itu indah), dan yang terakhir Adaptive (segala sesuatu bisa di adaptasi). Semua yang diciptakan Allah SWT memiliki makna, apabila kita menyadarinya akan muncul rasa kebersamaan dan ketergantungan.  Oleh karenanya, manusia sebagai Khalifatul fil Ardl harus memiiki sensory actuity dan behavioural flexibility sehingga  manusia harus memiliki collaboraton, empathy, complex problem solving, critical thinking dan creativity” (ddp).

Related Article

View More

Comment

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018