#

Samarinda—lingkunganmu.com—Majelis Lingkungan Hidup PWM Kaltim bekersama dengan  Fakultas Pertanian Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda dan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman menggelar Webinar dengan tema Pengelolaan Hutan & Lingkungan Dalam Perspektif Moral dan Etika dan pembicara Prof. Dr. Rudianto Amirta (Dekan Fakultas Kehutanan Unmul), Ir. Hidayat Tri Sutardjo, MM (Sekretaris Lembaga Pemuliaan LH & SDA MUI Pusat), Dr. Hanafi Guciano, P.hD. (Direktur Program IRI Indonesia), Dr. Ir. Taufan Tirkaamiana (Ketua MLH PWM Kaltim) dan Dr. Emi Purwanti, M.Si (Dosen Fahutan Unmul) dan dipandu oleh Dr. Legowo Kamarubayana, MP (Wakil Dekan III Faperta Untag Samarinda) pada Sabtu (3/4/2021).

Ir. Hidayat Tri Sutardjo, MM, memulai paparannya dengan menjelaskan bahwa “Akhir-akhir ini  ada banyak peristiwa yang berkaitan dengan etika. Dalam pemanfaatan ruang hutan, misalnya legalitas oleh investasi sesungguhnya tak mendapatkan legitimasi masyarakat. Akibatnya ada banyak tumpang tindih izin yang sama-sama legal. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa etika yang berada di atas kebenaran ilmu pengetahuan telah merosot tajam. Alhasil pengelolaan sumber daya alam hampir selalu melahirkan konflik, memperbesar kesenjangan serta merusak lingkungan hidup. Jika sudah seperti ini, memperbaiki etika tak cukup hanya imbauan-imbauan, tetapi saatnya melalui Gerakan Sosial”

Lebih lanjut, Sekretaris LPLH & SDA MUI Pusat ini menegaskan bahwa “Tingginya tingkat deforestasi di Indonesia membuat negara ini menjadi salah satu emitor gas rumah kaca terbesar di dunia. Terutama konversi hutan lahan gambut dan kebakaran hutan yang tidak terkendali menyebabkan Sebagian besar emisi dari sektor hutan Indonesia”.

Di Indonesia, penurunan keanekaragaman hayati telah terjadi dalam skala besar sebagai akibat dari pengelolaan hutan yang tidak lestari, kebakaran hutan dan pembalakan liar. Selain degradasi terus menerus, hutan Indonesia menurun pada tingkat yang mengkhawatirkan, terutama akibat konversi lahan hutan untuk pemanfaatan lainnya.

Hutan yang berkembang aktif menyedot karbon dioksida dari atmosfir, dan melalui proses fotosintesis mengubahnya menjadi biomassa. Hasil dari siklus ini menunjukkan bahwa hutan yang sudah tua menyimpan karbon dalam jumlah besar, menguncinya di pohon-pohon dan vegetasi lain sebagai biomassa, baik di atas dan di bawah tanah. Sementara hutan menyingkirkan CO2 yang dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi melepaskan CO2 ini ke atmosfir.

Di akhir paparannya Hidayat Tri menegaskan bahwa “Hutan dan alam itu ciptaan Allah SWT, kehadiran manusia hendaknya adalah memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya menurut peruntukannya, untuk kemaslahatan manusia dan tidak merusaknya apalagi secara illegal dengan atas kepentingan sesaat. Kedua, manusia merupakan makhluk ekologis yang memiliki etika dengan alam, sehingga harus diperkuat dengan 3 (tiga) pemahaman, yakni deideologisasi/reorientasi pandangan hidup terhadap alam dengan spirit penggalian nilai-nilai agama sebagai kerangka etik rehabilitasi manusia dan alam semesta, penguatan reorientasi dan reformulasi policy atau semacam green policy (normatif dan regulatif) dan penghijauan ilmu pengetahuan sehingga bisa terus berinovasi dalam upaya melestarikan Lingkungan Hidup & Sumber Daya Alan”.

Sementara itu, Dr. Hanafi Guciano, P.hD., memaparkan beberapa masalah terkait dengan perubahan iklim bahwa “Perubahan iklim bergeser dari bencana lingkungan ke bencana kemanusiaan. Ketidakmampuan PBB dan keengganan pimpinan negara untuk bertindak karena ulah lobi dan kepentingan bisnis. Juga ada pandangan dualisme – pemisahan akal dan spiritual, antara rasional dan intuisi, antara manusia dan alam. Perlunya pandangan baru – etika. Persoalan perubahan iklim adalah masalah etika”, ujar Direktur Program IRI Indonesia.

Lebih lanjut Hanafi, P.hD, menguraikan “Isu perubahan iklim membuka ‘tabir penghalang’ atau sekat keilmuan antara sains dengan agama, dan timbulnya dorongan untuk ‘kembali’ konvergensi dan berkolaborasi seperti pra-modern. Etika harus menjadi inti dari kerangka kerja 'baru' PBB dengan melibatkan tokoh agama dengan otoritas moralnya sbg mitra sejajar dengan saintis dan kepala negara dalam forum negosiasi. Islam memiliki kapasitas untuk membawa nilai-nilai spiritual dalam mencari solusi perubahan iklim”.

Bagaimana caranya? Dengan mengangkat kembali pandangan kosmologi (Islam dan Katolik, dll). Mengaktualisasi ajaran di kitab suci tentang alam, lingkungan/ekologi, dan bencana. Menyelaraskan ilmu, ajaran dan amalan lintas paradigma dan mempertanyakan ‘pengabaian’ Ulama dalam isu kontemporer.

Webinar akan berlanjut secara rutin mengingat masalah yang dibahas sangat aktual dan memerlukan pembahasan yang konprehensif dengan melibatkankan semua pemangku kepentingan. Partisipan dalam Weninar kali ini mencapai 200 orang yang berasal dari seluruh Indonesia (ddp).

Related Article

View More

Comment

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018