#

Oleh:

Prof. Dr. Ir. Muhjidin Mawardi, M.Eng

Ketua Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah

 

Bencana dan permasalahan lingkungan yang hingga saat ini terjadi di tanah air dan di beberapa belahan dunia yang lain, tidak bisa dilepaskan dari cara pandang dan perilaku manusia. Manusia, secara sadar maupun tidak, telah melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat merubah ekosistem bumi, mengancam kesetimbangannya dan pada saatnya akan mengancam seluruh kehidupan di muka bumi.  Manusia sebagai salah satu komponen dalam sistem kehidupan, telah secara berlebihan dalam memanipulasi alam dan mengeksploitasi sumberdaya alam untuk memenuhi kerakusannya dengan dalih untuk “peningkatan kesejahteraan” hidupnya tanpa mempertimbangkan keberlangsungan kehidupan makhluk yang lain. Kesalahan manusia dalam  cara pandang dan cara memahami alam yang terbangun dalam cara pandang  antroposentris, telah membentuk budaya dan perilaku yang tidak ramah lingkungan. Oleh karena itu,  penyelesaian permasalahan lingkungan tidak cukup jika hanya menggunakan pendekatan teknis saintifik. Diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif, meliputi aspek  akhlak atau moral dan pendidikan.

Diantara banyak penyebab terjadinya krisis lingkungan yang terjadi akhir-akhir ini, paling tidak dapat diidentifikasi beberapa penyebab utama yakni :

  1. Cara pandang, kemajuan sain dan teknologi. Kemajuan sain dan teknologi yang telah dicapai oleh bangsa-bangsa di dunia saat ini memang telah sampai pada taraf sangat membantu dan memudahkan manusia dalam melaksanakan berbagai pekerjaannya untuk memenuhi hajat hidupnya. Akan tetapi pada sisi lain, sain dan teknologi yang dibangun menggunakan paradigma Cartesian, telah menafikan manusia sebagai bagian dari alam. Cara pandang cartesian –antroposentris juga telah menafikan sistem nilai yang terdapat pada alam, dan hanya memperhatikan nilai-nilai yang dianggap bermanfaat bagi manusia. Manusia dipandang sebagai  bagian transenden alam yang bebas berbuat tanpa adanya keterkaitan dengan sistem nilai yang lain, termasuk sistem nilai yang terdapat dalam realitas alam semesta, karena alam dipandang sebagai benda mati dan tak terkait dengan realitas yang lain, serta alam dianggap sebagai  substansi tanpa makna.
  2. Pandangan materialistik-kapitalistik dan perilaku koruptif. Pandangan materialistik bergandengan tangan dengan perilaku koruptif sangat dominan mewarnai pemanfaatan sain dan teknologi untuk eksploitasi sumberdaya alam. Sain dan teknologi sering dibenturkan dengan agama, bahkan kehadiran  dan keberadaan alam sebagai makhluk ciptaan Tuhan Allah swt dianggap tidak ada hubungannya dengan sain dan teknologi. Bahkan banyak saintis dan pengembang teknologi yang menolak kehadiran dan campur tangan Tuhan Allah swt, karena mereka menganggap bahwa campur tangan ini akan dapat mengganggu perkembangan sain dan teknologi. Peradaban modern telah mencekoki manusia modern dengan paradigma keilmuan yang semu, dan menganggap bahwa segala realitas alam semesta ini berdiri sendiri dan tidak ada hubungannya dengan realitas yang lain yang non-empiris (ghaib). Sains modern dengan dogma positivisme dan turunannya  seakan menjadi instrumen yang paling tepat untuk mencapai kehidupan yang rasional dan layak dengan berbagai temuan teknologi. Teknologi memang mempunyai dua sisi yang saling berlawanan. Pada satu sisi sangat berguna bagi kemudahan dan kemakmuran kehidupan manusia. Akan tetapi pada sisi yang lain, mempunyai wajah negatif dan bahkan bisa meghancurkan kehidupan di muka bumi. Teknologi telah dijadikan sebagai tuhan bagi peradaban modern yang dipuja dan selalu menjadi indikator kemakmuran sebuah bangsa. Padahal jika diamati lebih dalam, kemajuan teknologi ditangan orang-orang yang berpaham materialistik dan koruptif, mempunyai andil besar terhadap terjadinya kerusakan dan bencana lingkungan serta pemusnahan sumber daya alam.
    Efek samping lainnya dari kemajuan sain modern dan teknologi ini adalah terjadinya alienasi hubungan manusia dengan alam dan dengan Tuhan Allah swt, Pencipa dan Pemelihara alam semesta. Proses alienasi hubungan manusia dengan Tuhan Allah swt (krisis spiritualitas/hablun minallâh), hubungan manusia dengan manusia (krisis kemanusiaan/hablun min an-nâs), dan hubungan manusia dengan alam (krisis lingkungan/hablun min al-‘alam) merupakan ekses negatif dari model pembangunan dan modernisasi yang hanya menekankan pada aspek kebendaan dan keduniawian saja.  
  3. Faktor lain yang diyakini memberikan sumbangan yang amat besar dalam terjadinya krisis dan bencana lingkungan adalah munculnya era globalisasi dengan berbagai komponenya.  Globalisasi  pada dasarnya merupakan kelanjutan dari era kapitalisme dan kolonialisme  dengan ciri liberalisasi di segala bidang yang dipaksakan melalui peraturan atau pengaturan program secara struktural oleh lembaga finansial global yang menyeponsori pasar bebas seperti WTO, IMF dan Bank Dunia. Kapitalisme dengan tujuan utamanya penumpukan modal melalui penanaman modal  pada skala yang lebih besar harus melakukan ekspansi ke luar wilayah dalam bentuk penguasaan pasar, sumber pasokan bahan baku dan tenaga kerja semurah mungkin. Proses ini menyebabkan ketimpangan sistem ekonomi dan mengorbankan manusia yang  hanya dianggap sebagai mesin kerja demi tercapainya target keuntungan. Dalam memproduksi hanya melihat ke aspek  ekonomi semata, tanpa memperhatikan aspek ekologi. Akibatnya, terjadilah pemakaian dan pemborosan sumber daya alam secara berlebihan dan kurang memanfaatkan sumber daya manusia. Usaha manusia menaklukkan alam dengan kendaraan sains dan teknologi yang semula dianggap bisa menyejahterakan kehidupan manusia, ternyata mengakibatkan pemusatan penguasaan  alam dan sumberdaya alam pada sekelompok kecil orang yang menguasai sains dan teknologi.  Dampaknya, terjadilah perusakan dan pengerukan sumberdaya alam secara masif terutama di negara-negara berkembang yang secara ekonomi dan penguasaan teknologinya masih lemah.

Inilah beberapa sebab dan akar permasalahan krisis lingkungan yang terjadi hingga saat ini yang belum ada tanda-tanda akan berkurang, bahkan diperkirakan akan semakin intensif dan meluas. Oleh karena itu, kesadaran manusia akan perannya sebagai Khalifatullah fil ‘ardh (Al An ‘aam: 165) yang mengemban amanah sebagai wakil Allah di muka bumi dalam pemeliharaan alam, harus didesakkan secara lebih kuat di tengah-tengah masyarakat dan bangsa yang saat ini sedang sakit. Manusia harus memahami bagaimana selayaknya berhubungan dengan alam, berhubungan dengan manusia lain dan berhubungan dengan Tuhan Allah swt, (hablun minal ‘alam, hablun min an-nas dan hablun minAllah) sehingga  terjaga hubungan yang harmonis (saling memberi manfaat, bukan saling merugikan atau mematikan). Hal ini merupakan bagian tak terpisahkan dari misi utama gerakan dakwah Muhammadiyah yakni: amar ma’ruf nahi munkar.

Sejak tahun 2000, Muhammadiyah telah mengawali gerakan kepedulian terhadap lingkungan dengan dibentuknya Lembaga Studi dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (LSPLH) dan ditegaskan secara formal dalam Keputusan Muktamar ke-45 dengan dibentuknya Lembaga Lingkungan Hidup (LLH) yang dideklarasikan pada tanggal 15 Desember 2005 di Yogyakarta. Selanjutnya, untuk lebih mempertegas partispasi aktif Muhammadiyah dalam upaya Penyelematan dan Pengelolaan Lingkungan dan menjadi suatu gerakan yang masif maka pada Muktamar ke-46 di Yogyakarta dirubah menjadi Majelis Lingkungan Hidup (MLH). Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makasar mengamanahkan partisipasi aktif kepada seluruh komponen Muhammadiyah dalam penanganan isu-isu Strategis Keumatan (hidup bersih dan sehat), Kebangsaan (kekurangan dan kelebihan air) dan Kemanusiaan Universal (perubahan iklim).

Berbagai program telah disusun dan dilaksanakan oleh MLH Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PPM) dan MLH Wilayah dan Daerah sesuai amanah di atas, baik yang sifatnya konseptual maupun praksis. Pada tingkatan konseptual telah disusun berupa buku-buku baik filosofis maupun praktis, diskusi lingkungan dan advokasi. Untuk program praksisnya telah dikembangkan aksi-aksi nyata, antara lain pembangunan Kawasan Penyejuk Bumi (KPB), Sekolah/Kampus Sejuk (Green School/Campus), Shadaqah Sampah (launching 2011), Pendidikan Lingkungan dan kampanye lingkungan. Pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) tahun 2016 di Yogyakarta, MLH PP Muhammadiyah telah Menegaskan dan Menguatkan Program Utamanya, yaitu Pendidikan Lingkungan, yang dikemas dalam suatu langkah komprehensif “Gerakan Muhammadiyah Menyejukkan Bumi”. Program ini perlu ditegaskan kembali, mengingat kerusakan lingkungan yang eskalasinya semakin meningkat hanya dapat dihambat atau bahkan dihentikan melalui Jalur Pendidikan. Indikator keberhasilan dalam implementasi program ini, yakni Terjadinya Perubahan Pola Pikir Manusia tentang Lingkungan yang diujudkan dengan Perubahan Perilaku yang Ramah Lingkungan

Artikel Terkait

Lihat Selengkapnya

Komentar

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018