#

Sebagai wujud komitmen membangun kesadaran menjaga lingkungan hidup yang indah serta bersih dan sekaligus konsistens dalam mengamalkan ajaran Al-Ma'un, MLH PP Muhammadiyah telah menggagas dan mengembangkan Gerakan Shodaqoh Sampah, bahkan beberapa MLH PWM telah mengimplementasikannya dengan berbagai bentuk kreasinya, seperti Sekolah Sedekah Sampah (UM Malang), Gerakan Masjidku Bersih dan Indah (MLH PWM Sultra), KKN Tematik Lingkungan Hidup (UM Sukabumi), dan lain-lain.

Gerakan Shodaqoh Sampah ini merupakan bagian komitmen Muhammadiyah untuk terus mengembangkan gerakan pengelolaan lingkungan yang telah dirintis sejak hampir hampir satu dekade terakhir. Muktamar 1 Abad Muhammadiyah (2010) telah mengamanatkan kepada PP Muhammadiyah untuk semakin aktif melakukan kampanye dan gerakan penyadaran lingkungan bagi warga Muhammadiyah sehingga memiliki kesadaran dan perilaku ramah lingkungan yang dilakukan berbasis Ajara Islam melalui berbagai media terutama pendidikan dan dakwah.

Muhammadiyah menyadari bahwa pengelolaan lingkungan tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan teknis semata, tetapi diperlukan pendekatan multiaspek termasuk pendekatan agama. Dalam pandangan Muhammadiyah, Islam merupakan agama yang eco-friendly (ramah lingkungan) yang melarang umat untuk membuat kerusakan di muka bumi sebagai perilaku yang bertentangan dengan fungsi dan tugasnya sebagai khalifatullah fil ardl. Upaya pelestarian lingkungan merupakan bagian dari konsekuensi ketauhidan seorang Muslim dan keharusan dari manifestasi keimanan yang dimilikinya.   

Di dalam Gerakan Shodaqoh Sampah, sampah rumah tangga dipilah ke dalam tiga kelompok: sampah Kertas, sampah Plastik (kresek, kantong plastik dan sejenisnya) dan sampah Keras/Logam (kaleng minuman/susu, botol minuman berbahan plastik/kaca, gelas berbahan plastik/kaca, botol shampo, potongan besi, paku, peralatan rumah tangga berbahan aluminium/tembaga/baja/besi/plastik, pecahan kaca bening, mainan anak-anak berbahan logam/kaca/plastik yang tebal dan keras). Pemberi Shodaqoh memilah dan measukkan sampai dalam kondisi bersih setiap kali menghasilkan sampah ke dalam masing-masing karung sesuai jenisnya. Setelah dilakukan pemilahan dan bila sudah penuh masing-masing karung, maka selanjutnya disetor ke Pengelola melalui pengiriman sendiri atau menghubungi Pengelola via telephon/WA/SMS untuk diambil petugas atau menunggu jadwal pengambilan yang telah ditetapkan Pengelola.

Pemahaman masyarakat yang salah terhadap sampah berdampak pada perlakuan yang salah pula terhadapnya. Sebagian besar masyarakat masih menganggap sampah sebagai musuh yang harus diperangi, sehingga masih banyak yang menyia-nyiakan sampah, bahkan tidak jarang yang mematikan potensinya. Perilaku membakar, menghanyutkan ke sungai dan membuang sampah di sembarang tempat menjadi kebaiasaan buruk yang masih dilakukan oleh sebagian besar masyarakat. Perilaku ini muncul dikarenakan rendahnya pemahaman dan kesadaran akan makna dan fungsi sampah, yang sesungguhnya dapat dijadikan sumber daya bernilai yang dapat diolah dan didayagunakan menjadi barang-barang berharga dan bermanfaat.

Sampah dapat menjadi barang berharga jika dapat dipilah sejak dihasilkannya. Sampah yang telah dipilah merupakan bahan baku (raw materials) yang ditunggu-tunggu oleh perusahaan-perusahaan daur ulang. Perusahaan kertas membutuhkan sampah kertas, perusahaan plastik membutuhkan sampah plastik, peerusahaan logam membutuhkan sampah logam dan perusahaan gelas membutuhkan sampah beling/kaca. Hampir semua jenis sampah anorganik dapat dijual ke perusahaan melalui pengepul  sehingga sampah tersebut dapat dinilai harganya. Pengelolaan sampah yang baik dan benar, tidak hanya berdampak pada pelestarian ekosistem makhluk hidup, tetapi juga dapat dijadikan sumber kebaikan dengan menjadikanya sebagai alat untuk bershodaqoh.

Dengan merujuk kepada muatan pokok yang penting dan diamanatkan dalam peraturan-perundangan tentang Pengelolaan Sampah (UU Nomor 18 tahun 2008) adalah: (1)Memberikan landasan yang lebih kuat bagi pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan dari berbagai aspek antara lain legal formal, manajemen, teknis operasional, pembiayaan, kelembagaan, dan sumber daya manusia (2) Memberikan kejelasan perihal pembagian tugas dan peran seluruh para pihak terkait dalam pengelolaan sampah mulai dari kementerian/lembaga di tingkat pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dunia usaha, pengelola kawasan sampai masyarakat (3) Memberikan landasan operasional bagi implementasi 3R (reduce, reuse, recycle) dalam pengelolaan sampah menggantikan paradigma lama kumpul-angkut-buang dan (4) Memberikan landasan hukum yang kuat bagi pelibatan dunia usaha untuk turut bertanggungjawab dalam pengelolaan sampah sesuai dengan perannya.

Kebijakan pengelolaan sampah yang selama lebih dari tiga dekade hanya bertumpu pada pendekatan kumpul-angkut-buang (end of pipe) dengan mengandalkan keberadaan TPA, diubah dengan pendekatan reduce at source dan resource recycle melalui penerapan 3R. Oleh karena itu, seluruh lapisan masyarakat diharapkan mengubah pandangan dan memperlakukan sampah sebagai sumber daya alternatif yang sejauh mungkin dimanfaatkan kembali, baik secara langsung, proses daur ulang, maupun proses lainnya (hts).

Artikel Terkait

Lihat Selengkapnya

Komentar

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018