#

Muhjidin Mawardi

Ketua MLH PP Muhammadiyah.

 

A. Latar Belakang

Berbagai kasus kerusakan lingkungan yang terjadi baik dalam lingkup global maupun nasional, jika dicermati, ternyata berakar dari pandangan dan perilaku manusia terhadap alam lingkungannya. Perilaku manusia yang kurang kesadaran dan tanggungjawabnya terhadap lingkungannya telah mengakibatkan terjadinya gangguan kesetimbangan dan berujung pada terjadinya kerusakan lingkungan.

Cara pandang  dikhotomis yang dipengaruhi oleh paham antroposentrisme yang memandang bahwa manusia merupakan bagian terpisah dari alam dan  bahwa manusia adalah pusat dari sistem alam, mempunyai peran besar terhadap terjadinya kerusakan lingkungan. Cara pandang demikian telah melahirkan perilaku yang ekstruktif, eksploitatif, destruktif dan tidak bertanggung jawab terhadap kelestarian alam dan lingkungannya. Di samping itu paham materialisme, kapitalisme dan pragmatisme dengan kendaraan sain dan teknologi telah ikut pula mempercepat dan memperburuk kerusakan lingkungan baik dalam lingkup global maupun lokal, termasuk di negara kita.

Salah satu  penyebab utama terjadinya kerusakan lingkungan antara lain adalah  melalui rekayasa dan penerapan teknologi yang tidak ramah lingkungan.  Penerapan rekayasa (engineering) dan teknologi yang tidak ramah lingkungan ini meliputi pengembangan teknologi infrastruktur, teknik dan teknologi lingkungan, teknologi produksi, teknologi pangan, rakayasa dan teknologi bangunan hingga teknologi  informasi.

Dalam rangka ikut menjaga, memelihara dan menyelamatkan lingkungan, maka dalam pengembangan perkampungan atau pemukiman harus berlandaskan pada konsep pembangunan dan pengembangan yang ramah lingkungan.  Pengembangan kampung atau pemukiman ramah lingkungaN ini  berladaskan prinsip (asas) pemikiran berikut :

  1. Memelihara lingkungan adalah amanah Allah dan tanggung jawab manusia sebagai khalifatullah fil ardl.
  2. Memelihara lingkungan hukumnya wajiib, sama tingkat wajibnya dengan memelihara kehidupan (Hifdzun Nafs)
  3. Membangun kesadaran dan merubah perilaku lebih effektif jika dilakukan melalui proses  pendidikan, pembudayaan dan praktek-praktek perilaku ramah lingkungan, termasuk dalam pengembangan pemukiman penduduk.

 

B. Pengertian dan Manfaat Teknologi

Pengertian teknologi menurut International Encyclopedia of Higher Education, adalah: (1) The systematic study and application of science to the practical and industrial arts; (2) The facts, principles, and knowledge related to man’s understanding and control of his physical environment,; and (3) The solution of practical problems by the use of applied science.

Berdasarkan atas takrif di atas, maka secara umum, teknologi dapat dimaknai sebagai hasil upaya dan karya manusia untuk membantu memecahkan  permasalahan yang dihadapi, atau untuk mempermudah kegiatan manusia dalam hidupnya dan untuk meningkatkan kinerjanya. Disamping itu, teknologi juga berperan untuk meningkatkan efisiensi kerja manusia, alat dan mesin. Teknologi merupakan hasil temuan manusia yang bisa berupa perangkat lunak seperti,  cara, organisasi, metode, proses, model dan  sistem informasi, bisa pula berupa perangkat keras seperti peralatan, mesin, bangunan dan sebagainya. Teknologi bisa diketemukan sebelum adanya sain (ilmu) yang mendasarinya, atau bisa pula sesudahnya, yakni merupakan pengembangan, kajian pengembangan atau aplikasi bidang atau cabang ilmu tertentu.

Secara etimologis, kata teknologi adalah "techne" yang berarti serangkaian asas atau metode rasional yang berkaitan dengan pembuatan suatu objek, atau kecakapan tertentu, atau pengetahuan tentang asas atau metode dan seni tertentu. Pengertian yang lebih luas dan hampir sama dengan pengertian diatas,  dikemukakan oleh Harahap (1975), bahwa teknologi mencakup pengaturan segala sesuatu yang perlu untuk membuat produk fisik maupun non fisik berdaya guna untuk kepentingan manusia, termasuk cara memperbaiki kesalahan dan melengkapi kekurangan sebelumnya. Dengan demikian teknologi merupakan hasil karya dan pengetahuan yang diwujudkan dalam bentuk fisik maupun non fisik untuk memenuhi kebutuhan  dan mengatasi permasalahan yang dihadapi manusia.

Tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi mempunyai peran yang sangat penting  dalam perkembangan peradaban umat manusia. Teknologi juga mempunyai jasa yang yang sangat besar dalam ikut meringankan beban pekerjaan manusia, dan meningkatkan produktifitas dan efisiensi kerja manusia. Walaupun demikian, arah perkembangan dan pemanfaatan teknologi ini kurang mendapat perhatian kaum umat muslim, tidak sebagaimana perkembangan ilmu dan sain modern. Wacana dan bahkan upaya untuk mengarahkan perkembangan sain modern agar tetap islami atau upaya menuju sain yang islami telah banyak didiskusikan. Akan tetapi upaya yang dilakukan oleh umat muslim agar perkembangan teknologi menuju kepada teknologi yang islami yang juga bermakna  teknologi yang ramah lingkungan (Green Technology) belum banyak di diskusikan terutama oleh Negara-negara berkembang, yang sebagian besar penduduknya adalah muslim, dimana isu kerusakan lingkungan sangat  intensif dialamatkan kepadanya. 

Perkembangan teknologi tidak berlangsung secara mendadak, tetapi secara evolutif dan bertingkat, dari yang bersifat teknologi rendah hingga teknologi tinggi (high-tech). Sejak zaman Romawi Kuno pemikiran dan hasil kebudayaan manusia telah terlihat beorientasi ke teknologi.  Dalam bentuk yang paling sederhana, kemajuan teknologi dihasilkan dari pengembangan cara-cara lama atau penemuan cara atau metode baru dalam menyelesaikan pekerjaan atau kegiatan manusia seperti bercocok tanam, membuat peralatan pemotong dan pembelah kayu, membuat baju,  membangun tempat tinggal dan sebagainya.

 

C. Konsep Teknologi  Ramah Lingkungan

Dengan menggunakan pengertian teknologi sebagaimana telah dikutip sebelumnya, maka teknologi bisa diibaratkan sebagai sebuah pedang bermata dua. Pada satu sisi teknologi menghasilkan kerja yang bisa meringankan pekerjaan manusia dan meningkatkan produktifitasnya, pada sisi lainnya teknologi juga menghasilkan kerja dan dampak yang bisa mengancam kehidupan umat manusia baik kehidupan biologis maupun mental psikologisnya. Bahkan banyak pula teknologi yang mempunyai dampak buruk terhadap lingkungan, kehidupan manusia dan kehidupan makhluk lain. Sebagai contoh adalah perkembangan teknologi (energi) nuklir. Teknologi energi nuklir hingga saat ini dipandang sebagai teknologi alternatif yang akan dapat menggantikan teknologi energi konvensional yang berasal dari bahan fosil (BBM dan batubara). Teknologi nuklir bahkan saat ini sudah digunakan untuk berbagai kepentingan misalnya dalam mutasi-mutasi genetik tanaman, diagnosis dan pengobatan penyakit, serta pemurnian dan pengawetan bahan pangan.  Akan tetapi pada sisi lain, teknologi nuklir juga telah dimanfaatkan untuk pembuatan senjata pemusnah yang amat dahsyat. Pancaran  zat radio aktifnya bisa merusak sistem kehidupan  di alam  dalam jangka panjang.

Kemajuan teknologi biologi (bioteknologi) saat ini juga sudah mampu melakukan teknik pembelahan gen melalui proses recombinant DNA, yang membuat bakteri bisa berperan sebagai  semacam “pabrik kimia’’ yang menghasilkan insulin dan interferon yang sangat diperlukan oleh penderita diabetes dan pengidap kanker. Akan tetapi bioteknologi juga bisa dipakai untuk mengembangkan senjata biokimia yang dapat menyerang dan mematikan hewan ternak, tanaman bahkan manusia. 

Itulah beberapa contoh tentang peran dan manfaat teknologi. Teknologi memang tergantung siapa yang memafaatkan teknologi tersebut. Teknologi bisa bermanfat bagi kehidupan, akan tetapi teknologi juga bisa menimbulkan madharat yang tak kalah besar dibanding manfaatnya.  Dengan sifat teknologi sebagaimana telah dikemukakan diatas, maka akhir-akhir ini berkembang pemikiran dari para pakar ilmu dan teknologi akan perlunya etika teknologi (teknoetika) dan etika kehidupan (bioetika), yang bisa menjadi panduan etik dalam pengembangan ilmu dan teknologi. Uraian berikut akan dikemukakan secara singkat pengertian dan rumusan teknologi dan rekayasa lingkungan yang ramah, yang sejalan dengan konsep teknologi Islami  yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli. Agar terjadi persamaan persepsi, terlebih dahulu akan dikemukakan pengertian ecotecnology.

Ecotechnology atau sering disebut teknologi ramah lingkungan merupakan karya cipta manusia atau hasil terapan ilmu untuk memenuhi hajat hidup manusia tanpa mengorbankan hak-hak hidup makhluk lainnya (hewan dan tumbuhan) dengan meminimalkan terjadinya kerusakan lingkungan melalui manipulasi atau rekayasa energi dan sumberdaya alam secara alami untuk memperoleh output atau hasil yang efisien. Output atau hasil akhir teknologi ramah lingkungan ini adalah minimalnya atau ketiadaannya kerusakan ekosistem sehingga pemanfaatan atau pengembangan  sumberdaya alam terjadi secara berkelanjutan. Sebagai salah satu contoh bentuk nyata teknologi ramah lingkungan adalah teknologi pemanfaatan sumberdaya alam yang berkelanjutan melalui upaya konservasi keragaman hayati.

Setelah menjelaskan yurisprudensi, filsafat dan pengetahuan Islam, Husaini (1980) seorang pakar muslim menjelaskan tentang rekayasa yang didasarkan atas konsep syariah yakni: istishlah, istihsan dan khilafah (Mawardi, 2013). Hal ini menyiratkan bahwa Rekayasa Lingkungan Islami merupakan sesuatu yang unik dan khas dari masyarakat muslim dan berbeda dengan aktifitas rekayasa dan teknologi masyarakat modern (barat). ). Rekayasa lingkungan Islami dan teknologi yang berkaitan dengannya harus memberi perhatian khusus atas pemanfaatan sebaik-baiknya terhadap sumber daya alam, pemenuhan hak-hak habitat bagi manusia, hewan dan tumbuhan dan pengembangan aktifitas yang secara sosial diperlukan.

Beberapa tahun kemudian, Sardar (1983) seorang pakar muslim lainnya menyebutkan bahwa suatu teknologi yang Islami, yang sekaligus merupakan teknologi yang ramah lingkungan harus dirancang dan dikembangkan berdasarkan beberapa prasyarat  dan prinsip berikut : 

  1. Bumi yang yang dihuni oleh manusia dan makhluk hidup lainnya (hewan, tumbuhan dan organisme mikro), bersifat hidup dan berkembang. Bumi dan seluruh isinya harus menjadi acuan utama dari seluruh teknologi yang akan dikembangkan. Hal ini berarti teknologi yang akan dikembangkan dan diterapkan harus mengacu kepada atau memperhatikan kepentingan semua makhluk hidup di bumi.
  2. Bumi dan seluruh isinya mempunyai hak-hak tertentu sesuai dengan tingkatan dan fungsi masing-masing yang harus dihormati, serta  syarat-sayarat tertentu yang harus dipenuhi dalam merancang dan mengembangkan suatu teknologi. Hak-hak bumi dan seluruh isinya tidak boleh dikurangi, apalagi dinafikan ketika sebuah teknologi akan dikembangkan dan di terapkan di muka bumi.
  3. Rancangan teknologi harus mengikuti, bukan menentang hukum-hukum alam (sunnatullah) tentang kehidupan. Seluruh rancangan teknologi yang akan dikembangkan harus mencontoh atau sesuai dengan perilaku kehidupan (bio-technology).
  4. Rancangan teknologi harus menghasilkan produk (teknologi) yang tidak merusak atau sekecil mungkin mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan.
  5. Kewajaran kehidupan (hayati) harus dilestarikan. Hal ini berarti bukan hanya manusia saja yang menyesuaikan dengan kewajaran hayati, rancangan dan aktifitas teknologi juga harus disesuaikan dengan kewajaran (hak-hak dan kebutuhan)  hayati.
  6. Setiap rancangan teknologi harus mencerminkan bio-regionalitas (regionalitas hayati) dan tidak menyebabkan kehancuran atau kepunahan keaneka ragaman hayati yang multi dimensial, akan tatapi harus bersifat melindungi dan melestarikan keaneka ragaman hayati.
  7. Seluruh aktifitas (operasional) teknologi harus menggunakan sumber daya dan energi  yang dapat diperbaharui (renewable resources and energy) sehingga manfaat teknologi yang dikembangkan bisa  berkelanjutan.
  8. Rancangan teknologi harus dapat dipertahankan melalui pemaduan sistem kehidupan.  Dengan kata lain, aktifitas teknologi harus melestarikan keterpaduan lingkungan dan mendukung saling ketergantungan ekosistem.
  9. Rancangan teknologi harus bersifat co-evolutioner dengan alam. Aktifitas teknologi  harus tumbuh sejalan dengan kecepatan pertumbuhan dan perkembangan ekosistem, dan tidak boleh tumbuh di luar batas-batas ekosistemnya. 
  10. Rancangan teknologi konstruksi (bangunan) harus  sesuai dengan lingkungan setempat dan  ikut menyelamatkan (bukan merusak) lingkungan (alam).
  11. Rancangan teknologi harus mengikuti ekosistem yang “fitrah/alami”.  Aktifitas dan perkembangan teknologi harus terjadi dalam kerangka misi penyelamatan dan penyejahteraan seluruh makhluk hidup, bukan hanya manusia. 
  12. Teknologi yang akan dikembangkan harus berbasis pada kearifan lokal, serta menggunakan pendekatan yang bersifat holistik dalam setiap penyelesaian masalahnya. Dalam sudut pandang ekosistem, suatu konstruksi atau bangunan yang akan dibangun untuk memfasilitasi kegiatan sosial ekonomi masyarakat harus  sekecil mungkin berdampak buruk terhadap ekosistem. Dengan demikian seorang pengembang atau arsitektur bangunan, dituntut untuk mempunyai pemahaman tentang ekosistem yang memadai dan serba cakup.

Duabelas prasyarat dan prinsip  pengembangan teknologi sebagaimana yang dikemukakan di atas, jika diaplikasikan secara  cermat dan konsisten akan bisa melahirkan  teknologi yang ramah lingkungan.  Yang menjadi permasalahan adalah siapa (perorangan atau lembaga) yang akan memulai dan kapan akan dimulai. Jawaban atas pertanyaan ini akan sangat tergantung pada tingkat kesadaran dan penguasaan teknologi para pengembang khususnya dan kaum muslimin pada umumnya.

Secara umum, pengembangan hunian atau kampung yang ramah lingkungan dan Islami merupakan  “Satu sistem lingkungan yang berorientasi pada pembentukan akhlak para penghuni pemukiman atau kampung yang bersangkutan yang secara kognitif, afektif dan spiritual ramah lingkungan.”.

Yogjakarta, 10 Muharram, 1441 H.

Artikel Terkait

Lihat Selengkapnya

Komentar

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018