#

Oleh

Gatot Supangkat

Majelis lingkungan Hidup PP Muhammadiyah (Sekretaris)

Agroteknologi-Fakultas Pertanian UMY

 

Kesadaran akan silih bergantinya bencana mungkin belum sampai pada pemahaman bahwa itu semua merupakan peringatan dari-Nya tetapi dipahami sebagai ujian yang seolah-olah perbuatan/langkah kita sebagai manusia di dunia ini sudah baik dan benar. Pemahaman seperti itulah yang menyebabkan kadang-kadang atau bahkan seringkali membuat manusia lupa bahwa kita sebagai khalifah (wakil) di bumi ini (khalifatullah fiil ’ardh) yang harus dipertanggungjawabkan nantinya. Khalifah mengemban misi pengabdian yang mempunyai tugas mulia dan tidak ringan yaitu memelihara, mengatur, mengelola dan memimpin alam ini. Karena itu, di tangan manusia lah alam ini kualitasnya akan tetap terjaga baik, sinambung dan lestari atau sebaliknya, kualitasnya menurun dan rusak/hancur yang pada akhirnya akan berdampak pada kehidupan manusia sendiri. Artinya, sejahtera atau sengsara hidup manusia akan tergantung pada perilaku atau seberapa baik hubungan manusia terhadap alam/lingkungannya. Ada tiga bentuk hubungan manusia dengan alam, yaitu:

  1. Hubungan keimanan dan peribadatan. Alam semesta berfungsi sebagai sarana bagi manusia untuk mengenal kebesaran dan kekuasaan Allah (beriman kepada Allah) melalui alam semesta, karena alam semesta adalah tanda atau ayat-ayat Allah. Manusia dilarang memperhamba alam dan dilarang menyembah kecuali hanya kepada Allah yang Menciptakan alam;
  2. Hubungan pemanfaatan yang berkelanjutan. Alam dengan segala sumberdayanya diciptakan Allah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Dalam memanfaatkan sumberdaya alam guna menunjang kehidupannya ini harus dilakukan secara wajar (tidak boleh berlebihan atau boros). Demikian pula tidak diperkenankan pemanfaatan sumberdaya alam yang hanya untuk memenuhi kebutuhan bagi generasi saat ini sementara hak-hak pemanfaatan bagi generasi mendatang terabaikan. Manusia dilarang pula melakukan penyalahgunaan pemanfaatan dan atau perubahan alam dan sumberdaya alam  untuk kepentingan tertentu sehingga hak pemanfaatannya bagi semua kehidupan menjadi berkurang atau hilang;
  3. Hubungan pemeliharaan untuk semua makhluk. Manusia mempunyai kewajiban untuk memelihara alam untuk keberlanjutan kehidupan, tidak hanya bagi manusia saja akan tetapi bagi semua makhluk hidup yang lainnya. Tindakan manusia dalam pemanfaatan sumberdaya alam secara berlebihan dan mengabaikan asas pemeliharaan dan konservasi sehingga mengakibatkan terjadinya degradasi dan kerusakan lingkungan, merupakan perbuatan yang dilarang (haram) dan akan mendapatkan hukuman. Sebaliknya manusia yang mampu menjalankan peran pemeliharaan dan konservasi alam dengan baik, maka baginya tersedia balasan ganjaran dari Allh swt.

Manusia dalam hubungannya dengan Allah, berhubungan pula dengan alam sebagai sesama makhluk ciptaan Allah. Dalam berhubungan dengan Allah ini manusia memerlukan alam sebagai sarana untuk mengenal dan memahami Allah (yakni: alam adalah ayat-ayat kauniah Allah). Manusia juga memerlukan alam (misalnya: pangan, papan, sandang, alat transportasi dan sebagainya) sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah.

 

Asas Pemanfaatan Sumberdaya Alam

Segala yang ada di muka bumi memang diperuntukkan untuk kemakmuran manusia (Al Baqarah: 29), namun demikian tetap harus memperhatikan keterbatasan daya dukung lingkungan. Pemanfaatan yang melebihi daya dukung lingkungan maka yang terjadi tentu kerusakan dan pada akhirnya manusia juga yang akan menanggung akibatnya (Ar Rum: 41).

Para ahli fiqih telah sepakat bahwa dalam pembuatan kebijakan (hukum) pemanfaatan sumberdaya alam dengan tujuan kemashlahatan harus mendasarkan pada tiga asas (kaidah) utama, yaitu:

  1. Kepentingan masyarakat luas dan bangsa harus didahulukan daripada kepentingan pribadi maupun golongan;
  2. Menghindari atau menghilangkan penderitaan harus didahulukan daripada memperoleh keuntungan;
  3. Kehilangan/kerugian yang lebih besar tidak dapat digunakan untuk menghilangkan kerugian yang lebih kecil dan manfaat yang lebih besar untuk rakyat harus didahulukan daripada manfaat yang lebih kecil.

Selanjutnya, berdasarkan penjelasan Al Qur’an dan Hadits Nabi tentang sumberdaya alam dan pemanfaatnya dapat dirumuskan 6 (enam) asas legalnya, yaitu:

  1. Tuhan Allah sebagai Pemilik Tunggal alam semesta, termasuk bumi dan seisinya. Pemilikan perorangan atas lahan atau sumberdaya alam yang menjadi milik umum tidak dibenarkan atau dilarang;
  2. Penyalah-gunaan hak baik oleh perorangan maupun  kelompok dilarang dan akan mendapatkan hukuman;
  3. Hak pemanfaatan sumberdaya alam yang menjadi milik umum diatur oleh masyarakat atau negara;
  1. Sumberdaya alam yang terbatas ketersediaannya atau langka pemanfaatannya diatur oleh negara;
  2. Kesejahteraan atau kemashlahatan umum didahulukan dan dilindungi;
  3. Kemanfaatan atas sumberdaya alam dilindungi dan kerusakan yang dapat menyebabkan menurunnya nilai manfaatnya dihindari.

Atas dasar itulah Muhammadiyah melalui gerakan Jihad Konstitusi nya melakukan review terhadap undang-undang terkait dengan sumberdaya alam yang dalam beberapa pasalnya tidak berpihak kepada rakyat dan bertentangan dengan UUD 1945. Contohnya, Undang-undang nomor 7 Tahun 2004 tentang Pengelolaan Sumberdaya Air telah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia merupakan salah satu dari Jihad Konstitusi Muhammadiyah bersama elemen bangsa  lainnya. Jihad Konstitusi Muhammadiyah akan terus dilakukan bersama berbagai pihak selama masih ada produk konstitusi yang merugikan dan menyengsarakan rakyat.

 

Pemanfaatan-Pemeliharaan-Pelestarian Lingkungan Berbasis Kepedulian

Seberapa baik hubungan antar manusia dan antara manusia dengan alam merupakan gambaran atau manifestasi dari seberapa baik juga hubungan manusia terhadap Al Khaliq-Allah swt. Seringkali hubungan manusia dengan Allah hanya dipahami terpisah dengan perilaku duniawinya sehingga hubungan itu tidak berdampak pada hubungannya terhadap sesamanya (makhluk). Padahal Rasulullah Muhammad saw telah mencontohkan bahwa berbuat baik atau saling menyayangi antar sesama akan menyebabkan Allah sayang juga kepada kita (HR Thabrani). Sayangnya, hubungan sesama yang dimaksud hanya dipahami sebagai hubungan antar manusia saja, sedangkan hubungannya dengan alam baik yang hidup maupun yang mati hanya pelengkap saja, mengingat makhluk selain manusia dianggap tidak dapat memberikan kompensasi (kebaikan balik) secara langsung atau seketika atas kebaikan yang diperbuatnya (pamrih). Inilah yang menyebabkan terjadinya bencana alam dan kecelakaan yang saat ini banyak melanda negeri ini atau bahkan bumi ini secara keseluruhan. Padahal, secara tegas Allah menyebutkan dalam Al Qurán surat Al Zalzalah bahwa kebaikan sekecil apapun pasti akan mendapat balasan, demikian juga keburukan sekecil apapun pasti akan mendapat balasan.

          Uraian di atas merupakan landasan teologis manusia berbuat dalam kehidupan ini, karena sebenarnya kebaikan atau keburukan yang diperbuat, akan kembali atau untuk dirinya sendiri. Oleh karena itu, apabila kita berbuat baik pada siapa pun makhluk Allah, termasuk alam sekitar (lingkungan) maka mereka juga akan baik pada kita dan sebaliknya. Itulah kepeduliaan, yang dalam  bahasa Jawa dikenal dengan Tepa Slira dan Sing Becik Ketitik Sing Ala Ketara. Kata-kata yang penuh makna tersebut, apabila dapat dipahami dan dijadikan pertimbangkan dalam berbuat, tentu alam/lingkungan akan lestari dan kehidupan manusia juga tentram baik kini maupun mendatang. Marilah kita simak dan renungkan, bagaimana kita harus berbuat terhadap tiga komponen sumberdaya alam di bawah ini.

 

Peran Muhammadiyah

Muhammadiyah sebagai organisasi masa keagamaan melalui Gerakan Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar dapat berperan untuk melakukan mediasi dan advokasi terhadap permasalahan agraria yang timbul di masyarakat. Dalam hal melakukan perannya, Muhammadiyah mengedepankan prinsip Saling Mengingatkan “tawwa shaubil haq wa tawwa shaubis shabr” kepada siapa pun, baik masyarakat maupun pemerintah dan juga swasta. Hingga saat ini, Muhammadiyah selalu melakukan kajian-kajian terhadap produk-produkk hukum yang kurang berpihak, atau bahkan tidak berpihak pada rakyat, yang dikenal dengan JIHAD KONSTITUSI. Beberapa produk hukum yang berupa undang undang telah dikaji dan kemudian bersama komponen masyarakat yang melakukan Judicial Review. Salah satu hasilnya, yakni Pembatalan Undang Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Pengelolaan Sumberdaya Air, karena tidak berpihak rakyat dan bertentangan dengan UUD 1945. Terkait dengan konflik agraria yang berkembang di masyarakat, maka Muhammadiyah juga melakukannya. Salah satunya kasus agraria di Karawang, yang akhirnya masyarakat mendapatkan hak atas tanahnya dengan terbitnya sertifikat kepemilikan tanah.

Muhammadiyah sebagai mitra Pemerintah selalu berupaya untuk menjadi mediator dan melakukan advokasi dalam permasalahan lingkungan yang timbul di masyarakat. Namun demikian, apa pun upaya yang dilakukan, sudah seharusnya dengan tujuan untuk mencapai Kesepahaman Bersama sesuai Hak-nya. Untuk mendukung dan mengantispasi timbulnya permasalahan lingkungan ke depan, maka diusulkan beberapa hal konseptual, yaitu:

  1. Pembangunan harus dilaksanakan sesuai dengan paradigma pembangunan berkelanjutan yang meliputi tiga aspek, yakni Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan;
  2. Keberhasilan pembangunan bidang ekonomi harus berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan sosial dan ramah lingkungan dan sebaliknya sehingga keterpaduan ketiganya harus diutamakan pencapaiannya;
  3. Manfaat dan madharat bagi rakyat harus menjadi pertimbangan utama;
  4. Model pendekatan partispatif harus dikedepankan;
  5. Terbuka kritik konstruktif dan evaluatif.

 

Penutup

          Begitu besarnya karunia Ilahi yang diberikan dalam kehidupan melalui peran lingkungan, karena itu menjadi sangat penting kita peduli terhadap lingkungan. Apabila kita berbuat baik pada lingkungan maka kebaikan itu akan kembali pada kita sehingga kehidupan ini menjadi tentram dan harmonis. SEJUK BUMIKU – NYAMAN HIDUPKU – AMAN DAN TENTRAM MASA DEPAN ANAK CUCUKU.

          Akhirnya, keberhasilan atas pengelolaan dan perlindungan terhadap lingkungan berpulang kepada kita semua, terutama pemangku kepentingan negeri tercinta ini.

Wallahu alam bisshawab

 

Disarikan dan dikembangkan dari buku Teologi Lingkungan, terbitan MLH PP Muhammadiyah

Bangka Belitung 14 Desember 2019

Artikel Terkait

Lihat Selengkapnya

Komentar

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018