#

Oleh
Hidayat Tri Sutardjo
Divisi Humas & Kerjasama
Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah

 

Dalam sejarah peradaban Islam, peran ulama menempati posisi sangat penting. Di zaman sahabat, ulama mempunyai fungsi sebagai pewaris nabi dan penjaga misi kenabian. Ada empat tugas pokok ulama. Pertama, menyampaikan ajaran Allah yang termaktub dalam al Qur’an dan Hadits. Kedua, menjelaskan ajaran-ajaran Allah agar dapat dimengerti masyarakat. Ketiga memberikan keputusan terhadap problem yang dihadapi masyarakatnya dengan merujuk kepada ajaran Allah. Keempat, memberikan contoh pengalaman ajaran Allah tersebut. Konsekuensi dari tugas-tugas tersebut, ulama dituntut aktif untuk mengembangkan wawasannya tentang makna ajaran Allah dalam rangka menjawab dinamika problem masyarakat yang terus berkembang (Sukarni. 2011).

Ulama Menurut Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulum Ad-din memiliki kedudukan yang sangat mulia di dalam Al-Quran sebagai kitab suci umat Islam. Mereka seperti penerang dalam kegelapan, juga sebagai pemimpin yang membawa petunjuk bagi umat Islam, yang dapat mencapai kedudukan al-akhyar (orang-orang yang penuh dengan kebaikan), dan derajat orang-orang yang bertakwa. Dalam kehidupan kesehariannya, ulama mempunyai peran yang sangat  penting di tengah kehidupan umat Islam, dan ulama juga bisa terus eksis sebagai ahli agama dengan posisinya yang terhormat.Ulama memiliki beberapa tugas  yang dijelaskan dalam buku M. Quraish Shihab (1992), yang berjudul  Membumikan al-Qur’an disitu disebutkan tugas ulama sebagai Warosatul ambiya (penerus para nabi) yakni:  

  1. Menyampaikan ajaran sesuai dengan perintah Allah dan meninggalkan larangannya.
  2. Menjelaskan ajaran Allah Swt berdasarkan Al Quran.
  3. Memutuskan perkara yang terjadi di masyarakat.
  4. Memberikan contoh pengalaman sebaqgai media dan contoh terhadap masyarakat.

            Islam sebagai agama yang tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga hubungan manusia dengan sesama makhluk (termasuk lingkungan hidupnya) sebenarnya telah memiliki landasan normatif baik secara implisit maupun ekplisit tentang pengelolaan lingkungan ini.

  1. Melestarikan Lingkungan Hidup Merupakan Manifestasi Keimanan.

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan pemperbaikinya, yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman".(QS. Al-A‟raf [7]: 85)

  1. Merusak Lingkungan Adalah Sifat Orang Munafik dan Pelaku Kejahatan.

“ Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk Mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan”.(QS. AlBaqarah [2]: 205)

  1. Alam semesta merupakan anugerah Allah untuk manusia.

“Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmatNya lahir dan batin”. (QS. Luqman [31]: 20)

“Dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang”.(QS. Ibrahim [14]: 32-33)

  1. Manusia adalah khalifah untuk menjaga kemakmuran lingkungan hidup.

“Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS. Al-An‟am [6]: 165)

  1. Kerusakan yang terjadi di muka bumi oleh karena ulah tangan manusia

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”(QS. AsSyuura [42]: 30)

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”(QS. Al-A‟raf [7]: 56)

Selaras dengan ayat-ayat di atas, Rasulullah SAW melalui hadits-hadits beliau juga telah menanamkan nilai-nilai implementatif pemeliharaan dan pelestarian lingkungan hidup ini, antara lain:

  1. Penetapan daerah konservasi

“Sesungguhnya Rasulullah telah menetapkan Naqi‟ sebagai daerah konservasi, begitu pula Umar menetapkan Saraf dan Rabazah sebagai daerah konservasi”.

  1. Anjuran Menanam Pohon dan Tanaman Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah seorang muslim menanam sebuah pohon atau sebuat tanaman, kemudian dimakan oleh burung, manusia, atau binatang, melainkan ia akan mendapat pahala sedekah”.

  1. Larangan melakukan pencemaran Rasulullah SAW bersabda:

“Takutilah tigaperkara yang menimbulkan laknat; buang air besar di saluran air (sumber air), di tengah jalan dan di tempat teduh

  1. Berlaku Ihsan Terhadap Binatang Abu Huruairah RA meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda:

“Ketika seorang laki-laki sedang dalam perjalanan, ia kehausan. Ia masuk ke dalam sebuah sumur itu, lalu minum di sana. Kemudian ia keluar. Tiba-tiba ia mendapati seekor anjingdi luar sumur yang sedang menjulurkan lidahnya dan menjilat-jilat tanah lembab karena kehausan. Orang itu berkata, „Anjing ini telah merasakan apa yang baru saja saya rasakan.‟ Kemudian ia kembali turun ke sumur dan memenuhi sepatunya dengan air lalu membawanya naik dengan menggigit sepatu itu. Sesampainya di atas ia minumi anjing tersebut. Karena perbuatannya tadi Allah berterimakasih kepadanya dan mengampuni dosanya.”Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kalau kami mengasihi binatang kami mendapatkan pahala?”Beliau bersabda, “Berbuat baik kepada setiap makhluk pasti mendapatkan pahala.”

Tentunya, masih banyak ayat dan hadits lain yang kesemuanya memuat pesan akan pentingnya kesadaran untuk menjaga dan melestarikan lingkungan hidup. Sebagai ahli waris tugas-tugas para Nabi (waratsatu al-anbiya) pembawa risalah Ilahiyah dan pelanjut misi yang diemban Rasulullah Muhammad SAW, ulama terpanggil bersama-sama zuama dan cendekiawan muslim untuk melakukan ikhtiar-ikhtiar kebajikan dalam membangun masyarakat Islam yang sebenar-benarnya (baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur).

Seorang ulama dituntut untuk dapat memahami perkembangan masyarakatnya. Dalam dunia modern sekarang ini, seorang ulama tidak dapat hanya sekadar mendalami ilmu-ilmu fiqh, tafsir atau hadits saja, apalagi kalau pengetahuannya itu hanya bersifat hapalan yang statis. Penguasaan ilmu-ilmu tentang Islam yang lengkap dan dinamis, di samping perangkat ilmu dan wawasan yang dapat dipakai untuk memahami perkembangan masyarakat.  

Sekarang kita hidup di alam modern. Manusia modern adalah manusia yang akal pikirannya maju, ilmu pengetahuannya dan teknologi juga maju. Tetapi sering paradoks, di tengah kemajuan ini alam menjadi rusak. Kerusakan lingkungan, eksploitasi alam, kebakaran hutan, bahkan juga pemanasan global. Itu semua terkait dan tidak lepas dari perilaku manusia.

Etika yang harus dibangun adalah kita harus menjadi pembangun lingkungan alam semesta, dan jangan menjadi perusak. Kenapa manusia merusak alam, dan bukan memakmurkannya? Karena manusia memiliki sifat serakah dan isrof/berlebihan. Dia ingin memperoleh lingkungan di mana dia berada, dari hutan, laut dan sekitarnya. Tetapi keinginannya melampaui takaran. Keinginannya merusak dan membawa pada konsekuensi kerusakan. Tidak sadar bahwa ketika alam itu rusak maka akan berbalik kepada manusia dan makhluk hidup yang lain.

Di tengah masyarakat modern muncul pandangan bahwa alam sudah tidak alamiah lagi, dan manusia sudah tidak manusiawi lagi. Sebagaimana pandangan ahli ekologi baru atau mazhab baru yang menuntut bahwa manusia kembali mengasah kemanusiaannya agar alam kembali kepada habitatnya. Orang banyak menyebut sebagai back to nature, kembali ke alam.

Sejak tahun 1970-an, para pemimpin dunia menggelorakan untuk menekan pertumbuhan ekonomi yang merusak alam sampai pada titik zero. Tawaran ini ekstrim, tetapi semangatnya adalah kerakusan untuk pertumbuhan ekonomi dan memperoleh keuntungan yang melampaui takaran menyebabkan alam itu rusak.

Di situlah etika Islam. Akhlak juga harus kita sebar-luaskan membangun Akhlak sosial cinta lingkungan dan menyelamatkan lingkungan sebagai bagian kesalehan kita. Ketika para pemimpin dunia menggelorakan etika global, termasuk di dalamnya untuk mencegah pemanasan global, sesungguhnya di sini terjadi pelopor etika sosial dan etika lingkungan yang membawa rahmatan lil ‘alamin.

Dalam perspektif Islam, perilaku yang membuat kerusakan lingkungan itu adalah perilaku yang membawa dosa. Perbuatan dosa adalah perbuatan yang akan memperoleh siksa. Simboliknya adalah agar manusia membunuh naluri-naluri yang jahat, yang rakus, yang isrof, di dalam kehidupan yang menyebabkan juga lingkungan menjadi rusak.

Paradoks perilaku seperti ini banyak terjadi sekarang ini. Atas nama membangun, tetapi sebenarnya merusak. Membangun hutan, tetapi merusak hutan. Memanfaatkan laut, tetapi merusak laut. Dan segala hal yang paradoks itu dilakukan oleh kekuatan yang tidak bisa dicegah.

Dalam kontek inilah menurut Haedar Nashir (2020), kaum muslimin terutama ulama perlu hadir untuk membangun kesadaran kolektif, dalam kontek bangsa bahkan dunia. Bagaimana kita menyelamatkan lingkungan, membangun lingkungan, menggali sumber alam, tetapi jangan sampai merusaknya. Sebab kalau kerusakan itu terjadi maka yang rugi adalah kita semua, makhluk yang ada di bumi ini.

Untuk sampai ke sana, dalam perspektif Islam, kita perlu dakwah amru bimakruf nahy anil munkar. Dalam gerakan membangun lingkungan hidup yang ramah, lingkungan hidup yang membawa kemakmuran, dan lingkungan hidup yang membawa kemaslahatan. Bukan lingkungan hidup yang rusak dan membawa bencana.

Berangkat dari hal di atas, diperlukan gerakan lingkungan hidup yang Islami yang menbawa keselamatan hidup manusia dan seluruh makhluk hidup ciptaan Allah lainnya di bumi, dan membawa keselamatan hidup. Islam itu sendiri berarti selamat dan membawa keselamatan, maka kesadaran setiap muslim untuk memakmurkan lingkungan. Bumi dan alam sekitar harus menjadi bagian dari jihad dan dakwah kita menuju kepada rahmatan lil ‘alamin.

Artikel Terkait

Lihat Selengkapnya

Komentar

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018