#

Muhjidin Mawardi
Ketua MLH PP Muhammadiyah

 

Pemanasan global dan perubahan iklim akhir-akhir ini menuntut perhatian yang lebih serius dari pemerintah dan masyarakat khususnya masyarakat pertanian, karena akibat dan dampaknya akan sangat luar biasa bagi sistem lingkungan dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat dalam jangka panjang. Akibat dan dampak perubahan iklim saat ini bukan lagi sekedar wacana, akan tetapi sudah menjadi realitas yang dirasakan oleh masyarakat luas khususnya masyarakat pertanian di Negara kita dan di beberapa negara di benua Afrika, dan Asia. Perubahan iklim telah mengakibatkan terjadinya perubahan pola musim hujan dan kemarau yang ekstrem, yang ditandai dengan curah hujan dengan intensitas tinggi yang kadang disertai angin rebut, yang mengakibatkan terjadinya banjir sebagaimana telah terjadi di beberapa Negara di Eropa, Asia termasuk di Negara kita. Musim kemarau yang panjang dan kering disertai suhu udara yang lebih tinggi juga telah dirasakan oleh sebagian besar penduduk dunia. Perubahan iklim telah secara nyata berpengaruh terhadap sistem hidrologi dan ketersediaan air wilayah. Perubahan pola ketersediaan air wilayah ini akan berdampak terhadap sistem (produksi) pertanian terutama pertanian tanaman pangan, yang pada gilirannya akan merubah pula pola ketersediaan (bahan) pangan nasional dan global. Ancaman kekurangan bahkan kelangkaan bahan pangan akan terjadi di negara-negara yang rentan terhadap akibat perubahan iklim seperti di Afrika, Asia Selatan dan negara-negara kepulauan termasuk Indonesia.


Indonesia dan juga beberapa negara di kawasan tersebut merupakan negara-negara yang rentan terhadap perubahan iklim yang ekstrem, disamping karena kondisi geo- hidrologis wilayahnya yang kurang menguntungkan, jumlah penduduk di negara-negara tersebut lebih dari separuh jumlah penduduk dunia dengan kondisi sosial ekonomi yang sebagian besar miskin. Penduduk miskin pada umumnya kurang atau bahkan tidak mempunyai akses terhadap sumberdaya alam termasuk air, pangan dan pelayanan kesehatan. Ancaman kelangkaan air, bahan pangan dan mewabahnya berbagai penyakit dengan demikian akan dirasakan terlebih dahulu oleh kelompok penduduk miskin tersebut.

 

Beberapa sistem lingkungan yang akan mengalami perubahan akibat perubahan iklim yang perlu mendapat perhatian antara lain: suhu udara dan tanah, kelembaban dan tekanan udara, kecepatan angin dan laju penguapan (evaporasi dan transpirasi tanaman). Perubahan-perubahan ini akan secara langsung berakibat pada hidrologi wilyah, ekosistem keairan didarat dan lautan. Perubahan dalam anasir iklim ini akan secara langsung berakibat pada siklus air wilayah dan sistem hubungan tanah-air-tanaman dan atmosfer. Laju kehilangan air melalui evaporasi dan transpirasi menjadi semakin tinggi, sehingga tanah cepat kehilangan lengas (air) dan tanaman juga membutuhkan air (konsumsi air) lebih tinggi, dan hal ini berarti menuntut untuk dilakukannya perubahan dalam sistem irigasi dan drainasi serta manajemen air dan sumberdaya air yang lebih terpadu.


Pola hujan yang berubah dengan intensitas yang lebih tinggi akan merubah energi erosivitas hujan (daya rusak hujan) terhadap tanah, sehingga akan berpengaruh terhadap tingkat erosi dan sedimentasi di wilayah yang bersangkutan. Laju degradasi lahan akibat erosi terutama di daerah-daerah dengan penutupan vegetasi rendah atau lahan terbuka tanpa tanaman, akan mengalami kenaikan tajam. Akibat berikutnya adalah terjadinya penurunan kesuburan tanah dan produktifitas lahan. Daya dukung lahan bagi kehidupan juga akan menurun karenanya. Disamping itu sistem aliran air di sungai-sungai juga akan mengalami perubahan, sehingga kuantitas dan kualitas air sungai dan muara sungai serta ekosistem sungai dan pantai akan mengalami perubahan pula. Hal ini telah terjadi disebagian besar sungai di negara kita.


Perubahan ketersediaan air dan sebarannya, suhu, kelembaban, evaporasi dan kecepatan angin akan berpengaruh terhadap daya tahan, pertumbuhan dan hasil tanaman termasuk tanaman budidaya. Zona-zona produksi tanaman akan mengalami perubahan sesuai dengan sebaran ketersediaan air, suhu, kelembaban dan kecepatan angin. Diperlukan upaya-upaya yang sungguh-sungguh melalui penelitian untuk memperoleh jenis atau varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan, suhu dan kecepatan angin yang lebih tinggi dan tanaman yang tahan terhadap banjir atau kelebihan air. Tak kalah pentingnya untuk diwaspadai, terjadinya perubahan sebaran dan munculnya hama dan penyakit tanaman baru hasil mutasi dan adaptasi terhadap faktor lingkungan yang berubah. Rekayasa lingkungan dan rekayasa iklim mikro dalam hal ini memegang peran penting dalam proses adaptasi sistem produksi pertanian, terutama di negara kepulauan seperti Indonesia.


Strategi adaptasi sistem (produksi) pertanian yang tepat untuk wilayah yang sangat luas seperti di negara kita dengan lingkungan iklim yang berbeda-beda perlu dikembangkan, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Pilihan strategi yang bersifat adaptif terhadap sistem lingkungan yang berubah antara lain: (1) pengembangan varietas baru tanaman yang lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit serta suhu udara yang lebih tinggi (new temperature and pest-resistent crop varieties), (2) pengembangan cara atau teknologi untuk menekan kehilangan hasil panen (crop yield loss), (3) peningkatan efisiensi pemakaian air tanaman dan irigasi, (4) pendekatan terpadu manajemen air dan sumberdaya air ( integrated water resources management) yang mempertimbangkan kondisi saat ini dan masa depan dalam situasi iklim yang telah berubah, dan (5) manajemen pengendalian hama dan penyakit tanaman yang terpadu.

 

Masalah pemanasan global dan perubahan iklim bukan hanya semata-mata akan berpengaruh terhadap masalah teknis fisik hidrologis masa sekarang, akan tetapi menyangkut dan akan berpengaruh pula terhadap sistem sosial ekonomi masyarakat dan bangsa di masa yang akan datang. Perubahan iklim akan menentukan pula masa depan kehidupan masyarakat, bangsa dan umat manusia secara global. Bahkan akibat dan dampak perubahan iklim ini akan bisa merupakan titik balik peradaban umat manusia. Oleh karena itu upaya-upaya yang strategis melalui mitigasi dan adaptasi harus segera dan senantiasa dilakukan, agar akibat dan dampak buruk dari perubahan iklim bagi kehidupan masyarakat bisa dikurangi dan tidak menjadi semakin parah.

Artikel Terkait

Lihat Selengkapnya

Komentar

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018