#

Hery Setiyawan, M.Si

MLH PDM Kota Yogyakarta

 

Kerusakan Lingkungan yang dialami oleh umat manusia saat ini tidaklah terlepas dari perilaku dan sikap hidup manusia itu sendiri. Berbagai bencana menjadi peringatan sebagai dampak kerusakan lingkungan, belum juga dapat merubah umat manusia yang sadar dan mau berbuat lebih baik bagi penyelamatan lingkungan. Bahkan demi kelangsungan hidup dan kesejahteraan ekonomi, baik secara individu, kolektif maupun institusi resmi pemerintah, manusia secara sengaja melakukan kerusakan terhadap lingkungan dengan cara melakukan eksploitasi alam melebihi daya dukungnya tanpa disertai tindakan – tindakan yang dapat menyeimbangkan kondisi alam atau lingkungan itu sendiri. Masalah lingkungan hidup yang kita hadapi saat ini begitu kompleks dan rumit. Karena itu gaya penanganannya tidak cukup dengan pendekatan saints dan tehnologi, tetapi pada kearifan masyarakat sendiri. Sebagai negara berkembang Indonesia dikarunia lingkungan dengan kekayaan alam yang berlimpah, tetapi disisi lain Indonesia juga merupakan tempat dengan tingkat kerusakan lingkungan paling tinggi di Dunia sehingga Indonesia harus menghadapai banyak masalah, mulai dari sampah, pencemaran udara yang berasal dari asap bermotor, industri, bencana alam semburan lumpur lapindo, krisis air, tanah longsor, banjir, gunung berapi, pemanasan global dll.

Penyebab utama bencana yang terjadi selama ini, pertama bumi makin ditekan dengan jumlah penduduk yang meningkat dan konsumsi yang berlebihan. Semakin meningkat jumlah penduduk hal ini akan mempengaruhi kualitas lingkungan  terutama kualitas air, tanah, udara. Kedua salah urus terhadap lingkungan hidup itu sendiri. Bila ingin lingkungan kita tetap lestari hingga ke anak cucu kita, perlu merubah cara pandang  kita atas alam. Cara berpikir secara Antroposentris dimana manusia menjadi pusat dari segala-galanya dirubah dengan berpikir secara Ekosentris dimana alam menjadi pusat segalanya dan manusia bagian darinya.

Sumber Pencemaran

Secara umum ada 2 sumber pencemaran yaitu pencemaran akibat sumber alamiah (Natural Sources) seperti letusan gunung berapi. Pencemaran dari kegiatan manusia (Antropogenic Sources) seperti berasal dari transportasi, emisi pabrik, sampah dll. Di Indonesia 70 % pencemar udara disebabkan oleh emisi kendaraan bermotor, yang mengeluarkan zat-zat berbahaya yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan manusia maupun terhadap lingkungan. Peningkatan jumlah penduduk dan gaya hidup sangat berpengaruh pada volume sampah. Permasalahan air secara kualitas disebabkan pencemaran air didaratan/udara (hujan asam), pencemaran air akibat kekeruhan (erosi), pencemaran air akibat kimia seperti pestisida, akibat limbah cair domestik maupun industri, pencemaran akibat buangan sampah. Secara Kuantitas kekurangan air akibat eksploitasi berlebihan, eksploitasi yang tidak tepat penggunaanya, rusaknya daerah resapan air akibat deforestasi, dan juga belum efektifnya upaya konservasi air.

Pendekatan Ekologi

Hubungan timbal-balik antara manusia dan lingkungannya sangat berkaitan erat dengan pola perkembangan suatu wilayah dimana segala sesuatu yang dilakukan kepada lingkungannya akan berpengaruh balik terhadap ekologi yang ada di sekitarnya dapat bernilai positif dan bernilai negatif tergantung dari bagaimana pengelolaan yang dilakukan untuk menjaga keseimbangan ekologi. Manusia mempunyai tanggung jawab dan pengaruh yang besar terhadap perubahan lingkungan di sekitarnya, perkembangan dan kemajuan teknologi dari waktu ke waktu dapat mempengaruhi perubahan-perubahan pola penggunaan lahan, pertumbuhan masyarakat, urbanisasi, pertanian, ekonomi dan sosial budaya.

Aktifitas sosial dan ekonomi manusia yang terus meningkat sejalan dengan perkembangan peradaban bumi yang berimplikasi terhadap kosentrasi Gas Rumah Kaca (GRK), sehingga menyebabkan akumulasi panas di atmosfer yang mempengaruhi sistem iklim global hal ini menyebabkan naiknya temperatur rata-rata bumi yang dikenal dengan pemanasan global. Perubahan iklim merupakan dampak dari pemanasan global yang ditimbulkan oleh Gas Rumah Kaca (GRK) secara berlebihan seperti CO2 berasal dari pembakaran bahan bakar minyak, batu bara, methana (NH4) berasal dari timbunan sampah, N2O berasal dari kegiatan pertanian yang dihasilkan akibat aktifitas manusia. Akhirnya menyebabkan terjadinya perubahan iklim seperti suhu udara dan curah hujan meningkat temperatunya, naiknya tinggi permukaan air laut akibat dari melelehnya es kutub, terjadinya pergeseran musim kemarau yang berlangsung lama dan mengakibatkan kekeringan sehingga potensi kebakaran hutan meningkat.Musim hujan berlangsung cepat dengan kecenderungan intensitas curah hujan yang lebih tinggi sehingga mengakibatkan banjir, tanah longsor, terjadinya krisis persediaan makanan akibat tingginya potensi gagal panen, krisis air bersih, meluasnya penyebaran penyakit tropis (malaria, demam berdarah, diare), hilangnya spesies flora dan fauna karena tidak dapat beradaptasi dengan perubahan iklim di bumi.

Kearifan Lokal

Kearifan lingkungan atau kearifan lokal masyarakat (local wisdom) sudah ada di dalam kehidupan masyarakat semenjak zaman dahulu mulai dari zaman pra-sejarah hingga saat ini, kearifan lingkungan merupakan perilaku positif manusia dalam berhubungan dengan alam dan lingkungan sekitarnya yang dapat bersumber dari nilai-nilai agama, adat istiadat, petuah nenek moyang atau budaya setempat (Wietoler, 2007), yang terbangun secara alamiah dalam suatu komunitas masyarakat untuk beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya, perilaku ini berkembang menjadi suatu kebudayaan di suatu daerah dan akan berkembang secara turun-temurun, secara umum, budaya lokal atau budaya daerah dimaknai sebagai budaya yang berkembang di suatu daerah, yang unsur-unsurnya adalah budaya suku-suku bangsa yang tinggal di daerah itu. Dalam pelaksanaan pembangunan berkelanjutan oleh adanya kemajuan teknologi membuat orang lupa akan pentingnya tradisi atau kebudayaan masyarakat dalam mengelola lingkungan, seringkali budaya lokal dianggap sesuatu yang sudah ketinggalan di abad sekarang ini, sehingga perencanaan pembangunan seringkali tidak melibatkan masyarakat. Pengelolaan lingkungan berkelanjutan (environmental management) dapat berjalan dengan baik apabila ada interaksi seimbang antara kebutuhan akan alam dan sistem pengelolaan terpadu yang dijalankan, baik oleh masyarakat setempat ataupun pemerintah. Budaya masyarakat memberikan gambaran yang nyata bagaimana suatu wilayah yang memiliki sumberdaya akan tetap terjaga sebagai aset berharga yang dapat dimanfaatkan secara terus-menerus. Kearifan lingkungan akan menjadi suatu pegangan bagi masyarakat dalam melaksanakan pembangunan berkelanjutan sehingga pemerintah perlu menjadikan kearifan lingkungan sebagai bahan referensi rencana kerja dalam pembangunan dan pada akhirnya pembangunan berkelanjutan berjalan  adanya kerjasama antara pemerintah dan masyarakat untuk mencapai tujuan bersama .

Perilaku sadar dan peduli lingkungan sekecil apapun sangatlah berpengaruh bagi kelestarian lingkungan. Namun untuk mencapai hal itu diperlukan upaya pendidikan lingkungan yang komprehenship, Integralistik, sistematik bagi masyarakat agar hasilnya terukur. Adapun yang bisa dilakukan antara lain :

  1. Membudayakan gemar menanam tanaman   disekitar lingkungan kita sendiri.
  2. Hindari pembakaran sampah dengan cara merubah paradigma sampah yang dulu dikumpul ditampung kemudian dibuang, kita rubah paradigmanya dikumpul, ditampung, dipilah, diolah, uang.
  3. Batasi emisi karbon, gunakan alat transport yang tidak menggunakan emisi karbon, contoh : sepeda merupakan alat traansport yang hemat dan sehat.
  4. Hemat energi seperti mematikan lampu dan peralatan listrik jika tidak diperlukan,   menggunakan lampu hemat energi.

Melalui kegiatan semacam itu diharapkan akan tumbuh kesadaran, kemauan, dan ketrampilan bagi masyarakat dalam melakukan kegiatan yang berorentasi pada penyelematan lingkungan demi pembangunan yang berkelanjutan. Lebih jauh lagi hal itu diharapkan menjadi perilaku keseharianya. Marilah didalam peringatan hari Lingkungan Hidup Se Dunia yang diperingati setiap tanggal 5 Juni  kita selamatkan lingkungan  hidup dimulai diri sendiri, dari yang kecil., karena sekecil apapun kontribusi yang kita lakukan terhadap lingkungan, manfaatnya dapat dirasakan. bersama – sama.

 

Ket

Memperingati Hari Lingkungan Se-Dunia (5 Juni 2013)

Artikel Terkait

Lihat Selengkapnya

Komentar

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018