#Berita

#

Menyoal Kinerja Persyarikatan Muhammadiyah

Bantullingkunganmu.com--Muhammadiyah tidak pernah diam. Organ organisasinya terus bergerak di berbagai sektor. Pendidikan, tanggap darurat bencana, pemberdayaan, dan lingkungan adalah beberapa sektor di mana Muhammadiyah terus berkiprah, dari dulu hingga saat ini. Muhammadiyah selalu hadir dalam denyut nadi pembangunan bangsa. Sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan lembaga keuangan menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. 

Melalui amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan dan social itulah Muhammadiyah terus bergerak melintasi zaman. Ribuan sumber daya manusia teah diproduksi oleh lembaga pendidikan Muhammadiyah yang menyediakan layanan dari mulai sekolah taman kanak-kanak hingga peguruan tinggi. Tidak hanya itu, layanan kesehatan terus berlangsung di bawah kerumitan cash flow nya akibat pembayaran skema asuransi kesehatan universal pemerintah melalui BPJS tidak lancar, program tanggap bencana terus dilakukan ketika ribuan bencana alam setiap tahun menerpa masyarakat di berbagai wilayah. Namun demikian, dalam rutinitas yang sedemikian padat yang dilakukan seluruh komponen struktur Persyarikatan Muhammadiyah, baik oleh pimpinan di tingkat pusat hingga ranting, hingga unsur pembantu pimpinan seperti majelis, lembaga dan ortom, Muhammadiyah kerap juga mengahadapi masalah dalam pendataan, evaluasi pencapaian di setiap sektor, dan kerap lupa mengkur kontribusi yang teah dibuatnya terhadap pembangunan bangsa ini. 

Belum adanya kondolidasi data yang kuat dan terintegrasi, dan belum adanya sistem digital yang menyeluruh yang dapat menjangkau seluruh negeri, dan belum adanya sistem evaluasi pencapaian yang sitematis dan terencana, adalah pekerjaan rumah yang mau tidak mau harus diselesaikan sesegera mungkin. Selaras dengan hal di atas, pembangunan berkelanjutan merupakan satu topik yang menjadi arus utama saat ini. Sebagai lembaga masyarakat sipil berbasis Islam yang sangat besar potensi dan kapasitasnya, perlu satu cara pandang dan rumusan yang dapat mengakeselerasi kinerja kelembagaan Persyarikatan Muhammadiyah maupun untuk melakukan evaluasi dan penyesuaikan-penyesuaikan model gerakan yang barangkali sudah kurang relevan untuk masa depan.

Untuk itulah UM Yogyakarta menggelar Focus Group Discussion I “Menakar Kontribusi Gerakan Sosial-Kemanusiaan Muhammadiyah untuk Pembangunan Berkelanjutan di Kampus UM Yogyakarta (27/12/2019). 

Gunawan Budiyanto, Rektor UM Yogyakarta dalam pembukaan FGD tersebut menegaskan bahwa “Peran Muhammadiyah dalam menjalankan misi dakwah harus sinergis terpadu dan berkelanjutan. Penanganan Bencana yang telah dilakukan oleh MDMC harus dilanjutkan oleh Majelis/lembaga yang lain terkait penanganan pasca recovery sehingga tidak menjadi ladang dakwah bagi umat lain. Peran Amal Usaha Muhammadiyah terutama PTMA terdekat dengan lokasi menjadi penting sebagai penggerak utama untuk mengimplementasikan hasil-hasil kajian keilmuan”.

FGD tahap pertama ini diharapkan dapat merumuskan beberapa agenda strategis yang tidak hanya konseptual tetapi juga measurable dan dapat menjadi bahan evaluasi kinerja Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang rahmatan lil allamin. Secara khusus, diharapkan tersusunnya Narasi Besar Pembangunan Berkelanjutan Persyarikatan Muhammadiyah, Teridentifikasinya konsep pembangunan berkelanjutan ala Muhammadiyah, dan aspek-aspek yang dapat diukur serta dikembangkan dari Peryarikatan Muhammadiyah dalam mendorong pencapaian pembangunan berkelanjutanm Terumuskannya strategi pencapaian pembangunan berkelanjutan Persyarikatan Muhammadiyah melalui majelis, lembaga dan ortom, dan Terbangunnya sistem terintegrasi dalam mengevaluasi dan mengukur pencapaian kontribusi Persyarikatan Muhammadiyah terhadap konsep pembangunan berkelanjutan, serta proyeksinya di tahun 2030.

Hasil-hasil yang didapat dari FGD I ini antara lain program dan kegiatan majelis/lembaga/ortom masih belum terintegrasi sehingga perlu meningkatkan sinergi antar lembaga/majelis/ortom, program dan kegiatan majelis/lembaga/ortom perlu dikaitkan dengan SDG’s untuk pembangunan kemanusiaan berkelanjutan. Sedangkan beberapa masalah yang teridentifikasi meliputi masih kurangnya SDM yang memiliki kompetensi manajerial sehingga perlu pembenahan sistem pengkaderan dan rekruitment di masing-masing majelis/lembaga/ortom dan perlunya selalu berkoordinasi dan bertukar informasi untuk salaing mengisi dan menindaklanjuti program dam kegiatan dari masing-masing majelis/lembaga/ortom.

Triyono, anggota pimpinan MLH PP Muhammadiyah yang hadir dalam FGD ini memaparkan bahwa “beberapa program dan kegiatan MLH telah memiliki relevansi  dengan SDG’s antara lain adalah tujuan 6: Air bersih dan sanitasi layak, tujuan 7: energi bersih dan terjangkau, tujuan 13: penanganan perubahan iklim, tujuan 15:  Ekosistem daratan: Mengelola hutan secara berkelanjutan, melawan perubahanlahan menjadi gurun, menghentikan dan merehabilitasi kerusakan lahan, menghentikan kepunahan keanekaragaman hayati”.

FGD ini akan dilanjutkan lagi mengingat terdapat sederet pertanyaan yang menggelayut tentang kontribusi Persyarikatan Muhammadiyah terhadap pembangunan berkelanjutan di Indonesia dan proyeksi yang akan dibangun sampai 2030 nanti (ddp).

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018