#

Bantul—lingkunganmu.com--Di Indonesia, pembangunan berwawasan lingkungan merupakan implementasi dari konsep pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat tani secara luas, melalui peningkatan produksi pertanian, baik dalam hal kuantitas maupun kualitas, dengan tetap memperhatikan kelestarian sumber daya alam dan lingkungan.

Dengan merujuk pendapat World Commission on Environment and Development, 1987 (cit. Soemarwoto, 1996) definisi berwawasan antar generasi dinyatakan bahwa ‏pembangunan yang mengusahakan dipenuhinya kebutuhan sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Prof. Dr. Ir. Susamto Sumowiardjo., M.Sc., selanjutnya memaparkan tentang eco farming di Sekolah Kader Lingkungan Muhammadiyah, 22 Desember 2019 di UM Yogyakarta.

“Sistem pertanian yang berkelanjutan (sustainable agriculture) adalah back to nature,yaitu sistem pertanian yang tidak merusak, tidak mengubah, serasi, selaras, dan seimbang dengan lingkungan atau pertanian yang patuh dan tunduk pada kaidah-kaidah alamiah (Karwan A. Salikin, 2003). Oleh karenanya sistem pertanian berkelanjutan berisi suatu ajakan moral untuk berbuat kebajikan pada lingkungan sumberdaya alam dengan mempertimbangkan kesadaran lingkungan (ecologically sound), bernilai ekonomis (economic valueable), berwatak sosial atau kemasyarakatan (socially just)”.

Lebih lanjut Dosen Faperta UGM ini menegaskan bahwa “pemicu lahirnya konsep pembangunan pertanian berkelanjutan adalah menurunnya produktivitas pertanian, tuntutan akan keamanan pangan dan  lingkungan, degradasi sumber daya alam dan lingkungan, makin hilangnya sumber daya hayati, makin meningkatnya OPT (hama, penyakit dan gulma), makin mahalnya harga pupuk dan pestisida (energi)terjadinya pencemaran lingkungan yang sudah membahayakan kehidupan”.

Ada lima kriteria untuk mengelola suatu sistem pertanian menjadi berkelanjutan, yakni  kelayakan ekonomis (economic viability), bernuansa dan bersahabat dengan ekologi (ecologically sound and friendly), diterima secara sosial (sosially just), kepantasan secara budaya (culturally approriate), pendekatan sistem dan holistik (systems and holistic approach).

Sementara itu, yang menjadi dampak negatif pembangunan pertanian adalah menurunnya jumlah keanekaragaman hayati, semakin tidak berdayanya petani gurem, hilangnya kearifan lokal, makin menurunnya kualitas hidup di pedesaan, meningkatnya Organisme Pengganggu Tanaman, makin lebarnya kesenjangan petani, terjadinya erosi dan kerusakan tanah, pencemaran udara, efek rumah kaca, hujan asam  (acid rain), kontaminasi pangan, pakan, dan air dengan bahan kimia pertanian, dan berkurangnya hutan sebagai paru-paru dunia.

Dalam paparan akhirnya Susamto memberikan sebuah contoh konkrit melalui Budidaya Lebah Tak Bersengat “Klanceng”. Lebah Madu tak Bersengat dalam Bahasa Jawa disebut KLANCENG. Klanceng terdiri dari tiga kasta utama yaitu: Ratu, Jantan dan Pekerja. Ratu bertugas menghasilkan telur/ keturunan, Jantan bertugas mengawini Ratu, Pekerja bertugas bekerja mencari nectar, membersihkan sarang, dan menyuapi Ratu.

Kelebihan Budidaya KLANCENG adalah madunya berkualitas mengandung Royal jelly lebih banyak, tidak menyengat, tidak membutuhkan tempat yang luas, lebih ramah/tidak agresif menyerang manusia, sebagai pollinator membantu penyerbukan tanaman.

Sarang KLANCENG secara alami banyak terdapat di dalam rongga batu atau potongan bambu kering, KLANCENG bisa dibudidayakan di dalam potongan bambu bisa juga di dalam kotak kayu. Secara umum lebih bagus pada kotak kayu karena praktis, mudah memanen madunya, dan relative lebih bersih. KLANCENG bisa dibudidayakan di dalam potongan bambu bisa juga di dalam kotak kayu.

Model sistem pertanian berkelanjutan dapat dilaksanakan dengan sistem pertanian organik, sistem pertanian terpadu, sistem pertanian masukan luar rendah (LEISA) atau sistem pengendalian hama terpadu. Oleh karenanya model pendekatannya harus Proaktif (proactive), Berdasarkan pengalaman (experiental) dan Partisipatif (participatory) (ddp).

Artikel Terkait

Lihat Selengkapnya

Komentar

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018