#

Sorong (lingkunganmu.com) --Rakorwil MLH se-Indonesia Timur yang berlangsung di Kampus UNIMUDA Sorong (21-23 Nopember 2018) didahului dengan Seminar Nasional di mana Keynote Speech adalah Drs. Ade Palguna Ruteka, Kepala Pusat Perencanaan dan Pengembangan SDM Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan tema “Mengelola Lingkungan Bersama Masyarakat”. Narasumber lainnya adalah, Dr. Ir. Darhamsyah, M.Si, Ir. M. Nurcholis, M.Agr., Ph.D., Dr. Ir. Gatot Supangkat, MP., Ir. Hidayat Tri Sutardjo, MM  dan Syahruddin Sabonama Riantoby, SH.

Dr. Ir. Darhamsyah, M.Si, Kepala Pusat Pengembangan dan Pengelolaan Ekoregion (P3E) Sulawesi-Maluku KLHK dalam paparannya menegaskan bahwa “pentingnya saling berbagi, saling menasihati, saling tolong menolong dan saling bersinergi untuk menyelamatkan lingkungan. Untuk itulah, MLH PWM Sulsel mengembangkan Sekolah Kehidupan untuk Anak Negeri yang mengembangkan materi-materi tentang Eco Family (penyadaran lingkungan berbasis masyarakat) melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat eco-cooking, eco gardening, eco-lunch/snack dan eco-shopping”.

Menurut Gatot Supangkat, Sekretris MLH PP Muhammadiyah bahwa “kesadaran manusia akan keberadaannya sebagai Khalifatullah fil ‘ardh (Al An ‘aam: 165) yang juga dibekali Allah SWT dengan FUADA (An Nahl:78) agar mau dan mampu bersyukur untuk kemudian menjadi rahmatan lil ‘alamien (Teologis-imanensial). Oleh karenanya manusia harusnya paham bagaimana selayaknya berhubungan dengan alam agar terjaga hubungan yang harmonis (saling memberi).

Lebih lanjut, Ketua P3M UMY ini menegaskan bahwa “ada tiga bentuk hubungan manusia dengan alam yang seharusnya dijadikan rujukan dalam langkah praktis manusia, yakni pertama, hubungan keimanan dan peribadatan. Alam semesta berfungsi sebagai sarana bagi manusia untuk mengenal kebesaran dan kekuasaan Allah (beriman kepada Allah) melalui alam semesta, karena alam semesta merupakan tanda (ayat) Allah. Manusia dilarang memperhamba alam dan dilarang menyembah kecuali hanya kepada Allah yang Menciptakan alam. Kedua, hubungan pemanfaatan yang berkelanjutan. Alam dengan segala sumberdayanya diciptakan Allah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Dalam memanfaatkan sumberdaya alam guna menunjang kehidupannya ini harus dilakukan secara wajar (tidak boleh berlebihan atau boros-Al ‘Araf: 31). Demikian pula tidak diperkenankan pemanfaatan sumberdaya alam yang hanya untuk memenuhi kebutuhan bagi generasi saat ini sementara hak-hak pemanfaatan bagi generasi mendatang terabaikan dan ketiga adalah hubungan pemeliharaan untuk semua makhluk. Manusia mempunyai kewajiban untuk memelihara alam untuk keberlanjutan kehidupan, tidak hanya bagi manusia saja akan tetapi bagi semua makhluk hidup lainnya. Tindakan manusia dalam pemanfaatan sumberdaya alam secara berlebihan dan mengabaikan asas pemeliharaan dan konservasi sehingga mengakibatkan terjadinya degradasi dan kerusakan lingkungan, merupakan perbuatan yang dilarang (haram) dan akan mendapatkan hukuman (baca Teologi Lingkungan, MLH PPM).

Sementara itu M. Nurcholis, Ph.D memaparkan bahwa “sejak tahun 2000, Muhammadiyah telah mengawali gerakan kepedulian terhadap lingkungan dengan dibentuknya Lembaga Studi dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (LSPLH) dan ditegaskan secara formal dalam Keputusan Muktamar ke-45 dengan dibentuknya Lembaga Lingkungan Hidup (LLH) yang dideklarasikan pada tanggal 15 Desember 2005 di Yogyakarta. Selanjutnya, untuk lebih mempertegas partispasi aktif Muhammadiyah dalam upaya Penyelematan dan Pengelolaan Lingkungan dan menjadi suatu gerakan yang masif maka pada Muktamar ke-46 di Yogyakarta dirubah menjadi Majelis Lingkungan Hidup (MLH). Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makasar mengamanahkan partisipasi aktif kepada seluruh komponen Muhammadiyah dalam penanganan isu-isu Strategis Keumatan (hidup bersih dan sehat), Kebangsaan (kekurangan dan kelebihan air) dan Kemanusiaan Universal (perubahan iklim).

Lebih Lanjut Dosen UPN Yogyakarta ini menegaskan bahwa “Permasalahan Deforestasi dan  Degradasi Hutan ada dua, yakni Faktor Internal: (1) ekspansi terhadap hutan melalui alih fungsi lahan hutan menjadi lahan pertanian, perkebunan dan areal pertambangan, (2) ekstraksi kayu (berlebihan) untuk memenuhi kebutuhan bangunan maupun bahan industri (kertas, kayu lapis dsb), dan (3) pengembangan infrastruktur fisik (pemukiman, jalan, pelabuhan, kawasan industri dsb). Faktor eksternal: (1) kebijakan ekonomi dan politik pemerintah, (2) situasi ekonomi makro global,(3) terjadinya krisis ekonomi regional dan global, (4) sistem manajemen sumberdaya alam termasuk sumberdaya hutan yang dilakukan oleh masing-masing pemerintah

Berbagai program telah disusun dan dilaksanakan oleh MLH PP Muhammadiyah, baik yang bersifat konseptual maupun praksis. Pada tingkatan konseptual telah disusun berupa buku-buku baik filosofis maupun praktis, diskusi lingkungan dan advokasi. Untuk program praksisnya telah dikembangkan aksi-aksi nyata, antara lain pembangunan Kawasan Penyejuk Bumi (KPB), Sekolah/Kampus Sejuk (Green School/Campus), Shadaqah Sampah (launching 2011) dan kampanye lingkungan. Pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) tahun 2016 di Yogyakarta, MLH PP Muhammadiyah telah Menegaskan dan Menguatkan Program Utamanya, yaitu Pendidikan Lingkungan, yang dikemas dalam suatu langkah komprehensif “Gerakan Muhammadiyah Menyejukkan Bumi”.

Dalam konteks ini, program kerja yang telah diimplementasikan MLH PP Muhammadiyah seperti dipaparkan oleh Ir. Hidayat Tri Sutardjo, MM bahwa program MLH PP Muhammadiyah dapat diklasifikasikan menjadi tiga hal, yakni SOSIALISASI (komunikasi-internalisasi-implementasi) tentang Pentingnya Perlindungan Hutan Tropis seperti pencegahan, penanganan dan penanaman pohon kembali akibat kebakaran hutan di Riau, Jambi, Bengkulu dan Kalimantan Selatan. EDUKASI melalui Penelitian “Tata Kelola & Dampak Kebakaran Hutan (studi kasus kebakaran hutan di Riau, Jambi dan Bengkulu”, Pengelolaan Hutan Pendidikan di Palangkaraya (UM Palangkaraya), Bengkulu (UM Bengkulu), Palu (UM Palu), Palembang dan Malang (UM Malang), Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Lingkungan (UM Sukabumi), Gerakan Muhammadiyah Menyejukan Bumi melalui Pembangunan Hutan Rakyat Mandiri dengan nama KAWASAN PENYEJUK BUMI di Anjir Muara Kabupaten Barito Kuala Kalsel (Mangrove) dan Kota Sorong (Muhammadiyah Environment Educational Center/MEEC). ADVOKASI melalui sinergitas dengan stakeholders seperti KLHK, Perguruan Tinggi, Private Sector, dan Society (NGO, Asosiasi). (ht)

Artikel Terkait

Lihat Selengkapnya

Komentar

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018