#

Sleman—lingkunganmu.com—Saat ini sedang berkembang dan sedang ngetrend pembangunan agritourism, yakni serangkaian kegiatan wisata yang memanfaatkan potensi pertanian sebagai obyek wisata, baik potensi berupa pemandangan alam kawasan pertaniannya maupun kekhasan dan keanekaragaman aktivitas produksi dan teknologi pertanian serta budaya masyarakat petaninya.

Agritourism sendiri sebenarnya bermula dari ecotourism yang pertumbuhannya paling cepat dan memperoleh sambutan sangat serius diantara model pengembangan pariwisata yang lainnya di seluruh dunia. Ecotourism dikembangkan di negara berkembang sebagai sebuah model pengembangan yang potensial untuk memelihara sumber daya alam dan mendukung proses perbaikan ekonomi masyarakat lokal. 

Pengembangan agritourism merupakan kombinasi antara pertanian dan dunia wisata untuk liburan di desa. Atraksi dari agritourism adalah pengalaman bertani dan menikmati produk kebun bersama dengan jasa yang disediakan. Motivasi agritourism adalah untuk menghasilkan pendapatan tambahan bagi petani. Bagaimanapun, agritourism juga merupakan kesempatan untuk mendidik orang banyak/masyarakat tentang pertanian dan ecosystems.

Dr. Ir. Gatot Supangkat, MP., Sekretaris MLH PP Muhammadiyah menyanbut baik inisiasi MLH PWM DIY dengan adanya Soft Launching Kebun Bibit Muhammadiyah pada 25 Desember 2019. Ke depan Kebun bibit ini akan dikembangkan lagi dan bersinergi dengan kegiatan-kegiatan pertanian lainnya yang sesuai dengan kapabilitas, tipologi, dan fungsi ekologis masing-masing lahan, sehingga akan berpengaruh langsung terhadap kelestarian sumberdaya lahan dan pendapatan petani serta masyarakat sekitarnya. “Kegiatan ini secara tidak langsung akan meningkatkan pendapatan positif petani dan masyarakat sekitarnya akan arti pentingnya pelestarian sumberdaya lahan pertanian, yang pada akhirnya akan mempunyai dampak positif terhadap pelestarian lingkungan hidup yang berkelanjutan”, ujar Kepala LP3M UMY.

Menurut Sapardal Gumantyo, Sekretaris MLH PWM DIY “Kebun Bibit Muhammadiyah ini terletak di dusun Ngentak, Bangunkerto, Turi, Sleman seluas 3.000 meter persegi. Bibit tanaman yang dikembangkan adalah Kelapa Kopyor, Alpukat Mentega Jumbo, Alpukat Kendil dan lain-lain”.

Sementara itu, Suyanto, ZA, Ketua MLH PDM Sleman menjelaskan bahwa “kebun bibit muhammadiyah ini akan berwujud multiple cropping dengan tahapan awal kebun kelapa kopyor dan buah unggulan komersial alpokat. Dilengkapi rumah paranet & kolam ikan komersial ( gurami, nila dan lele ), lahan singgah istirahat mushola dan kuliner. Tahap berikutnya pengadaan pohon buah tropis Indonesia dan luar Indonesia diusahakan terlengkap ditanam di sela2 pohon kelapa kopyor dan alpokat di tanah maupun di pot/planter bag yang disusun dengan pola tertentu indah, asri dan menarik. Guna mewujudkan kebun bibit muhammadiyah ini, disiapkan kader wirausaha di bidang pertanian khususnya bibit tanaman yang komersial dan langsung dibina oleh majelis pemberdayaan masyarakat dan majelis ekonomi dan kewirausahaan serta majelis lingkungan hidup PDM Sleman.

Pengembangan agriwisata merupakan salah satu alternatif yang diharapkan mampu mendorong baik potensi ekonomi daerah maupun upaya-upaya pelestarian lingkungan. Pemanfaatan potensi sumber daya alam sering kali tidak dilakukan secara optimal dan cenderung eksploitatif, hal inilah yang harus diantisipasi dengan menata kembali berbagai potensi dan kekayaan alam dan hayati berbasis pada pengembangan kawasan secara terpadu.

Pengembangan kawasan wisata alam atau agritourism mampu memberikan kontribusi pada pendapatan petani dan masyarakat sekitar, membuka peluang usaha dan kesempatan kerja serta sekaligus berfungsi menjaga dan melestarikan kekayaaan alam dan hayati.

Melalui perencanaan dan pengembangan yang tepat, agriwisata dapat menjadi salah satu sektor penting dalam meningatkan perekonomian daerah yang dalam pengembangannya memerlukan kreativitas dan inovasi, kerjasama dan koordinasi serta promosi dan pemasaran yang baik (ddp).

Artikel Terkait

Lihat Selengkapnya

Komentar

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018