#

Lamongan—lingkunganmu.com—Majelis Lingkungan Hidup PCM Brondong kolaborasi dengan Majelis Pemberdayaan Masyarakat dan Majelis Ekonomi PCM Brondong menggagas Kebun Pisang Cavendish yang diawali dengan “Rembug Bareng-2” pada Selasa (22/2/2020) dan  “Rembug Bareng-3” pada Rabu (4/3/2020) di PCM Mencurek Lamongan.

Menurut Tsabit Purwanto, Ketua MLH PCM Brondong menegaskan bahwa “rintisan kebun pisang cavendish ini diawali di Kebun milik PCM Mencurek seluas 3.000 meter persegi. Dan sengaja ketiga majelis berkolaborasi agar jelas peran dan tanggungjawabnya dalam pengelolaan kebun mulai dari pembibitan, penanaman, pemeliharaan, panen dan paska panen”.

Dalam “Rembug Bareng-3” diawali dengan sosialisasi dan penanaman serta pemeliharaan  pisang cavendish di Kebun Pisang Cavendish PRM Mencurek Lamongan yang dihadiri sebanyak 40 orang dari utusan 10 PRM se-Lamongan. Dari Rembug Bareng ini pula peserta telah bersepakat untuk mengembangkan Kebun Pisang Cavendish di masing-masing Kebun PRM yang hadir dalam acara dimaksud.

Dari berbagai jenis pisang di Indonesia, pisang cavendish lah yang belum terlalu banyak dikenal dan dibudidayakan. Kebanyakan pisang cavendish yang kita temukan di pasaran adalah pisang impor sehingga harganya cenderung tinggi. Ini menjadi peluang yang menjanjikan berbisnis di bidang pertanian. Perawatannya juga tidak sulit serta tidak memakan biaya yang sangat banyak. Hanya diperlukan ketekunan agar usaha pembudidayaan pisang ini dapat berhasil dengan baik.

Pisang cavendish akan menghasilkan kualitas yang terbaik jika ditanam di ketinggian 1600 mdpl dengan suhu 27 – 30 derajat celcius. Dapat pula ditanam di daerah yang lebih rendah, namun memerlukan perawatan lebih intensif. Tanaman ini menghendaki tanah yang kaya humus atau tanah liat berpasir sebagai tempat tumbuh dan membutuhkan curah hujan sebanyak 200 – 250 mm per tahun.

Bibit pisang cavendish berasal dari tunas. Pilihlah tunas yang berasal dari indukan yang telah menghasilkan buah dengan kualitas baik, tingginya 1 – 1,5 m, dan diameter batangnya 7 – 12 cm. Tentunya kondisi tunas yang dipilih sebagai bibit adalah tunas yang sehat, tidak menunjukkan tanda-tanda adanya hama atau penyakit (ddp).

Artikel Terkait

Lihat Selengkapnya

Komentar