#

Penanganan krisis lingkungan yang bermuara pada krisis moral, perlu ditangani melalui Revolusi Moral. Masjid merupakan salah satu sarana yang digunakan untuk pembinaan moral keagamaan. Masjid bukan hanya semata-mata dijadikan sebagai sarana ibadah mahdhah, melainkan ia menjadi sarana dan sekaligus kekuatan dalam membangun dan menanamkan nilai-nilai kebaikan dan pembaharuan kehidupan umat. Memakmurkan masjid tidak bisa hanya dengan ceramah, perlu aksi nyata guna membangun kemandirian umat dalam menghadapi ancaman kelangkaan air, pangan dan energi.

“Sesuai dengan fungsi keberadaannya, masjid sangat perlu melestarikan lingkungan melalui dakwah bil lisan dan melakukan aksi nyata berdasarkan semangat ke-Islam-an” ujar Hery Setiyawan, Ketua MLH PDM Yogyakarta ketika menjadi narasumber pada acara Sosialisasi Gerakan Eco-Masjid (Masjid Ramah Lingkungan) yang berlangsung di Masjid Keparakan Mergasan Kota Yogyakarta, 3 Oktober 2018.

Lebih lanjut Hery menegaskan bahwa “Sosialisasi Gerakan Eco-Masjid (Masjid Ramah Lingkungan) ini sebagai bagian dari pengembangan Gerakan Eco-Masjid yang MLH PDM Kota Yogyakarta rintis dan kembangkan sejak lima tahun terakhir dalam upaya membangun dan mengembangkan kepedulian terhadap hubungan timbal balik antar makhluk hidup dan lingkungannya. Keberhasilan menciptakan kehidupan yang ramah lingkungan merupakan penjelmaan dari bekal yang diberikan kepada manusia sebagai wakil Allah di muka bumi, yakni FUADA (kesatuan yang sistemik antara akal dan hati)”.

Seperti diketahui bahwa sumberdaya alam penting yang tak terbarukan, seperti air dan energi fosil semakin cepat terkuras, kelangkaan sumberdaya air dan energi merupakan ancaman eksistensi kehidupan masa depan manusia. Oleh karena itu, konservasi dan pelestarian sumberdaya alam tak terbarukan ini harus menjadi prioritas dengan merubah perilaku ramah lingkungan yang di realisasikan dalam tindakan nyata.

Upaya-upaya nyata yang dapat dilakukan di setiap masjid antara lain; bangunan masjid hendaknya ramah lingkungan untuk menyerap angin dan cahaya (Audit Lingkungan Mandiri Muhammadiyah/AliM), pembangunan sumur resapan/sumur injeksi dari bekas air wudhu, pemanenan air hujan dan pembuatan lobang biopori, pengelolaan shadaqah sampah untuk santunan sembako dan kesehatan, penghijauan dengan menanam pohon untuk penyimpanan air dan oksigen (tamanisasi vertikal/horisontal/hidroponik), membangun pendidikan karakter anak atau masjid ramah anak, membangun energi terbarukan seperti listrik tenaga surya (ht).

Artikel Terkait

Lihat Selengkapnya

Komentar

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018