#

Yogyakarta –lingkunganmu.com Majelis Lingkungan Hidup PDM Kota Yogyakarta untuk kedua kalinya dalam tahun 2018 ini menggelar Workshop Pemanenan Air Hujan yang berlangsung di SMA Muhi Yogyakarta pada Sabtu, 22 Desember 2018. Workshop ini menghadir pembicara Hery Setyawan (Ketua MLH PDM Kota Yogyakarta), Prof. Dr. Agus Mayono (Dosen UGM) dan Yuni, SE (Komunitas Banyu Bening).

Hery Setiyawan, menegaskan bahwa “Filosofi air hujan di saat musim kemarau orang berbondong_ bondong dengan khusuk memanjatkan shalat istiqo’, berdo’a meminta hujan, hujan turun dengan deras dibiarkan saja tidak disimpan atau ditampung untuk dikumpulkan, tetapi dibiarkan terbawa aliran sungai. Workshop ini dimaksudkan agar masyarakat terutama para pengurus DKM masjid dapat menginisiasi, mensosialisasikan, menerapkan sebuah gerakan memanen air hujan, sebagai salah satu alternatif konservasi air. Masjid  tidak hanya sebagai tempat ibadah semata tetapi juga sebagai  sarana dan kekuatan dalam menanamkan kebaikan- kebaikan dan perubahan kehidupan bagi umat sekarang maupun di masa yang akan datang. Masjid juga sebagaji pusat pembelajaran (center of excellent:).

Di akhir Workshop para peserta yang terdiri dari pengurus DKM, akademisi, mahasiswa, karyawan swasta, serta masyarakat umum mendeklarasikan diri “Gerakan Muhammadiyah Memanen Air Hujan” gerakan ini akan melakukan upaya dengan sekuat tenaga untuk mengelola air hujan. Air hujan dimanfaatkan secara maksimal guna memenuhi kebutuhan air baku, mengurangi banjir, mengurangi kekeringan, dan meningkatkan kualitas lingkungan serta kualitas hidup masyarakat.

Salah satu elemen menakjubkan dari siklus air adalah proses terjadinya hujan. Dari proses alam ini, kita akan mendapatkan gambaran tentang bagaimana sebuah orkestra dari berbagai unsur alam bekerja. Alam telah mempertontonkan sebuah harmonisasi yang sangat indah ketika awan, hujan, dan arus angin bekerja sama menghidupkan bumi dengan semua penghuninya.

Hujan sejatinya adalah proses yang sangat alami dan terjadi di setiap bagian dunia. Hujan adalah bagian terpenting dari siklus hidrologi. Kehadirannya amat diperlukan untuk mengatur suhu serta menjaga keseimbangan di alam raya. Ketiadaan hujan adalah pertanda kekeringan, kelaparan, yang berakhir dengan kebinasaan.

Air hujan memiliki sejumlah fungsi dan manfaat yang mendasar bagi manusia. Dalam skala individu dan keluarga misalnya, air hujan dapat digunakan secara langsung sebagai air minum, air untuk mandi, mencuci, memasak, bahkan sebagai obat dan terapi kesehatan. Dalam skala industri, air hujan yang telah ditampung dapat digunakan sebagai bahan mentah atau pendingin. Dalam bidang pertanian, air hujan termasuk komponen terpenting dalam proses kehidupan tanaman produksi.

Itulah mengapa, bagi sebagian bangsa di dunia, hujan adalah sumber utama bagi pengairan dan irigasi sehingga banyak nyawa yang bergantung kepadanya. Betapa tidak, tanpa kehadirannya tanah tidak lagi mampu berproduksi, pasokan air minum akan menyusut, dan roda perekonomian akan berhenti. Bahkan, seiring dengan semakin menipisnya pasokan air tawar di bumi, negara-negara yang awalnya tidak begitu peduli dengan air hujan, kini mulai menggantungkan hidupnya pada pasokan air dari langit ini. Kondisi ini kembali menggemakan sebuah slogan bahwa ”air lebih berharga daripada emas”. Tanpa emas permata, siapapun masih bisa hidup. Namun, tanpa kehadiran air, siapapun tidak akan bisa hidup. (ddp).

Artikel Terkait

Lihat Selengkapnya

Komentar

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018