#

Bumi ini merupakan salah satu planet yang dihuni oleh mahluk yang namanya manusia saat ini sedang sakit, hal ini diakibatkan oleh terjadinya berbagai kerusakan lingkungan yang sangat luas dan massive.  Sebagai akibatnya adalah munculnya perubahan iklim dan bencana yang membahayakan bagi kehidupan mahluk yang tinggal di dalamnya, termasuk manusia.

Indikator sakitnya Bumi bisa kita perhatikan saksama tentang bencana banjir yang semakin besar dan meluas di berbagai wilayah, baik yang berupa genangan maupun banjir bandang yang sangat membahayakan.  Erosi terjadi karena semakin redahnya persentase tanah yang berfungsi sebagai material di permukaan bumi yang mampu menginfiltrasikan air; dan semakin rendahnya tutupan lahan untuk mengerem laju run off.  Tanah longsor yang semakin luas dan mengancam jutaan manusia yang tinggal dan mengusahakan lahan untuk penghidupan. Kekeringan yang semakin meluas dan durasinya yang semakin panjang. Sungguh aneh, kita hidup di negeri yang dengan curah hujan rata-rata tahunan yang cukup, namun air yang datang diusir. Krisis pangan karena alih fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian yang massive dan sulit dibendung. Krisis energi yang diakibatkan oleh pesta penggunaan energi dari fosil yang terus berlangsung untuk memenuhi keinginan manusia untuk meningkatkan kenyamanan, dan juga populasinya semakin bertambah.  Kerusakan tanah yang diakibatkan oleh perilaku manusia yang dengan sengaja atau tidak telah menyebabkan perusakan tanah sehingga menurunkan ke lima (5) fungsi tanah, yaitu: sebagai pendukung kegiatan biologi, fungsi sanitasi, fungsi pengaturan air, pendaur unsur hara, dan sosial ekonomi. Kerusakan dan kepunahan spesies tumbuhan dan hewan tertentu karena tidak adanya ruang dan bahkan pemusnahan biota karena keserakahan manusia lewat pembakaran lahan dan pembukaan hutan dengan alasan kepentingan pembangunan. Ledakan hama dan penyakit tanaman dan hewan akibat perubahan ekosistem yang harmoni dengan keanekaragaman hayati tinggi dengan ekosistem yang serba mono spesies bahkan mono varietas untuk mengejar keuntungan semata. Ledakan sampah di seluruh wilayah, di halaman rumah, jalan kampung, perkampungan, arena pesta, perhelatan bernuansa politik yang kurang bermartabat, dan masih banyak lagi kegiatan yang sepertinya manusia hidup berdampingan dan berharmoni dengan sampah.

Hal-hal inilah yang menjadi perbincangan santai tapi serius antara M Rifandi (MLH PP Muhammadiyah) dengan Miswar (Ketua MLH PWM Aceh) dan Yusach (Wakil Ketua MLH PWM Aceh) di sebuah Kedai Kopi di Banda Aceh (2/8/2019).

Lebih lanjut secara teknis Miswar menjelaskan bahwa “selama ini MLH PWM Aceh konsen pada persoalan pengelolaan sampah sehingga setelah Rakernas di Yogyakarta (2017) langsung menerapkan Gerakan Shadaqoh Sampah di beberapa Panti Asuhan yang dikelola Muhammadiyah. Bahkan MLH PWM Aceh pun siap menjadi tuan rumah Rakorwil Regional Sumatera”.

Muhammadiyah yang mempunyai kelembagaan yang lengkap dan berjenjang dan secara institusional sudah berumur satu abad, tentu memiliki berbagai pengalaman manis pahit, suka duka, dan dukungan-hambatan, dan lain sebagainya, telah dilalui dengan prinsip tawa shoubil haq tawa shoubisshobr. Pengembangan organisasi Muhammadiyah sudah menyeluruh terlayani sampai pelosok negeri, dan bahkan sudah banyak Cabang Luar Negeri. Muhammadiyah yang didirikan Kyai Dahlan dengan mementingkan dan mengedepankan pendidikan dan kesehatan. Sekolah dan PKO sudah dikembangkan sehingga merupakan yayasan terbesar di dunia yang mengurusi pendidikan dan kesehatan.  Dalam struktural hirarki pusat sampai ranting, telah terbangun hubungan yang hirarki dan harmoni, sehingga segala keputusan pusat dapat diakses dan dilaksanakan secara berjenjang sampai ranting. Yang sangat penting lagi adalah jati diri Muhammadiyah yang tidak berafiliasi dengan salah satu kelompok atau partisan politik, sehingga pergerakan Muhammadiyah lebih leluasa di semua golongan.

Dengan berbekal hal-hal di atas, maka Muhammadiyah mampu berkiprah dalam amar ma’ruf nahi munkar. Termasuk mengajak kebaikan dalam mengelola lingkungan di seluruh pelosok negeri. Mencegah kemungkaran yang berakibat kerusakan dan degradasi kualitas lingkungan. Dengan koordinasi yang bersifat hirarkis ini, MLH PP Muhammadiyah mengajak peran aktif untuk regional Sumatera (Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepri, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Lampung) untuk memotret permasalahn lingkungan di regional ini. Kemudian dilakukan screening yang mengarah pada skala prioritas yang didasarkan urgensi permasalahan dan kemampuan dari masing-masing wilayah.  Dengan berbekal pada kekuatan yang dimiliki Muhammadiyah, maka kita harus melakukan gerakan pencerahan dan penyadaran. Hanya kemuauan untuk memulai dan bergerak dilandasi dengan kesabaran akan menuai keberhasilan (ddp).

Artikel Terkait

Lihat Selengkapnya

Komentar

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018