#

Pangkal Pinang—lingkunganmu.com--Permasalahan kemerosotan sumberdaya alam dan kerusakan lingkungan hidup di Bangka Belitung tergolong tinggi.  Hal ini tidak terlepas dari besarnya ketergantungan Bangka Belitung terhadap komoditi mineral logam timah.  Hampir 30% wilayah daratan Bangka Belitung  merupakan wilayah izin usaha pertambangan timah.

  

Penambangan timah yang telah berlangsung sejak zaman kolonial sampai sekarang terus berlangsung.  Dampak keruskan lingkungan dari penambangan adalah semakin luasnya lahan kritis bekas penambangan timah. Luas lahan bekas tambang timah diperkirakan sekitar 130.000 ha.  Dampak lain dari penambangan timah adalah terganggunya siklus hidrologi yang mengakibatkan bencana banjir, merosotnya keanekaragamn hayati khas daerah, dan dampak-dampak sosial. 

 

Pada era tahun 200-an, seiring dengan semakin menurunnya cadangan timah di darat, penambangan timah merambah ke wlayah pesisir sampai dengan 12 mil dari pantai. Dampak dari penambangan timah di pesisir jauh lebih besar dibandingkan di darat.  Penambangan dengan menggunakan kapal isap produksi (KIP) dengan system melubangi dan isap (dredging and sucking) menyebabkan peningkaan kekruhan air laut, kerusakan ekosistem terumbu karang, kerusakan ekosistem lamun, dan ekosistem mangrove, dan sedimentasi pantai.  Akibat lanjutannya adalah semakin menurunnya tangkapan ikan dan rusaknya sejumlah pantai wisata. 

 

Menurut Dr, Ir, Ismeth Inonu, M.Si, Ketua MLH PWM Bangka Belitung menegaskan bahwa “permasalahan lingkungan hidup di Bangka Belitung tidak dapat diatasi hanya oleh pemerintah, tetapi harus melibatkan berbagai pemangku kepentingan.  Untuk itulah, sumbang saran dari pegiat dan pakar lingkungan yang ada baik di Majelis Lingkungan Hidup (MLH), akademisi dan masyarakat pemerhati lingkungan sangatlah diperlukan dalam rangka memberikan solusi terhadap permasalahan lingkungan yang ada”. 

 

Lebih lanjut Ismeth menawarkan salah satu solusi jangka pendek “untuk itulah, MLH PWM Bangka Belitung mengajak seluruh komponen infrastruktur organisasi MLH se- Sumatera, Aceh, Kepulauan Riau, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Barat, Sumatera Selatan dan Babel sendiri termasuk juga dari MLH PP Muhammadiyah untuk senantiasa meningkatkan, mengkoordinasikan dan mensinkronkan kebijakan, rencana dan program aksi dalam upaya menangani permasalahan lingkungan sehingga dapat mewariskan kepada anak cucu kondisi lingkungan yang lebih baik”, tandasnya.

 

Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam tertua dengan semangat dakwah dan tajdid serta kekayaan jaringan amal usaha dan pengorganisasian yang relatif mapan, memiliki kewajiban iman (Ilahiyah) untuk berperan aktif dalam pengembangan peradaban global tersebut. Panggilan moral Muhammadiyah tersebut tiada lain untuk mempertinggi fitrah ketuhanan dan martabat kemanusiaan yang berorientasi pada nilai dasar penegakan HAM, perbaikan lingkungan hidup yang berkelanjutan, good governance, keadilan gender, demokrasi, dan tata kehidupan yang mengandung serba kebajikan yang bermuara pada pencerahan peradaban.

 

Sekretaris MLH PP Muhammadiyah menambahkan bahwa semakin mencekamnya permasalahan lingkungan baik di tingkat regional, nasional maupun internasional sudah tidak terbendung, bentuk gaya hidup modern serta rentetan kemajuan teknologi membuat lingkungan di nomor duakan oleh manusia, dan tidak lagi menjadi partner dalam keberlangsungan hidup. Permasalahan lingkungan terjadi akibat rendahnya kesadaran manusia serta regulasi yang lebih berpihak pada kepentingan investasi dan mengabaikan kepentingan masyarakat dan keselamatan lingkungan”. tegas Kepala LP3M UMY ini.

 

Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Muhjidin Mawardi, M.Eng, Ketua MLH PP Muhammadiyah yang dihubungi terpisah menyoroti tentang dampak pemanasan global dan perubahan iklim “masalah pemanasan global dan perubahan iklim bukan hanya  semata-mata akan berpengaruh terhadap masalah teknis fisik hidrologis  masa sekarang, akan tetapi menyangkut dan akan berpengaruh pula terhadap sistem sosial ekonomi masyarakat dan bangsa di masa yang akan datang. Perubahan iklim akan menentukan pula masa depan kehidupan masyarakat, bangsa dan umat manusia secara global. Bahkan akibat dan dampak perubahan iklim ini akan bisa  merupakan titik balik peradaban umat manusia. Oleh karena itu, upaya-upaya yang strategis melalui mitigasi dan adaptasi harus segera dan senantiasa dilakukan, agar akibat dan dampak buruk dari perubahan iklim bagi kehidupan masyarakat bisa dikurangi dan tidak menjadi semakin parah.

 

Lingkungan hidup yang baik bukan hanya dinikmati oleh generasi sekarang, tetapi juga diwariskan untuk generasi mendatang, makanya motto MLH adalah “Sejuk bumiku, nyaman hidupku, aman dan tentram masa depan anak cucuku” (ddp).

Artikel Terkait

Lihat Selengkapnya

Komentar

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018