#

Semarang –lingkunganmu.com Majelis Lingkungan Hidup PWM Jawa Tengah menjadi tuan rumah Rapat Koordinasi MLH Regional Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY dan Jawa Tengah serta Rapat Kerja Wilayah MLH se- Jawa Tengah yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) pada Sabtu, 15 Desember 2018.

Dalam Sambutan Iftitahnya, Tafsir (Ketua PWM Jateng) menegaskan bahwa “sebagai khalifah di bumi (QS. Al-Baqarah: 30), manusia harus mengurus, memanfaatkan, dan memelihara –baik langsung maupun tidak langsung-- alam termasuk bumi ini. Amanah Allah kepada khalifah-Nya ini meliputi bumi dan segala isinya seperti gunung-gunung, laut, air, awan dan angin,  tumbuh-tumbuhan, sungai, binatang-binatang, sehingga manusia harus memiliki perilaku yang baik. Oleh karena itu, jangan sampai terjadi kerusakan lingkungan, dan jika terjadi maka manusia harus bertanggung jawab atas  kerusakan itu dengan memperbaikinya kembali.

Sementara itu, Dr. Eko Priyo Purnomo, Wakil Ketua MLH PP Muhammadiyah menagih kepada seluruh peserta Rapat Koordinasi MLH Regional Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY dan Jawa Tengah sampai di mana permasalahan dan solusi yang sudah ditetapkan Bersama dalam Rakornas MLH yang berlangsung di Makassar beberapa waktu lalu. Lebih lanju dosen UMY ini menegaskan bahwa ada 5 permasalahan yang muncul dalam Rakornas MLH di Makassar adalah Pencemaran DAS Kali Citarum, Kader Lingkungan yang kurang, Sampah baik di lingkungan masyarakat (sumber sampah), sungai  maupun di TPA, Reklamasi Pantai Jakarta, Kurangnya Pemahaman hemat energy dan hemat air.

Sementara itu, solusi dari 5 masalah tersebut adalah MLH harus menyusun SOP sekolah Sungai, sekolah Pemanfaatan sampah, Sekolah Kehidupan untuk Anak Negeri, Perlunya membentuk tim pemantauan lingkungan, Kerjasama dengan KLHK terkait dengan komitment Indonesia dalam hal penurunan emisi gas rumah kaca (COP 21) dan merealisasikan Waste to Energy dan perlunya koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup baik di Provinsi maupun Kota/Kabupaten.

Margareta Rahayuningsih, pengurus MLH PWM Jateng memaparkan bahwa “sekolah berpotensi sebagai agen untuk penyelamatan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan. Untuk itu, MLH PWM Jateng sedang menyusun Panduan Sekolah Ramah Lingkungan di mana dalam sekolah ramah lingkungan ini  setidaknya ada dua pelajaran karakter utama yakni BIJAK (mencapai kemaslahatan tanpa merugikan) dan PEDULI (menempatkan diri menjadi bagian lingkungan dengan kesadaran bahwa semua memiliki dampak bagi lingkungan dan orang lain)”.

Selanjutnya Dosen UNES ini menegaskan bahwa “Sekolah Ramah Lingkungan ini harus mampu memahamkan kesadaran dan mengintegrasikan nilai lingkungan, nilai konservasi, dan budaya pada seluruh warga sekolah agar membentuk perilaku dan pola pengelolaan sekolah ramah lingkungan serta dapat membangkitkan rasa tanggungjawab, peduli, dan percaya diri kepada siswa untuk ikut serta dalam upaya meminimalisir pemanasan global”.

Narasumber lain Suradi, Pengelola Pondok Manafiul Ulum Muhammadiyah Boyolali yang berbicara tentang “Peluang dan Tantangan Pengelolaan Pontren Ramah Lingkungan” di mana pondok pesantren ini sudah mengolah limbah kotoran sapi menjadi biogas dan sesanya (slurry) yang bisa digunakan untuk pupuk organik unuk memupuk sayuran sehingga menghasilkan sayuran yang sehat untuk makan pokok para santri. Hal ini merupakan implementasi dari program MLH PWM Jateng yakni penerapan eco pesantren”.

Bagus Irawan, Dekan FT UNIMUS menegaskan bahwa Rakor MLH Regional dan Rakerwil MLH se-Jateng merupakan ajang penguatan kelembagaan MLH baik di tingkat Wilayah maupun Daerah agar dapat berkiprah lebih maju karena tantangan di bidang lingkungan semakin meningkat dan menuntut karya nyata untuk mengelola dan melestarikannya dengan baik dan benar. (ddp)

Artikel Terkait

Lihat Selengkapnya

Komentar

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018