#

Jakarta—lingkunganmu.com—Muhammdiyah melalui Majelis Lingkungan Hidup, Majelis Pemberdayaan Masyarakat, Majelis Tabligh dan Lembaga Dakwah Khusus akan garap Desa Peduli Gambut bekerjasama dengan Badan Restorasi Gambut (BRG) Republik Indonesia. Ini merupakan hasil pembahasan rapat daring antara BRG dengan Muhammadiyah pada Kamis (2/7).

Program Desa Peduli Gambut (DPG) merupakan salah satu bagian dari fungsi penghimpunan dan pengakomodasian partisipasi dan dukungan masyarakat dalam restorasi gambut. Program DPG ini dalam upaya membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka NKRI, meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat Indonesia, mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik, Dn memperteguh Kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial.

Tidak ada Program Pembangunan, termasuk di bidang lingkungan hidup, akan sukses dan berlanjut tanpa partisipasi masyarakat yang hakiki dan inklusif.  Oleh karena itu, pemerintah berupaya menggandeng masyarakat, terutama masyarakat adat, organisasi masyarakat (ormas), ormas berbasis agama, dan segala komponen untuk membangun perilaku masyarakat ramah lahan gambut. Sehubungan dengan hal itu, Pemerintah melalui BRG Republik Indonesia menggandeng ormas keagamaan untuk berpartisipasi dalam upaya pengendalian karhutla, salah satunya Muhammadiyah.

Muhammadiyah adalah organisasi masyarakat yang bergerak dalam dakwah amar makruf nahy munkar berlandaskan nilai-nilai ajaran Islam dan Sunnah Rasul Muhammad SAW. Muhammadiyah telah lama prihatin terhadap terjadinya kerusakan lingkungan, yang kecenderungannya semakin meningkat dari waktu ke waktu, salah satunya lahan gambut. Partisipasi Muhammadiyah dalam upaya pelestarian lingkungan telah dilakukan melalui aktivitas warga Muhammadiyah, baik secara individu maupun kelembagaan,

Seperti diketahui bersama bahwa sampai dengan saat ini di Indonesia ada 525 Desa Peduli Gambut, antara lain 123 Desa di Riau, 44 Desa di Jambi, 73 desa di Sumsel, 90 Desa di Kalbar, 147 Desa di Kalteng, 36 Desa di Kalsel dan 12 Desa di Papua. Sedangkan kegiatan utama DPG adalah Pendamping Desa & Komunitas (Penempatan Fasilitator DPG), Pemetaan Sosial, Ekonomi, Integrasi Restorasi Gambut Dalam Dokumen Perencanaan Desa (RPJMDes, RKPDes, APBDes, dll), Penguatan Institusi Lokal (Peraturan Desa & Kelompok Masyarakat), Pemberdayaan Ekonomi (Pelatihan & Bantuan Ekonomi Produktif),  Penguatan Inovasi Pengetahuan Lokal & Teknologi Tepat Guna (SLPG, Seniman Pangan & Kerajinan), dan Pemantauan Restorasi Gambut.

Secara lebih rinci kegiatan di dalam DPG antara lain adalah pemulihan dan pemanfaatan ekosistem dilakukan dalam satuan kawasan perdesaan, sesuai dengan tingkat kerentanan dan potensi ekonomi ramah gambut, masyarakat dan pemerintah desa merupakan pelaku utama dalam menata pemulihan dan pemanfaatan ekosistem gambut secara efektif dan efisien, aksi kolektif dalam kebijakan, program, kegiatan tapak K/L, Pemda, para pihak lain menjadi faktor pendorong, penguatan kelembagaan lokal, tradisional dan hybrid tertuang dalam kemampuan self-regulation yang bertanggung jawab dan village governance yang baik, produktivitas ekonomi desa dan rumah tangga perlu berlanjut dengan ragam pilihan alternative sumber ekonomi yang tidak merusak ekosistem gambut, dan riset aksi, inter dan transdisiplin diperlukan menjawab tantangan sosialekonomi- kebudayaan hukum-lingkungan. Riset aksi berjalan bersama pemberdayaan yang efektif.

Rapat koordinasi antara BRG dan Muhammadiyah ini menyimpulkan ada 4 (empat) kegiatan utama yang sefera dijalankan yakni Sosialisasi Restorasi Gambut, Pelatihan Dai Peduli Gambut, Sekolah Lapang Petani Gambut (PLPG) dan Workshop Peningkatan Kapasitas Pendamping Jaringan Tani Muhammadiyah (ddp).

Artikel Terkait

Lihat Selengkapnya

Komentar