#

Yogyakarta—lingkunganmu.com—Muhammadiyah sangat perhatian terhadap pengendalian diri dalam memanfaatkan alam agar fungsinya lestari karena kelestarian alam/lingkungan akan berdampak pada keselamatan dan keberlanjutan kehidupan manusia. Bagi Muhammadiyah, keterlibatan diri dalam gerakan penyelamatan lingkungan merupakan keniscayaan yang harus terus digerakkan. Hal ini sebagai wujud tanggung jawab selaku khalifah di muka bumi (Q.S. Al-Baqarah: 30), gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, dan bagian dari upaya memakmurkan bumi dan alam semesta (Q.S. Hud: 61).

Kesadaran manusia akan keberadaannya sebagai Khalifatullah fil ‘ardh (Al An‘aam: 165) yang mengemban amanah di alam ini dan manjadi bagian alam ini (Teologis-imanensial) menjadi suatu keharusan yang mendasar. Manusia harusnya paham bagaimana selayaknya berhubungan dengan alam agar terjaga hubungan yang harmonis (saling memberi).

Ada tiga bentuk hubungan manusia dengan alam yang seharusnya dijadikan rujukan langkah praktis manusia, yaitu: Pertama, hubungan keimanan dan peribadatan. Alam semesta berfungsi sebagai sarana bagi manusia untuk mengenal kebesaran dan kekuasaan Allah (beriman kepada Allah) melalui alam semesta, karena alam semesta merupakan tanda (ayat) Allah. Manusia dilarang memperhamba alam dan dilarang menyembah kecuali hanya kepada Allah yang Menciptakan alam. Kedua, hubungan pemanfaatan yang berkelanjutan. Alam dengan segala sumberdayanya diciptakan Allah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Dalam memanfaatkan sumberdaya alam guna menunjang kehidupannya ini harus dilakukan secara wajar (tidak boleh berlebihan atau boros-Al ‘Araf 31). Demikian pula tidak diperkenankan pemanfaatan sumberdaya alam yang hanya untuk memenuhi kebutuhan bagi generasi saat ini sementara hak-hak pemanfaatan bagi generasi mendatang terabaikan dan ketiga, hubungan pemeliharaan untuk semua makhluk. Manusia mempunyai kewajiban untuk memelihara alam untuk keberlanjutan kehidupan, tidak hanya bagi manusia saja akan tetapi bagi semua makhluk hidup lainnya. Tindakan manusia dalam pemanfaatan sumberdaya alam secara berlebihan dan mengabaikan asas pemeliharaan dan konservasi sehingga mengakibatkan terjadinya degradasi dan kerusakan lingkungan, merupakan perbuatan yang dilarang (haram) dan akan mendapatkan hukuman (baca Teologi Lingkungan, MLH PPM).

Muhammadiyah telah mengawali gerakan kepedulian terhadap lingkungan dengan dibentuknya Lembaga Studi dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (LSPLH) dan ditegaskan secara formal dalam Keputusan Muktamar ke-45 dengan dibentuknya Lembaga Lingkungan Hidup (LLH) yang dideklarasikan pada tanggal 15 Desember 2005 di Yogyakarta. Selanjutnya, untuk lebih mempertegas partispasi aktif Muhammadiyah dalam upaya Penyelematan dan Pengelolaan Lingkungan dan menjadi suatu gerakan yang masif maka pada Muktamar ke-46 di Yogyakarta dirubah menjadi Majelis Lingkungan Hidup (MLH). Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makasar mengamanahkan partisipasi aktif kepada seluruh komponen Muhammadiyah dalam penanganan isu-isu Strategis Keumatan (hidup bersih dan sehat), Kebangsaan (kekurangan dan kelebihan air) dan Kemanusiaan Universal (perubahan iklim).

Berbagai program telah disusun dan dilaksanakan oleh MLH PP Muhammadiyah sesuai amanah di atas, baik yang sifatnya konseptual maupun praksis. Pada tingkatan konseptual telah disusun berupa buku-buku baik filosofis maupun praktis, diskusi lingkungan dan advokasi. Untuk program praksisnya telah dikembangkan aksi-aksi nyata, antara lain pembangunan Kawasan Penyejuk Bumi (KPB), Sekolah/Kampus Sejuk (Green School/Campus), Shadaqah Sampah dan kampanye lingkungan.

Pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) tahun 2016 di Yogyakarta, MLH PP Muhammadiyah telah Menegaskan dan Menguatkan Program Utamanya, yaitu Pendidikan Lingkungan, yang dikemas dalam suatu langkah komprehensif “Gerakan Muhammadiyah Menyejukkan Bumi”. Program ini perlu ditegaskan kembali, mengingat kerusakan lingkungan yang eskalasinya semakin meningkat hanya dapat dihambat atau bahkan dihentikan melalui Pendidikan. Indikator keberhasilan dalam implementasi program ini, yakni Terjadinya Perubahan Pola Pikir Manusia terhadap Lingkungan yang diujudkan dengan Perubahan Perilaku yang Ramah Lingkungan

Berdasarkan hal di atas, diharapkan Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) MLH Regional Sumatera yang akan berlangsung pada 13-15 Desember 2019 di STKIP Muhammadiyah Bangka Belitung dapat dijadikan ajang konsolidasi organisasi dan sosialisasi Program Kerja MLH PP Muhammadiyah, Sinkronisasi dan Pengembangan Program Kerja MLH pada semua level infrastrukturnya. Kami berharap melalui program-program tersebut dapat semakin masif “Gerakan Muhammadiyah Menyejukkan Bumi” dari tingkat pusat hingga cabang dan ranting. Oleh karena itu, dalam Rakorwil ini pula diharapkan dapat digali dan dieksplorasi problematika lingkungan spesifik wilayah/daerah dan berkembangnya program-program spesifik dari MLH PWM/PDM, khususnya di wilayah/kawasan Sumatera (ddp).

Artikel Terkait

Lihat Selengkapnya

Komentar

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018