#

Sleman—lingkunganmu.com Anggota Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PP Muhammadiyah, Ahmad Sarwadi menegaskan bahwa "Kami mendorong pemerintah dan seluruh jajarannya untuk berani menyatakan krisis hidro-meteorologis yang saat ini merupakan permasalahan serius, dan sudah dalam kondisi darurat. Karena itu perlu tindakan penyelesaian darurat dengan melibatkan semua pemangku kepentingan," tegas  Dosen UGM dalam acara “Refleksi Akhir Tahun & Pernyataan Sikap Bencana Ligkungan Hidup di Indonesia” yang digelar MLH PP Muhammadiyah di Universitas  Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Sabtu (22 Desemer 2018).

Sarwadi mencatat bahwa Selama tahun 2018 terdapat beberapa bencana alam besar yang terkait dengan permasalahan lingkungan,antara lain: Gempa di Lombok menyebabkan 71.962 unit rumah rusak, 671 fasilitas pendidikan rusak, 52 unit fasilitas kesehatan, 128 unit fasilitas peribadatan dan sarana infrastruktur dan kerugian harta benda dan asset lainnya lebih dari 5,04 triliun rupiah, Gempa di Palu yang dalam waktu bersamaan terjadi liquifaksi  pada lahan permukiman menimbulkan 68.451 unit rumah, 327 unit rumah ibadah, 265 unit sekolah, perkantoran 78 unit, toko 362 unit, jalan 168 titik retak, jembatan 7 unit dan kerugian harta benda dan aset sebesar lebih dari 13,82 triliun Rupiah. Untuk korban jiwa 2.256 orang meninggal dan 1.309 orang hilang, 4.612 orang luka-luka, dan 223.751 orang mengungsi, Letusan Gunung Sinabung yang menyebabkan kerugian harta dan aset lebih dari satu triliun Rupiah dan ribuan warga mengungsi, Banjir dan tanah longsor menjadi peristiwa yang melanda di berbagai wilayah di Indonesia. Sebagai contoh  terdapat 83 insiden bencana banjir dan longsor terjadi di wilayah Jawa Barat selama bulan November 2018, Perubahan iklim merupakan kejadian lingkungan hidup saat ini juga kita hadapi bersama. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap masa tangkap bagi para  nelayan, masa tanam untuk para petani, isu kekeringan dan sebagainya. Berbagai agenda terkait perubahan iklim telah dilakukan oleh pemerintah dan pihak-pihak lain. Pengurangan emisi utamanya green house gases menjadi isu utama terkait perubahan iklim dan pemanasan global, Kebakaran hutan masih menjadi persoalan lingkungan yang juga menonjol ditahun 2018.BMKG pada bulan Agustus menyampaikan ada 11 Provinsi Paling Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia. Dampak kebakaran hutan disamping penyebaran asap yang meyebabkan polusi udara juga menyebakan rusaknya ekosistem hutan, Persoalan penanganan/ pengeloaan sampah dan penurunan muka air tanah juga terjadi di berbagai kota di Indonesia. Sampah masih menjadi materi yang diangkut dan dibuang. Pada umumnya belum diperlakukan untuk di proses menjadi materi yang memberi manfaat. Demikian juga air hujan masih menimbulkan genangan-genangan di berbagai wilayah perkotaan dan belum cukup dimasukkan kembali ke dalam tanah sesuai dengan siklus air.

Muhammadiyah menyadari bahwa bencana yang terjadi adalah akibat dari perbuatan manusia sehingga permasalahan lingkungan bukan semata persoalan teknis. Oleh sebab itu diperlukan langkah pendekatan serba cakup, dimulai dengan merubah cara pandang masyarakat tentang alam lingkungan.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati sepakat bahwa bencana hidro-meterologis kini cenderung meningkat bahkan terjadi perubahan iklim global dan seismisitas. Jejaring dengan Muhammadiyah ini dipandangnya sebagai upaya positif untuk meneruskan informasi. Mengingat, Muhammadiyah memiliki lebih dari 3 juta relawan dan sekitar 2.000 orang diantaranya sudah terlatih."Kami siap mendukung dalam bentuk materi atau training of trainer agar bisa disebarkan. Jika kami bekerja sendiri, hasilnya tidak akan efektif sehingga butuh kepanjangan tangan yang bisa langsung merasuk ke masyarakat," ujar mantan Rektor UGM.

Sementara itu, Dr. Gatot Supangkat,  Sekretaris MLH PP Muhammadiyah, mengatakan bahwa kerusakan yang menimbulkan berbagai becana bisa disebabkan oleh tiga faktor, yaitu pertama adalah pemerintah, kedua adalah pengusaha atau swasta, dan yang ketiga adalah masyarakat. Muhammadiyah dalam hal ini dengan gerakan amar ‘markruf nahi mungkar’ dan landasan ‘watawa saubil haq watawa saubil sabr’ yaitu saling mengingatkan kepada yang benar dengan kesabaran. Maka, Muhammadiyah punya peran untuk mengigatkan akan semua itu baik pemerintah yang dimungkinkan bisa menimbulkan bencana ketika misalnya membuat kesalahan dalam kebijakan itulah awal bencana,” tandas Dosen UMY ini. 

Akar masalah dari semua bencana itu baik yang dilakukan pemerintah, pengusaha ataupun masyarakat adalah pada perilaku yang bermula dari mainset (pola pikir). Untuk itu, yang terpenting adalah bagaimana merubah mainset itu dengan meakukan pendidikan lingkungan. Utk itu setiap akhir tahun MLH PP Muhammadiyah senantiasa menggelar Refleksi Akhir Tahun & Pernyataan Sikap terkait Bencana Lingkungan Hidup di Indonesia. Adapun Pernyataan Sikap Muhammadiyah Tentang Bencana Lingkugan Hidup Di Indonesia adalah sebagai berikut:

  1. Muhammadiyah menyadari bahwa bencana lingkungan yang telah terjadi di tanah air seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan, degradasi lahan, hilangnya keragaman hayati, polusi udara dan air dan bencana-bencana lainnya, adalah akibat dari perilaku dan perbuatan manusia.Perilaku dan perbuatan manusia ini merupakan cerminan dari akhlak pelakunya, sehingga permasalahan lingkungan bukanlah semata-mata permasalahan teknis. Oleh karena itu, penyelesaian permasalahan dan bencana lingkungan yang terjadi di tanah air, tidak mungkin bisa dilakukan hanya dengan pendekatan teknis semata. Diperlukan pendekatan yang serba cakup, dimulai dengan melakukan perubahan cara pandang (mind set) masyarakat tentang alam lingkungannya. Dibutuhkan revolusi moral agar terjadi perubahan sikap, perilaku dan gaya hidup (akhlak) masyarakat. Perubahan sikap dan perilaku ini bukan hanya orang perorang, akan tetapi harus menjadi sebuah gerakan perubahan masyarakat dan seluruh komponen bangsa.
  2. Muhammadiyah berpandangan bahwa upaya penyelamatan dan perlindungan terhadap bencana lingkungan merupakan kewajiban sekaligus tanggungjawab yang harus dipikul bersama seluruh komponen masyarakat dan bangsa, dalam rangka pembangunan masyarakat menuju suatu masyarakat yang berkemajuan, sejahtera lahir dan batindan diridhoi Allah swt. Gerakan penyadaran dan perubahan perilaku masyarakat ini bisa dilakukan melalui dakwahdan pendidikan lingkungan kepada jutaan siswa dan mahasiswa di lembaga pendidikan yang ada di tanah air, serta kepada semua pemangku kepentingan dan seluruh masyarakat. 
  3. Terkait dengan bencana lingkungan yang berupa deforestasi, degradasi lahan dan kebakaran hutan, telahteridentifikasi beberapa penyebab dan akar masalahnya sebagai berikut.Akar masalah secara umum adalah rendahnya moral para pemangku kepentingan dalam pengalolaan hutan serta Tata Kelola Hutan yang tidak bisa dilaksanakan secara efektif di lapangan. Sebab-sebab tidak efektifnya implementasi Tata Kelola Hutan antara lain : a) tata ruang yang masih lemah dan tidak mempunyaiinforcement b) kepemilikan lahan, batas-batas kawasan dan hak guna lahan yang tidak jelas, keberadaan masyarakat adat dan status hutan adat yang belum selesai, c) Unit Manajemen Hutan yang tidak efektif karena sistem dan organisasinya belum terbangun dan kapasitas personelnya masih rendah, d) dasar hukum dan penegakan hukum yang masih lemah serta e) tata pengaturan (governance) yang lemah terutama dalam hal koordinasi inter dan antar lembaga yang terkait, kurangnya transparansi dan partisipasi para pihak, serta tidak adanya kesepakatan pembagian pendapatan dari sektor hutan antara daerah dan pusat.
  4. Salah satu bencana lingkungan yang juga mengancam kehidupan bangsa adalah bencana hidro-meteorologis yang berupa banjir, tanah longsor dan kekeringan. Bencana ini terjadi sebagai akibat langsung dari deforestasi dan degradasi lahan dan dipicu oleh perubahan iklim.Bencana hidro-meteorologis yang telah terjadi di tanah air akhir-akhir ini sudah sampai pada tahap yang serius dan darurat. Muhammadiyah mendorong agar pemerintah dan seluruh jajarannyauntuk berani menyatakan bahwa krisis hidro-meteorologis yang terjadidi Indonesia saat ini merupakan permasalahan yang serius dan telah berada dalam kondisi darurat. Oleh karena itu  memerlukan tindakan penyelamatan dan penyelesaian darurat dan menyeluruh, serta melibatkan seluruh pemangku kepentingan. 
  5. Bencana lingkungan yang juga mengancam kehidupan di muka bumi akhir –akhir ini adalah sampah. Bencana ini terjadi sebagai akibat langsung dari kurangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan gerakan 3R (mengurangi, menggunakan kembali dan mendaur ulang) sampah, baik sampah rumah tangga maupun sampah industri. Muhammadiyah mendorong pemerintah dan seluruh jajarannya untuk berani menyatakan bahwa masalah sampah merupakan permasalahan yang serius dan telah berada dalam kondisi darurat sehingga perlu langkah-langkah penyelesaian darurat dan menyeluruh, serta melibatkan seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat luas.  Muhammadiyah juga mendorong pemerintah Pusat dan Daerah untuk segera membuat regulasi tentang sampah terutama sampah plastik dan turunannya yang ketat dan ditaati oleh semua pemangku kepentingan. (ddp)

Artikel Terkait

Lihat Selengkapnya

Komentar

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018