#

Kulon Progo –lingkunganmu.com—Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) melalui strategi kultural dengan komunitas mampu menjadikan kerja-kerja ekologi menjadi lebih massif dalam melakukan kampanye untuk penyelamatan bumi sebagai bentuk peduli kita terhadap sesama makhluk hidup. Sebuah harapan baru melalui Sekolah Ekologi ini menjadikan IPM Sebagai agen perubahan untuk menjaga lingkungan sehingga bumi tetap terjaga dan tetap lestari.

Sebagai bentuk aksi nyata PP IPM dalam berperan aktif menjawab problematika lingkungan adalah dengan membentuk generasi milenial untuk peduli pada aks-aksi di bidang lingkungan. Kampanye lingkungan merupakan salah satu bentuk aksi nyata IPM menyuarakan atas kerusakan lingkungan bahkan persoalan sampah yang semakin membanyak.

Sekolah Ekologi yang digelar pada 18-20 Oktober 2019 di Kulon Progo DIY diikuti oleh utusan PD dan PW IPM se-Indonesia ini bertujuan untuk menciptakan kader yang peduli terhadap lingkungan hidup, menumbuhukan kepedulian melalui lingkungan hidup, dan memperbanyak agen-agen hijau

Sebagai sebuah negara maritim, Indonesia adalah negeri yang teramat kaya dengan sumber daya. Negeri ini memiliki lahan seluas 199 juta hektar, belum termasuk lautannya yang sangat luas dua kali lipat dari luas daratan. Tanah Indonesia amat subur dan secara alamiah ditumbuhi oleh berbagai jenis tanaman pangan dan kayu beraneka ragam yang sangat berguna bagi umat manusia. Hutan Indonesia sekitar 121,4 juta hektar adalah hutan tropis terbesar di dunia setelah Amazon dan menjadi paru-paru dunia yang penting.

Sekitar 45,034 juta hektar tanah dipergunakan untuk pertanian atau 23,46% dari seluruh daratan. Lainnya dipergunakan untuk pertambangan besar dan padang savana. Bagian terbesar dari lahan pertanian adalah untuk perkebunan 16,5 juta hektar (terus bertambah), sementara untuk persawahan adalah 8,5 juta hektar (terus berkurang). Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat luar biasa, di atas permukaan bumi, di dalam perut bumi dan di dalam lautan yang luas.

Save Our Borneo (SOB), sebuah lembaga peduli lingkungan, menyatakan sekitar 80% kerusakan hutan yang terjadi di Kalimantan disebabkan ekspansi sawit oleh perusahaan besar. berdasarkan prediksi tren 10 tahunan, dari luas Kalimantan yang mencapai 59 juta hektare, laju kerusakan hutan (deforestasi) telah mencapai 864 ribu hektare per tahun atau 2,16%. Provinsi Kalsel, memiliki laju kerusakan yang paling cepat dibanding provinsi lain, meski luasannya relatif kecil. Tercatat seluas 66,3 ribu hektare hutan musnah per tahun dari total luas wilayah hutan sekitar 3 juta hektare.Kondisi hampir serupa terjadi di tiga provinsi lain, dengan luas dan laju yang berbeda. Penyebab utamanya karena pembukaan pertambangan batubara dan perkebunan kelapa sawit. Kalimantan Barat misalnya, dari luas wilayah hutan mencapai 12,8 juta hektare memiliki laju kerusakan mencapai 166 ribu hektare per tahun atau 1,9%.

Dr. Eko Priyo Purnomo, anggota pimpinan MLH PPM menegaskan bahwa Dari beberapa kajian menunjukkan bahwa perubahan iklim memberi dampak terhadap multisektor. Dampak yang terjadi kompleks dan bervariasi terhadap wilayah dan tingkat perubahan iklim. Sedangkan faktor yang mempengaruhi adalah perubahan temperatur regional, curah hujan dan adaptasi.

Sementara itu, Hery Setyawan yang juga menjabat Ketua MLH Kota Yogyakarta ini dalam kesempatan menguraikan bahwa “Pada umumnya peningkatan suhu akan mempengaruhi kondisi pertanian di wilayah lintang tengah, pemanasan beberapa derajat Celcius akan memberikan dampak yang signifikan bagi sektor pertanian (penurunan produktivitas pertanian). Peningkatan temperatur akan menyebabkan pergeseran musim dan mengubah pola musim tanam di beberapa daerah, petani di daerah tadah hujan akan mengubah pola panen atau membiarkan lahan mereka jika curah hujan regional dan limpasan berkurang atau bertambah, di beberapa wilayah, berkurangnya produktivitas lahan akan memaksa petani untuk membuka lahan pertanian baru di tempat lain”.

Untuk itulah, manusia sebagai pelaku utama terjadinya perubahan iklim bumi, harus bertanggungjawab dalam upaya menanggulangi pemanasan global. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak pemanasan global ini, seperti: Pendidikan karakter dengan GERAKAN GENERASI CINTA LINGKUNGAN, Pengelolaan sampah dengan GERAKAN SHODAQOH SAMPAH (SEKOLAH SEDEKAH SAMPAH), Pengelolaan air dengan GERAKAN MEMANEN AIR HUJAN, Pengelolaan lingkungan sungai dengan SEKOLAH SUNGAI MUHAMMADIYAH, Pengelolaan Pesantren, Masjid, dan Sekolah dengan GERAKAN ECO PESANTREN, ECO MASJID & GREEN SCHOOL, Pengelolaan Hutan Pendidikan & Pusat Keanekaragaman Hayati, Sekolah Tangguh Bencana & Lingkungan, Kuliah Kerja Nyata Tematik Lingkungan Hidup, Pengawalan/Jihad KONSTITUSI melalui UU SDA, Mengembangkan Audit Lingkungan Mandiri Muhammadiyah (ALiMM), Pelatihan Kader Lingkungan Hidup, Penghijauan & Penanaman Pohon Produktif, Pembuatan Sumur Resapan, Kampanye Lingkungan Hidup (ddp).

Artikel Terkait

Lihat Selengkapnya

Komentar

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018